
"Apa aku tolak saja ya ... Giska benar, aku memang terlalu munafik."
Susah payah Renaga meluluhkan hatinya, Zavia tetap berada di titik keraguan hingga dia berpikir memiliki Renaga hanya akan mencari sebuah bencana. Melihat kemarahan Giska hari itu, dia mengerti betapa besar perasaan Giska pada Renaga.
Meski Renaga sudah memintanya untuk egois, tapi entah kenapa Zavia seakan tidak mampu. Bukan hal mudah melupakan seseorang, terlebih lagi andai nanti Renaga benar-benar bahagia bersamanya. Sungguh, akan sejahat apa Zavia nanti andai Giska tetap terlunta-lunta.
Zavia menghela napas panjang, dia menatap jauh ke luar jendela yang menampakkan hiruk pikuk ibu kota di malam hari. Seolah ada yang dia tungggu, bukan orangtua ataupun Renaga sama sekali, bukan.
Sudah sepuluh menit dia sendirian, tenggelam bersama pikiran yang membawanya terbang ke masa lalu. Sementara Renaga pamit pulang sebentar, Zavia memang meminta waktu sendirian.
Air matanya menetes tanpa diminta, sesakit itu kehilangan sahabat sebenarnya. Jika biasanya Giska adalah yang paling peduli bahkan sampai tidak mandi demi menjaganya di rumah sakit, kali ini berbeda.
"Kamu kapan sih jenguk aku, besok aku pulang, Giska."
Dia bermonolog seraya tersenyum getir di sana. Mata Zavia masih terfokus menatap ke bawah sana, sekalipun tidak jelas dia sangat berharap bisa menemukan Giska datang dengan helm andalannya.
Tangis Zavia terhenti seketika kala dia merasakan tangan yang melingkar di tubuhnya. Bukan Renaga, karena dagu Renaga tidak akan sependek ini. Fabian juga mana mungkin berani lancang memeluknya dari belakang.
"Giska?!"
Zavia menoleh, tangisnya kembali pecah begitu menatap wajah sembab Giska yang juga susah payah menahan tangisnya. Tidak salah dia datang malam ini, sesuai prediksinya tidak ada Renaga seperti malam sebelumnya.
"Kamu kemana saja, Giska? Tidur dimana? Ini juga baju siapa?" tanya Zavia beruntut melihat Giska yang justru mengenakan kaos hitam oversize dan jaket kulit yang dia yakini bukan miliknya.
"Tidak sekalian ditanya tidurnya sama siapa, Zavia?"
Pertanyaan Giska disertai gelak tawa sontak membuat Zavia memukul pundaknya. Sejak tadi Zavia dibuat uring-uringan dengan kepergian Giska, kini dia yang kembali justru melontarkan sebuah kalimat yang sedikit membuat emosi Zavia menguak keluar.
"Aku serius, Giska ... jangan becanda mulu."
"Hm aku tidak kemana-mana, cuma butuh ketenangan sedikit saja. Kepalaku sakit, Zav ... aku juga merasa bersalah, kamu hampir mati karena aku," tutur Giska seraya menarik Zavia agar kembali naik ke tempat tidur.
__ADS_1
Ucapan Giska nyata, tulus apa adanya dan dia memang ingin menemui Zavia sejak lama lantaran merasa bersalah. Hanya saja, tatapan orang-orang di sekeliling Zavia membuat Giska memilih mundur untuk sementara.
"Maaf ya, aku terlalu kekanak-kanakan. Aku lupa kalau kamu tidak bisa menyebrang, Zavia."
"Shut, kamu tidak salah ... sedari awal memang aku sudah salah. Benar kata kamu bahwa aku munafik, aku bahkan tidak paham bagaimana mauku, Giska."
Ini adalah pembicaraan serius mereka yang ketiga kalinya selama tujuh tahun berlalu. Biasanya, mereka hanya akan bersuara dan membahas hal yang sama sekali tidak penting, entah apa itu.
Giska menggeleng pelan, tidak ada yang salah sebenarnya. Tuhan yang memberikan mereka rasa itu, keduanya adalah korban. Entah sakit ataupun bahagia, yang jelas keberuntungan hanya milik salah satunya.
"Ucapanku kemarin keterlaluan, aku yang tidak tahu diri, Zavia ... padahal Fabian sudah menegaskan berkali-kali kak Aga sukanya sama kamu, bukan aku."
Keduanya sama-sama berpikir dewasa, entah otak siapa yang terbentur hingga bisa berbicara setenang ini. Zavia lagi-lagi mencebik seperti hendak menangis, sementara Giska hanya berusaha mengenggam tangan Zavia sebagai ungkapan maafnya.
"Kamu kenapa nangis mulu, aku sudah jenguk, Zavia ... tapi maaf, aku tidak bawa apapun, aku tidak sempat beli buahnya, lain kali saja ya."
Zavia sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Dia tengah menangis karena Giska kini berada di hadapannya, jika hanya tentang buah di kamarnya sudah banyak bahkan bingung hendak menghabiskannya bagaimana.
"Aku bahagia kamu datang, dari kemarin-kemarin aku tunggu ... nyebelin sumpah."
Giska lagi-lagi berbohong perkara alasannya, mana mungkin dia katakan jika penyebab dia tidak jadi masuk adalah keberadaan Renaga malam itu. Mereka terlihat baik-baik saja, pertengkaran kemarin seakan lewat begitu saja.
"Mana mungkin aku marah, Giska."
.
.
Tampaknya semesta merestui pertemuan mereka, Giska dan Zavia membahas begitu banyak hal. Hingga pada akhirnya, Giska memberanikan diri untuk bertanya sekalipun sadar dia tengah merobek paksa luka yang memang sudah menganga.
"Pernikahan kalian bagaimana? Apa terpaksa ditunda, Zav?"
__ADS_1
"Giska kok tanya itu, yang lain saja."
Zavia tidak ingin kembali melukainya, dia juga tengah diambang kebimbangan dengan rencana pernikahan yang dia sendiri tidak mengerti sudah sejauh mana.
"Tidak apa-apa, dulu mamaku pernah bilang ... titik paling sakit itu ditinggal sahabat menikah. Ternyata benar, aku sakit sekali, Via."
Sakit yang Giska rasakan bukan hanya karena sahabatnya akan menikah, melainkan pria yang akan menikahinya. Zavia tersenyum getir menatap Giska, secepat mungkin dia menggenggam jemari Giska.
"Aku akan pikirkan lagi, Giska ... aku rasa akan lebih baik jika pernikahan itu tidak terjadi sama sekali. Setidaknya, di antara kita tidak akan terlalu sakit setelah ini," ucap Zavia menatap nanar tanpa arah dan membuat Giska mendongak seketika.
"Tidak, Zavia!! Kamu jangan gila, jangan lihat aku dan jangan lihat siapapun. Sekalipun kak Aga tidak bersamamu juga percuma, sampai akhir kak Aga tidak akan bersamaku ... jadi berhenti berpikir bodoh, aku hanya menjadi penghalang untuk kalian."
"Giska kenap_"
"Sudah diam, kita sama-sama menyayangi Renaga ... Fabian bilang, jika kita menyayangi seseorang maka lakukan apapun yang sekiranya dia bahagia. Kak Aga akan sangat bahagia jika bersamamu dan aku dengan senang hati melepasnya." Giska menghela napas sebelum kemudian meneruskan kalimatnya.
"Sejak kecil Kak Aga banyak berjuang untuk kita bertiga, tidak ada salahnya kita membalas budi ketika dewasa," lanjut Giska entah kenapa membuat dada Zavia bak dihantam bongkahan batu besar, pilu dan dia kembali ingin menangis setelah mendengar ucapan Giska.
Keduanya terdiam sesaat, mata sudah sama-sama merah. Mereka tidak sadar jika yang menangis adalah keduanya. "Giska, boleh aku minta satu hal?" tanya Zavia menatapnya lekat-lekat.
"Apa? Jangan hadiah mahal ... kamu tahu sendiri di antara kita aku paling miskin, 'kan? Minta Fabian saja nanti," ungkap Giska sedikit bercanda dan hal itu hanya membuat Zavia terbahak, sejak dahulu Giska kerap kali menyebutnya miskin padahal harta mereka tidak jauh berbeda.
"Setelah ini jangan asing ya, kita masih sahabatan seperti dulu, 'kan?" tanya Zavia dengan netra tajam penuh pengharapan hubungan mereka akan tetap baik-baik saja.
"Tentu saja, tidak akan ada yang berubah ... terima kasih sudah melakukan banyak hal untukku, jadilah Zavia yang bahagia, Okay!" seru Giska seraya mengangkat jari kelingkingnya.
"Kamu juga, ini janji ya, Giska."
"Siapa takut, aku janji."
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -