Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 67 - Sepotong Hati


__ADS_3

Satu hal yang Fabian lupa, dia tidak akan bisa menjadi pahlawan untuk Giska. Golongan darah mereka bahkan berbeda, begitu juga dengan jaringan organnya. Sempat putus asa, Keny sudah pasrah sembari menunggu kabar dari Evan dan juga Justin.


Namun, tampaknya Tuhan memang masih baik pada Keny. Pencipta tidak egois dan tidak merenggut Giska dengan cara itu dengan mengirimkan seseorang yang lain untuk Giska di saat mereka tengah dalam keadaan kacaunya.


Betapa leganya Keny kala mendengar operasi pencangkokan hati putrinya dinyatakan berhasil. Sepotong hati asing yang akan menyatu dan menciptakan kehidupan lebih baik telah bersemayam di sana.


Tidak hanya Keny yang khawatir, Evan dan Justin juga sama cemasnya. Bahkan, Evan sampai mengabaikan pekerjaannya demi Giska. Sempat marah juga pada Keny, sama halnya seperti Renaga dia juga merasa tidak dihargai layaknya keluarga.


Padahal, sejak masih muda ketiganya bahkan sudah mengatakan bahwa hubungan mereka tidak hanya sebatas teman, melainkan saudara. Setelah beberapa waktu lalu Zavia yang menjadi pusat perhatian, kini berganti Giska.


Hingga beberapa hari pasca operasi, mata Giska yang kini kembali melihat dunia dengan jelasnya perlahan mulai tersenyum dengan kasih sayang yang dari orang-orang terdekatnya. Hari ini terbukti jika dia tidak sendiri, ada banyak sekali yang peduli padanya.


Namun, sayang sekali senyum itu tidak benar-benar berbinar kala dia menyadari seseorang yang merupakan bagian hidupnya tak kunjung datang. Hingga dua minggu berlalu, setiap kali dia melihat seseorang yang masuk, tetap saja bukan Zavia.


Zavia, dia tidak ada di sini sejak pertama kali Giska membuka mata. Entah apa sebabnya, apa mungkin dia ingin berpura-pura jika memang tidak tahu seperti yang Giska inginkan? Mungkin saja.


Di sisi tempat tidurnya kini hanya menyisakan Keny yang sangat sabar menunggunya. Mata lelah sang papa membuat batin Giska tergores sesungguhnya, dia benar-benar membuat darah Keny seakan tumpah.


"Papa sendirian ya?"


"Iya, Mama baru saja pulang ... Bian juga, kamu tidurlah," tutur Keny mengusap pelan jemarinya.


"Zavia mana, Pa? Apa memang tidak ke sini?"


"Kata Evan dia tidak enak badan, jadi harus istirahat di rumah ... sudah kamu tidurlah, cepat sehat supaya kita bisa pulang."


"Pulang? Aku benar-benar akan sehat, Pa?" tanya Giska menatap manik Keny penuh makna.


"Iya dong, kamu akan sehat seperti dahulu, bahkan lebih dari itu."


"Siapa yang baik hati, Pa? Papa pasti mengeluarkan banyak uang untuk bayar pendonornya, 'kan?" tanya Giska yang memang tampak benar-benar bahagia dengan kesempatan kedua yang Tuhan berikan.


"Tidak, Sayang ... hati itu diambil dari seseorang yang sudah meninggal," jawab Keny yang kemudian mengerjap pelan.


"Meninggal?"


"Hm? I-iya, orangnya sudah meninggal."


Dia hanya ingin mengucapkan terima kasih, tapi kala mendengar ucapan sang papa jiwa Giska seketika terguncang. Dia yang memang penakut dengan hal semacam itu, terutama mayat jelas saja mendadak pucat.


"Kamu kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Nanti kalau rohnya minta hati ini kembali gimana?" tanya Giska polos dan hal itu sontak membuat Keny terbahak, ada-ada saja putrinya ini.


"Ya tidak, Sayang ... seseorang yang sudah mati mana mungkin mengusik makhluk bumi."


"Tapi di film-film begitu, Pa, aku takut, lihat buluku berdiri semua," ucap Giska memperlihatkan tangannya, memang benar dia merinding dan takutnya luar biasa.


"Hadeuh ... tidak ada yang begitu, jangan berlebihan, tidur sana."


Otaknya yang sejak tadi memikirkan Zavia, mendadak tergantikan dan berpikir jauh tentang pemilik hati ini. Apa mungkin kuburannya masih basah?Meninggal karena apa? Siapa orangnya? Bagaimana keluarganya? Dan hal-hal semacam itu bertebaran dalam pikiran Giska yang membuat wanita itu jelas saja sulit untuk terlelap.


.


.


Jauh dari jangkauan Giska, saat ini seseorang yang dia rindukan memang tidak enak badan seperti kata Keny. Akan tetapi Zavia tidak separah itu, wanita itu hanya mengalami mual sepanjang waktu hingga akhirnya lemas.


Untuk sementara mereka mengungsi di kediaman Justin lantaran khawatir Mikhail jantungan. Kebohongan beruntun yang seakan didukung orang tuanya benar-benar terjadi serapi itu, Mikhayla tidak mengatakan yang sesungguhnya tentang Zavia di hari pemeriksaan.


"Sayang, apa kita tidak berdosa?" tanya Renaga ragu lantaran merasa durhaka pada Mikhail.


"Terpaksa, kata Mama berbohong demi kebaikan itu tidak mengapa."


Zavia menjawab santai tanpa melepaskan Renaga dari pelukannya. Salah satu cara untuk meredam mual memang hanya dengan cara ini, aroma tubuh sang suami adalah obatnya. Padahal, Renaga sudah empat hari tidak mandi.


"Kamu siap diamuk Opa? Sampai benar-benar disunat bagaimana?" tanya Zavia menarik sudut bibir dan hal itu berhasil membuat Renaga memerah.


"Jangan sampai lah, tapi aku rasa lebih baik hadapi saja."


"Nanti, ada waktunya ... aku khawatir Opa marah besar, terkadang dia tidak semanis itu kalau sudah marah," ucap Zavia mendramatisir keadaan padahal Mikhail sama sekali tidak semenakutkan itu.


Dia hanya ingin menjaga hati, sekaligus melindungi kesehatan Mikhail. Jika pria itu melihat keadaannya yang lemas begini karena hamil, jelas sang suami yang akan kena batunya nanti.


"Benar begitu?"


"Hm, dulu pas mama masih muda ... papa sampai panjat pagar karena dipisahin sama mama, opa serem deh kalau sudah marah, lihat saja alisnya tebal begitu."


"Apa hubungannya? Papa alisnya tebal, tapi tidak begitu," ucap Renaga sedikit tersinggung lantaran Zavia membahas alis.


"Belum lihat saja gimana marahnya papa, jangan sampai tapi ... kakak juga alisnya tebal, imannya yang tipis," ucap Zavia sekenanya dan berhasil membuat Renaga tersedak ludah.


"Apa maksudnya? Imanku tebal juga jangan salah," balas Renaga tidak mau kalah.

__ADS_1


"Ah bohong, aku bisa hamil sekarang karena Kakak lemah iman, coba kalau tebal. Pasti Kakak tidak akan mengingkari janji sama Opa," tutur Zavia seraya membuat bulatan kecil di dada Renaga dengan jemarinya.


"Siallan, kamu yang menggodaku malam itu ... kamu sendiri yang bilang jangan ragu, Kak, aku istrimu ... Ingat?" tanya Renaga seraya menirukan gerak-gerik Zavia kala menggodanya.


"Aku hanya menguji saja, sekaligus memastikan Kakak normal atau tidak," jawabnya yang semudah itu memilih sebuah kalimat demi membungkam mulut Renaga.


"Sama saja, kamu juga mau waktu itu."


"Kakak yang lebih mau," protes Zavia masih sama sekali tidak mau kalah dan semakin membuat Renaga bersemangat untuk menyerangnya.


"Oh iya? Kalau hanya Kakak yang mau, kenapa waktu kusentuh milikmu sudah basah?" tanya Renaga tepat sasaran dan berhasil membuat Zavia mengatupkan bibir.


"Sembarangan, tidak ya!!" protes Zavia tidak terima hingga suaranya sedikit meninggi.


"Hahaha iya-iya tidak basah, tapi banjir," ucap Renaga dan kali ini wajah Zavia benar-benar memerah layaknya kepiting rebus.


Melihat suaminya yang tertawa dan memenangkan perdebatan ini, Zavia tidak sengaja mencubit perutnya hingga membuat Renaga meringis hingga menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dadanya naik turun dan hal itu membuat Zavia panik, dia segera bangun dan membuka baju Renaga.


"Aaaaaarrggh, sakit, Zavia," rintihnya sembari turut memastikan apa mungkin lukanya terbuka.


"Maaf, Kak, aku lupa soal ini."


"Sudah, tidak apa-apa ... sini tidur," pinta Renaga mengabaikan rasa sakit akibat Zavia cubit, wajah penuh penyesalan terlihat jelas di sana, tapi mana mungkin Renaga akan benar-benar marah.


"Sebentar, aku khawatir lukanya terbuka."


Zavia memastikan luka Renaga tidak terbuka akibat respon tangannya, sungguh sama sekali dia tidak sadar bahwa tindakannya akan menyakiti sang suami.


"Sakit banget ya?"


"Ya Tuhan istriku, jelas saja sakit masih bertanya!!"


"Ehm, tidak ... pe-perih sedikit," jawab Aga berbanding terbalik dengan kata hatinya.


.


.


- To Be Continue -


Hai teman-teman, sebelumnya aku sangat berterima kasih untuk pembaca yang sudah membaca atau bahkan memberikan hadiah untuk Aga❣️. Terima kasih juga untuk yang paham bahwa ini adalah sebuah Novel dan tentu saja punya alur. Terima kasih untuk tim Giska, tim Zavia, tim Mikhail, tim kiyai Hasan atau tim apapun itu gatau padahal ini bukan tanding bola terima kasih buanyak pokoknya. Terutama untuk pembaca yang tidak membenci salah satu karena tahu bawa cerita ini adalah satu kesatuan yang aku bangun dalam sebuah serial Mahligai Impian.

__ADS_1


Konflik utama novel ini menyangkut tiga tokoh, jadi dibagi dua season. Season pertama Renaga - Zavia pemeran utama dan season kedua itu Giska sebagai pemeran utamanya. Jadi tolong berhenti bilang penulisnya tidak adil, mohon bijak dalam berkomentar dan mari sama-sama saling menghargai 😻


Boleh baper sama isinya, nggak usah nyenggol Authornya. Sekali lagi aku tekankan ini Novel yang wujudnya fiksi, jangan terlalu dipusingin ya cinta❣️ Salam damai, dan selamat makan nangka.


__ADS_2