
"Belum, bukan berarti tidak mau," gumam Zavia pelan bahkan hampir berbisik, tapi dia lupa jika yang di hadapannya ini adalah Renaga bukan makhluk tuli seperti Fabian.
Tanpa aba-aba, pria itu kembali memeluknya seperti malam itu. Tidak ada penolakan dari Zavia kali ini, Renaga bisa sejenak berpuas diri tanpa khawatir seseorang menghentikan dirinya.
"Pulanglah, terima kasih pengakuannya hari ini ... walau aku tahu bukan berarti bisa mendapatkanmu, tapi setidaknya kesetiaanku selama tujuh tahun tidak bertepuk sebelah tangan."
Zavia meneguk salivanya pahit, seharusnya dia bahagia mendengar ucapan Renaga. Akan tetapi, entah kenapa dia justru semakin merasa tengah mengasah belati yang akan dia sayatkan di hati Giska dengan tangannya sendiri.
Ragu, tapi dengan tangan bergetarnya Zavia memberanikan diri membalas pelukan pria itu. Dirinya serba salah, dan seakan tengah melakukan dosa besar rasanya.
Keduanya seakan menuntaskan rindu yang kemarin tertutup debu, tidak bisa dipungkiri peluknya memang senyaman itu. Sampai keduanya baru menyadari jika sepasang mata tengah menjadi saksi atas pertemuan mereka.
"Oh My ... Astaga!! Kak Aga!! What are doing here?"
Suara siapa itu? Zavia yang sejak tadi sudah dicekam rasa takut kini benar-benar panik. Secepat mungkin dia melepaskan diri dari Renaga, lebih bahaya dari Azkara dan bisa jadi apa kejadian ini terdengar sampai ke seluruh anggota keluarga.
"Gracia?"
"Kalian berdua? Bisa-bisanya di kamar pelukan dan di sini tidak ada siapa-siapa?"
Dia berkacak pinggang dan menatap Renaga penuh curiga. Rambut Renaga yang acak-acakan dan mata Zavia yang sembab membuatnya berpikir macam-macam.
"Aku tahu isi otakmu, tapi ini tidak seperti yang kamu bayangkan ... percayalah."
"It's okay ... lanjutkan, aku tidak melihat apa-apa."
"Aku bilang tidak, Cia!!"
__ADS_1
"Santai saja. Tidak perlu malu ... lagipula sama adik sendiri, Daddy sama Mommy juga begitu kemarin."
"Gracia!! Kau ingin mati di tanganku, Hah?!!"
Belum sempat Renaga mengejarnya, Gracia sudah menghilang secepatnya. Zavia yang khawatir jika akan terjadi apa-apa setelah ini hanya menatap Renaga dengan penuh tanya.
"Kenapa wajahmu begitu?"
"Kalau Cia sampai mengatakan sesuatu pada Azkara bagaimana? Aku bisa habis diamuk Mama."
"Santai saja, kita tidak sedang berbuat zina," jawab Renaga santai seraya merapikan rambutnya, selagi dia tidak salah maka kenapa harus merasa takut.
"Ya memang, tapi kan."
"Biarkan saja, aku akan melindungimu jika Tante Mikha sampai marah."
Renaga memintanya pulang beberapa saat lalu, tapi pada akhirnya dia sendiri yang turun tangan. Meski beberapa saat lalu bahkan sudah saling mengungkapkan, bahkan Renaga terang-terangan melamarnya, tapi Zavia tetap murung pada akhirnya.
Sepanjang perjalanan, dia memandang jauh ke luar. Renaga memantaunya melalui ekor mata, dia paham mungkin Zavia lagi-lagi merasa bersalah. Bahkan, hingga tiba di depan rumah sakit Zavia tidak segera turun dan masih diam di tempatnya.
"Masih ingin bersamaku?"
Astaghfirullah
Lagi dan lagi Zavia dibuat terkejut lantaran wajah Renaga sudah sedekat itu. Jika dikatakan menyesal atau tidak sudah mengaku, sepertinya iya walau sedikit. Pengakuan Zavia membuat Renaga seakan mengklaim dirinya sebagai pemilik Zavia, padahal belum sama sekali.
"Sudah sampai, apa perlu kuantar ke dalam?"
__ADS_1
"Tidak, Kak ... a-aku bisa sendiri."
Dia yang gugup sampai lupa cara melepas seat belt hingga Zavia butuh sedikit usaha. Renaga hanya memantaunya, tanpa sedikitpun niat untuk membantu wanita itu hingga umpatan kecil itu keluar dari bibir Zavia.
"Pasti karatan, mobilnya tidak pernah diperhatikan atau bagaimana."
"Sabar, apa-apa tu harus sabar ... urusan begini kamu bisa marah, kenapa untuk hal lain selalu mengalah?"
"Apa hubungannya, ini memang mobil Kakak yang aneh ... pakai acara nyangkut begini," omelnya kemudian kala Renaga masih mencoba membukanya, memang sedikit sulit dan tidak salah jika Zavia berontak siang ini.
"Karena kamu yang tidak sabar."
"Kenapa jadi aku yang salah? Mobilnya lah."
Mendengar jawaban Zavia, pria itu hanya tertawa sumbang hingga tanpa sadar mengacak rambut Zavia sekilas, spontan saja dan itu sama sekali tidak dia rencanakan.
Renaga menemukan Zavianya yang dahulu. Banyak bicara, cerewet dan bibirnya yang maju beberapa centi itu. Dia merindukan semua itu, sayangnya Zavia hanya sesekali saja bersikap seperti itu padanya.
"Tetaplah begini, Zavia ... aku sangat merindukan Zavia yang begini."
Zavia tidak berubah sebenarnya, bahkan Renaga melihat sendiri bagaimana interaksi wanita itu bersama Fabian. Sejak dahulu memang sangat berbeda dibandingkan jika sedang bersamanya, Renaga merasa Zavia tidak adil saja.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1