
"Giska!!"
Satu-satunya yang tidak berubah tentang keluarga ini adalah kehangatannya. Tidak, bukan kehangatan. Mungkin bisa disebut kepanasan jika sudah begini. Keny sengaja membeli rumah yang memang cukup jauh dari tetangganya agar tidak membuat malu.
Pasalnya, baik Sonya maupun Giska masih menerapkan kebiasaan di tempat lama. Ya, teriak sebagai sarana utama dalam berinteraksi. Entah apa alasannya, yang jelas tidak ada hari tanpa suara emas kedua wanitanya.
Pagi ini contohnya, Giska yang dicari sejak tadi malam kini mandi lebih dari dua jam. Bagian mana yang digosok mereka juga tidak mengerti hingga Keny hanya bisa menghela napas pelan.
"Giska buka!! Kamu belum jawab pertanyaan Mama!!" teriak Sonya sekali lagi yang membuat Keny berpikir ada baiknya mereka pindah ke pedalaman Sumatera saja.
"Ma udah dong, teriak terus apa tidak sakit lehernya? Kak Giska jarang mandi, jadi wajar sekalinya mandi butuh waktu lama."
Tidak hanya Keny yang kerap menjadi garda terdepan untuk Giska, adiknya juga sama. Namun, bukan berarti Sonya mau mengalah, di rumah ini tetap dia yang berkuasa.
"Hei ... mama begini karena ada sebabnya, kakak kamu tidak pulang dari tadi malam dan tadi pagi pulang semerawut begitu, wajar Mama khawatir, Anya!!" jelas Sonya penuh penekanan, baginya tetap saja mengkhawatirkan. Sejak dahulu Sonya percaya bahwa firasat seorang ibu biasanya tidak pernah salah.
__ADS_1
"Ya mungkin saja dia tidur di tempat kerja atau dimana, Mama jangan berlebihan deh."
Pasca operasi memang Keny dan Sonya lebih perhatian. Tidak hanya Giska, tapi adiknya juga. Namun, hal ini justru menjadi bencana lantaran Sonya menjadi kerap membatasi kegiatan keduanya dengan alasan khawatir.
"Mama harap juga begitu."
Sonya memahami posisi putrinya. Giska semakin dewasa, tapi setelah hubungannya bersama Gavi usai, anak itu sama sekali tidak pernah membawa ataupun mengenalkan sosok laki-laki padanya.
Dia tidak ingin banyak meminta, saat ini saja Sonya meminta Giska berhenti bekerja dan lebih baik membantunya di butik. Selain lebih sedikit kerjanya, Sonya juga bisa memantau dari dekat. Namun, tekat Giska memang sekeras batu hingga pada akhirnya Sonya memilih menyerah.
Tanpa Sonya ketahui jika saat ini Giska sudah pucat karena berendam cukup lama hingga menghabiskan sabun yang seharusnya cukup untuk tiga minggu ke depan. Dia benar-benar membersihkan dirinya, berkali-kali dia pastikan bahwa aset pribadinya baik-baik saja.
"Menurut internet kalau baru pertama kali maka akan sakit ... tapi ini sepertinya tidak, aku baik-baik saja."
Giska menyudahi aktivitasnya. Setelah sebelumnya sempat berdiam diri di dalam genangan busa yang berlimpah itu, kini dia sengaja membuka kakinya lebar-lebar demi memastikan ngilu atau tidaknya.
__ADS_1
"Tuhkan aman," ucapnya seraya menendang angin.
"Tidak bengkak, aku jalan juga enteng saja ... tapi bagaimana jika sebenarnya sudah."
Dia yakin, sangat yakin masih belum terjadi apa-apa. Tapi di sisi lain, dia yang tidak bisa mengingat apa-apa membuat Giska ragu dengan faktanya. Terlebih lagi jika dia mengingat pria asing yang tidur bersamanya dia tinggalkan dalam keadaan bertelanjang dada. Sungguh, mandi kali ini dia benar-benar meluruhkan seluruh noda di tubuh dan juga kepalanya sekalian.
"Tenang, Giska. Lagi pula pria mana yang tertarik menyentuhmu? Bukankah dirimu adalah sampah yang memang tidak menarik di mata laki-laki?"
Sejak dahulu, tepatnya ketika Gavi memilih kembali pada Alana, Giska merasa dirinya memang hanya sampah. Tidak menarik, dan akan selalu terbuang. Apa yang dia bingungkan? Apa lagi laki-laki yang semalam.
.
.
- To be Continue -
__ADS_1