Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 63 - Benar-Benar Bertemu


__ADS_3

"Apa? Tapi kenapa bisa? Anda yang memecatnya?"


Baru saja Renaga tersenyum kala Dito menghubunginya. Namun, wajah pria itu mendadak datar kala mendengar kabar bahwa arsitek yang ingin sekali dia temui justru mengundurkan diri. Padahal, pria itu bahkan sudah menyiapkan hadiah sebagai ungkapan terima kasihnya.


Langkahnya bahkan sejenak terhenti. Kesabarannya menunggu selama satu minggu terakhir seakan sia-sia. Belum pernah bertemu, tapi Renaga sangat ingin menemuinya sejak pertama kali melihat hasil karyanya.


"Maaf, Pak ... apa boleh saya tahu alamatnya?" tanya Renaga sebagai usaha yang terakhir kali.


"Mohon maaf sekali, Pak, kami tidak bisa memberikan informasi yang bersifat privasi."


Lengkap sudah, Renaga mengusap wajahnya kasar dan mendadak bingung sendiri. Hendak dia kemanakan miniatur kapal yang dia beli dengan harga cukup mahal ini. Untuk Zavia? Istrinya tidak suka hal semacam itu.


"Hei, Brother!!"


Sok inggris, Renaga menoleh dan menyadari kehadiran anak kecil berkacamata hitam dan sepatu yang kotor luar biasa tampak menghampirinya dengan langkah cepat. Matanya memang sama sekali tidak terlihat, tapi Renaga sangat tahu kemana arah bocah itu menatap.


"Hudzai? Kau sedang apa?"


"Berkebun, Kak."


"Hah? Ke-kebun? Kebun dimana?"


Renaga bingung? Tentu saja, perumahan mereka berada di pusat kota walau memang suasananya tidak sepadat itu. Akan tetapi, dimana Renaga bisa melihat kebun di sini? Apa mungkin Renaga yang tidak tahu jika keluarga istrinya memiliki kebun.


"Di belakang," jawab Hudzaifah seraya menunjuk ke belakang.


Selang beberapa lama, Mikhail muncul dengan penampilan sama kotornya. Entah apa yang mereka lakukan hingga bisa seperti itu. Mikhail yang terlihat lelah membawa cangkul di pundaknya.


"Opa? Dari mana?"


"Ah, Tanam pisang ... Mumpung musim hujan, Opa tidak punya kegiatan," ucap Mikhail kemudian mendekati kedua cucunya.


Hanya tanam pisang, tapi tanahnya sampai mengotori perut dan kepala. Sungguh, Renaga tidak habis pikir bagaimana cara pria ini menanamnya.


"Jangan terlalu lelah, Opa ... kan bisa minta tolong Aga," tutur Renaga baik-baik, sama sekali bukan bermaksud mencuri hati Mikhail. Namun, memang dia kasihan melihat pria yang sudah lanjut usia itu.


"Nanti saja, Opa sudah pesan bibit nangka, kamu tolong tanam ya."


Renaga terpaksa mengangguk, niat hati hanya basa-basi, tapi yang terjadi justru berbeda. Selang beberapa lama, perhatian anak kecil yang kini berada di hadapan Renaga justru terfokus pada sesuatu yang ada di tangan Zean.


"Kak Aga itu apa? Kapal nabi Nuh ya?"


Renaga sontak terbahak, pertanyaan Hudzaifah membuatnya sedikit tergelitik. Dia yang sebelumnya bingung hendak dikemanakan hadiah untuk sang arsitek tersebut, tanpa pikir panjang segera menawarkannya untuk Hudzai.


"Kamu mau?"

__ADS_1


"Boleh kalau Kakak memaksa," jawab putra Zean tanpa merebutnya dari tangan Renaga.


"Hahaha lucu sekali, ini ambil."


"Tanganku kotor, Kak ... Opa tolong pegangin ya," pintanya lembut dan menatap tangan Mikhail yang memang tidak sekotor tangannya.


Mereka berlalu meninggalkan Renaga yang masih tampak muram. Keinginannya yang tidak tercapai membuat pria itu sedikit kecewa hari ini. "Aku pasti sudah gila."


.


.


Hingga menjelang malam Renaga bingung sendiri, secepat mungkin dia menggelengkan kepala sebelum kemudian melirik pergelangan tangannnya. Hampir jam sepuluh, ini adalah waktu untuk menjemput sang istri.


Renaga berlalu cepat dan meraih jaket yang biasa dia gunakan. Jika dalam perjalanan sendirian, Renaga biasa melaju dengan kecepatan tinggi demi segera tiba di tujuan.


"Ramai sekali, kenapa rumah sakit masih menjadi tempat favorit banyak orang."


Dia menghela napas panjang, kalimatnya seakan terdengar becanda, tapi hati Renaga tengah lirih mengatakannya. Sejak kecil dia tidak begitu suka dengan tempat ini, hatinya masih sesakit itu.


Vanya, ibu kandung yang merawat Renaga bermodalkan kasih sayang berakhir di rumah sakit. Hal itu mungkin alasan dia tidak terlalu betah, tapi takdir justru membuat Renaga selalu berada di rumah sakit sejak sebelum menikah.


"Ck, kemana dia?"


Tidak biasanya Zavia belum muncul jam segini, apa mungkin belum selesai, pikir Renaga kemudian. Namun, belum sempat Renaga menghubungi Zavia, mata pria itu tertuju pada seseorang yang dia kenal tampak terburu dari jarak yang tidak begitu jauh darinya.


.


.


Mata Renaga tidak mungkin salah, pria dengan hodie hitam dan topi yang sedikit menutupi wajahnya itu adalah Fabian.


"Fabian!!" teriak Renaga cukup untuk membuat sang pemilik nama menoleh seketika, terkejut sekaligus panik tentu saja.


"Kak?"


"Kemari," titah Renaga yang kemudian segera Fabian turuti tanpa membuang waktu lama.


"Sedang apa kau di sini? Siapa yang sakit?"


"Temanku," jawab Fabian segera mengatupkan bibirnya, hampir saja dia membocorkan rahasia yang sudah dia sepakati bersama itu.


"Teman?"


"Iya, aku masuk dulu, Kak ... khawatir dia terlalu lama menunggu."

__ADS_1


Renaga mengangguk pelan, dia mengizinkan Fabian belalu segera. Namun, nalurinya justru berontak kala Fabian benar-benar menghilang dari pandangannya. Pelan, tapi pasti Renaga mengikuti kemana Fabian pergi.


Dia bahkan melupakan tujuan awalnya datang ke rumah sakit untuk apa. Hingga, Renaga sejenak menjaga jarak kala Fabian berbelok ke sebuah ruang rawat VIP di sana.


"Siapa yang sakit? Om Zayyan sehat-sehat saja setahuku."


"Itulah kenapa Om selalu memberikan apa yang dia mau, Giska tumbuh dengan banyak keinginan ... selain itu, dia juga sangat pandai berbohong. Satu bulan terakhir, yang Om lihat dia berusaha keras demi memperlihatkan jika dia baik-baik saja, dan om tertipu, Bian."


"Om Keny?"


Renaga mengerutkan dahi, bermodalkan celah sempit dari pintu yang tidak tertutup sempurna karena dia tahan, Renaga bisa mendengar dengan jelas pembicaraan orang-orang di dalam. Sungguh, dia yakin sekali seseorang yang bicara beberapa saat lalu adalah Keny.


"Dia selalu berhasil membaik selama ini, tapi entah kenapa Giska-ku sedikit berbeda kali ini?"


Deg


Jantung Renaga semakin tak karu-karuan begitu mendengar dengan jelas nama itu. Lututnya mendadak lemas seakan tidak bertenaga saat ini, Giska sakit dan dia sama sekali tidak tahu. Lebih menyebalkannya lagi, Fabian tidak mengatakan padahal sudah bertemu dengannya di depan.


"Giska?"


Amarah berpadu dengan kekhawatiran membuat Renaga kembali hilang akal. Tanpa pikir panjang dia menendang kasar pintu itu seraya berteriak memanggil nama Fabian hingga membuat perhatian siapapun yang ada di ruangan itu terkejut tentu saja.


"Kak?"


"Kalian gila? Kalian anggap aku apa sebenarnya?!!" bentak Renaga tidak peduli sekalipun ada Keny di sana.


Matanya memanas, tangannya terkepal dan rahang Renaga kini mengeras, Terlebih lagi kala dia menyadari bahwa Zavia juga berada di sana. Dada Renaga naik turun, susah payah dia mengatur napas dengan kepala yang sedikit sakit lantaran menahan amarahnya.


"Zavia!! Kena_ aaarrggh kalian berdua benar-benar menyebalkan!!"


"Kak, pelankan suaramu!! Giska tidur, bisa lihat tidak?!"


Fabian tidak mau ikut campur, sejak awal sudah dia katakan pada Giska bahwa semua jelas akan mengetahui hal ini. Namun, Giska yang keras kepala meminta untuk diam tanpa perlu bebricara pada siapapun.


"Apa kita sejauh itu sampai kalian hanya memilih bertiga? Aku juga sahabat kalian, 'kan?"


"Sahabat? Kita berempat sudah berakhir sejak tujuh tahun lalu, Renaga ... tolong sadar diri sedikit," sahut Fabian tanpa sedikitpun menatap ke arah Renaga, secepat itu suasana hati Fabian berubah dan seolah menatap Renaga dengan tatapan permusuhan.


"Fabian!!"


"Aku katakan berhenti berteriak!! Keluar jika kau hanya membuat Giska semakin memburuk!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2