Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 72 - Aruni Giova Anderson


__ADS_3

...Aruni Giova Anderson...


Karunia milik Renaga yang datang diwaktu fajar, begitu lah kira-kira makna dari nama bidadari kecil keluarga itu. Konglomerat yang tidak lepas dari kuasa dan kekayaan. Berita tentang kelahirannya sangat dicari oleh media.


Mengingat pengaruh Keyvan dan Justin luar biasa besar, ditambah lagi Lengkara dan Ameera adalah cukup terkenal sebagai influencer serta Zean yang kerap menjadi pembicara di banyak seminar adalah alasan kenapa putri kecil Zavia bak permata.


Bisa dipastikan Zavia harus istirahat terlebih dahulu. Tidak mengapa impiannya tidak semulus yang dia mau. Akan tetapi, yang terpenting saat ini dia bisa sepenuhnya ada untuk putri dan juga suaminya.


Ternyata benar, Tuhan memberikan segala sesuatu ketika sudah saatnya. Hadirnya baby Aruni bertepatan dengan mahligai impian mereka yang akhirnya sudah siap dihuni. Meski tidak berjauhan dan tetap menjadi tetangga keluarga sendiri, Renaga sama sekali tidak masalah.


Terlebih lagi, Mikhail yang memang tidak usil dan repot sendiri dengan apapun yang Renaga lakukan. Di usia senjanya, Mikhail hanya menjadi pemantau anak cucunya. Meski terkadang menjadi bulan-bulanan Zia lantaran enggan pulang, dia tetap konsisten mendatangi kediaman cicitnya.


Beberapa waktu pasca kembali dari rumah sakit mereka telah menempati rumah baru. Masih dengan Renaga yang hanya akan di rumah saja, begitupun dengan Zavia. Sungguh membuat iri, Keyvan dan Justin merasakan bagaimana rasanya menahan kerinduan bersama anak dan istri di saat bekerja. Kini, Renaga diberikan kebebasan untuk berleha-leha bersama keluarga kecilnya.


Menjadi orangtua baru bukanlah hal mudah, terlebih lagi ASI Zavia sempat mengkhawatirkan sewaktu awal kelahiran. Ide gila mencarikan ibu susu dari Ameera sontak membuat Zavia menangis, beruntung saja Tuhan masih baik pada akhirnya.


"Rasa ASI apa sih? Tawar ya?" tanya Renaga di saat putrinya mulai tenang.


Sejak tadi Renaga menatap lekat Zavia yang tengah menyusui Arunika. Bukannya marah, Zavia justru ikut berpikir dan kini keduanya saling menatap. Sama-sama bodoh, dan terbahak setelahnya.


"Hahahaha kamu kenapa?"


"Pikiran Kakak sama, 'kan? Aku juga penasaran ... bagaimana rasa sesungguhnya."


Jika seorang istri akan marah jika suaminya menanyakan hal konyol semacam itu, Zavia justru berbeda. Akan tetapi, jelas dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu karena kini Renaga menjitak keningnya.

__ADS_1


"Kalau kita sama-sama minum, nanti jadi saudara sepersusuan tidak ya?" tanya Renaga lagi masih penasaran, ide gila yang mungkin hanya mereka berdua saja pasangan yang berpikir sejauh itu.


"Ya masa aku jadi anak diriku sendiri? Gimana maksudnya sih?" Zavia mengerutkan dahi seraya menatap bingung wajah Renaga.


"Ah sudahlah, misteri ASI tidak habis-habis."


Jika terus dibahas, mungkin mereka tidak akan berhenti. Putri kecilnya hanya menghela napas perlahan, mungkin jika dia sudah bisa bertingkah Aruni akan menepuk bibir keduanya.


Selang berapa lama, pintu kamar diketuk hingga Renaga beranjak dari tempat tidurnya. Biasanya Azkara yang kerap memaksa masuk ke kamarnya, kini mungkin Mikhail, pikir Renaga.


"Lama banget bukanya."


Dugaan Renaga tidak meleset, benar manusia itu yang mengetuk pintu seakan tengah menagih hutang. Pria itu memutar bola matanya malas kala menatap Azkara yang hanya berdecak heran.


"Ada apa?"


Azkara menyerahkan sebuah kotak hadiah berukuran besar entah apa isinya. Yang jelas, sedikit berat dan cukup membuat Renaga terkejut. Azkara yang merasa sedikit dihalangi oleh Renaga mengerutkan dahi, sedikit menyebalkan memang kakak iparnya ini.


"Ck, minggir, Kak."


"Urusanmu sudah selesai, 'kan? Terima kasih ... pulang sana."


Azkara berdecak sebal seraya memukul angin lantaran Renaga menutup pintu kamar dan menganggap dirinya seolah pengganggu. Benar-benar miris nasib Azkara.


"Kenapa juga harus punya tetangga semacam ini iwh."

__ADS_1


.


.


Meninggalkan Azkara yang kini kesal dengan perlakuan Renaga. Saat ini pasangan muda itu tengah menatap kotak hadiah yang diberikan seseorang untuk Aruni.


"Dari siapa, Kak?"


"Entahlah, tidak ada namanya ... coba kita buka ya, siapa tahu emas batangan," ujar Renaga kemudian terkekeh pelan.


Bergaul dengan MIkhail berbulan-bulan membuat Renaga sedikit tertular. Tertular matre tepatnya. Zavia hanya menggeleng pelan mendengar ucapan sang suami, matanya tetap terus fokus dengan apa yang ada di kotak itu.


"Sayang?"


Keduanya saling menatap, baik Zavia maupun Renaga tiada yang menduga akan menerima hal semanis itu. Hal itu bahkan lebih manis dibandingkan mawar putih pemberian Fabian.


"Dia mengingatku?"


"Hm, anak itu mengingat kita ... mari kita lihat apa ini."


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


Sabar ya yang udah gak tahan pengen kisah Aga - Via end, satu eps lagi. Aku sedih banget pisah sama mereka 😖


__ADS_2