Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 70 - Kehidupan Setelahnya


__ADS_3

Mendonorkan hati bukan hal sepele. Resikonya bahkan teramat besar, pendonor hati memang masih bisa menjalani kehidupannya. Namun fungsi hatinya, tidak seratus persen sempurna. Untuk itu, pola hidup Renaga harus benar-benar dijaga demi meniminalisir terjadinya komplikasi akibat fungsi hatinya bekerja lebih besar akibat pendonoran.


Kehidupan Renaga jelas saja berubah, dia yang biasanya bisa tidur dini hari dipaksa tidur lebih awal demi kesehatannya. Bahkan, Justin benar-benar mengambil alih kembali perusahaan untuk beberapa waktu hanya demi kesehatan putranya.


Bukan berarti memanjakan, tapi memang Justin sangat menyayangi putranya. Cukup lima tahun pertama kehidupan Renaga tanpa belas kasih seorang ayah, Justin tidak lagi ingin dia tersiksa.


Seperti yang Justin ketahui, Renaga adalah seseorang yang begitu serius dengan pekerjaannya. Dia hanya khawatir, kesibukan Renaga justru membuat tubuhnya terlalu lelah.


Kendati cita-citanya untuk membuat Renaga sebagai pengganti dirinya tidak segera terwujud, Justin tidak mengapa. Melihat Renaga tersenyum tanpa mengeluhkan rasa sakit sudah cukup, terlebih lagi dengan kehadiran cucunya beberapa bulan lagi.


Tidak banyak yang Renaga lakukan setiap harinya. Selain antar jemput Zavia, dia mungkin hanya memantau proses pembangunan rumah dan hal kecil lainnya. Hampir selesai, hasil karya tangan ajaib Giska memang benar-benar luar biasa.


Bicara tentang Giska, Renaga kini berpikir sejenak. Pasca operasi dia sempat bertemu satu kali, hari itu ketika dia kontrol bekas lukanya. Mereka bicara baik-baik, bersama Zavia juga dan tampaknya Giska memang tidak tahu sama sekali tentang hati siapa yang ada di dalam tubuhnya.


Renaga bersyukur, dia sedikit lebih tenang karena semua terjadi sesuai dengan apa yang dia mau. Namun, yang saat ini Renaga pikirkan adalah, bagaimana dia sekarang? Dimana sebenarnya? Bak hilang di telan bumi, Giska benar-benar pergi beserta keluarganya.


Kalau kata Keny mereka pindah ke Munich, Jerman. Entah apa alasan pastinya, tapi saat itu Keny mengatakan ingin mencari kehidupan yang lebih baik saja, untuk Giska terutama.


Giska bukan tidak pamit, dia bahkan sempat bicara baik-baik tentang kepergiannya. Namun, hanya pada Zavia saja, mungkin Fabian juga. Tidak mengapa, mungkin Giska punya alasan sampai dia enggan pamit pada Renaga.


Seperti yang Fabian katakan, sahabat hanya mengikat mereka bertiga, tidak berempat. Sama sekali bukan masalah, masih ada Hudzaifah yang bisa menjadi teman, selain itu Mikhail juga menjadi teman Renaga. Berkebun di belakang rumah sudah cukup menghilangkan rasa bosan Renaga.


"Kak."


Dari kejauhan Renaga menatap sang istri yang kini tengah berbadan dua berlari ke arahnya. Seakan lupa pesan kemarin, sudah ditegaskan jangan berlari tetap saja.


"Jangan lari, Zavia .. Kakak tidak akan pergi."

__ADS_1


Renaga terkekeh seraya membalas pelukan Zavia setelah menghampur dalam dekapan Renaga. Rindu setiap detik, semakin hari semakin terbuka dan memang Zavia tidak bisa menutupi perasaannya. Tidak ada Zavia yang sembunyi-sembunyi, ungkapan cinta bahkan lebih banyak terlontar dari Zavia, bukan Renaga untuk saat ini.


"Miss you, Kakak gimana hari ini?"


Hanya itu pertanyaan Zavia setiap hari. Setiap Renaga menjemputnya ke rumah sakit, Zavia akan bertanya lebih dulu. Padahal, yang seharusnya ditanya itu adalah Renaga sendiri.


"Seperti kemarin, aku baik, Sayang ... kamu gimana?"


"Sama, seperti biasa dan aku baik juga. Sudah makan? Tadi siang makannya tidak lewat, 'kan?"


Diperlakukan bak bayi, Renaga benar-benar menjadi raja untuk ratunya. Zavia mengusap lembut wajah Renaga, khawatir sekali jika suaminya pucat atau panas sedikit saja.


"Tidak, aku makan sama opa sama Hudzai juga."


"Syukurlah jika begitu, yuk pulang."


"Sayang ... boleh aku bertanya sesuatu?"


"Hm boleh, tanya apa?" Zavia menoleh dan menangkap wajah serius sang suami yang tampak sedih di sampingnya.


"Apa aku selemah itu, Zav?"


"Hm? Kenapa pertanyaan Kakak begitu?" tanya Zavia mendadak tidak enak hati, sungguh.


"Aku baik-baik saja, sangat baik dan aku merasa tidak ada yang berbeda denganku ... tapi Daddy seakan memanjakanku, begitu juga Papa. Bahkan, Opa saja tidak pernah marah padaku, kenapa kalian begitu?"


Bingung, jujur saja Renaga benar-benar bingung. Pasca dia memberikan sepotong hatinya untuk Giska, kasih sayang yang dia terima memang bertubi-tubi. Mikhail yang dahulu dia khawatirkan akan marah besar setelah menghamili Zavia, nyatanya sangat tidak benar.

__ADS_1


Pria itu bahkan ikut bermalam di kediaman Justin lantaran merasa bahagia mendengar kabar kehamilan cucunya. Entah karena memang bahagia, atau karena simpati padanya.


"Karena memang pantas disayang? Kenapa masih tanya, Kak?"


"Ya tapi aku merasa aneh saja, jadi persis bayi padahal sebentar lagi aku juga punya bayi."


"Perasaan Kakak saja, anggap saja berkah dari bayinya ... mata mereka jadi berbeda menatap Kakak dan sesayang itu makanya sampai dimanja."


"Masa iya?"


"Hm, itu faktanya."


Zavia tersenyum simpul seraya mengenggam jemari Renaga. Mungkin dia merasa terkejut dengan perhatian dan kasih sayang banyak pihak tertuju padanya.


"Lalu kamu bagaimana? Apa karena bayi juga jadi begini?"


"Tidak, Kak ... aku mencintai Kakak setiap detik, jauh sebelum dia ada dalam rahimku. Zavia mencintai Renaga sejak lama, lamaaaaa sekali bahkan sebelum mengetahui makna cinta dalam KBBI perasaan itu sudah ada."


"Dih, belajar dari mana gombalan itu?" tanya Renaga dengan wajah yang kini sudah memerah, tidak hanya sekadar kata, Zavia memang kerap membuatnya gila.


"Bukan gombal, Kak ... tapi kenyataannya begitu, aku sangat-sangat mencintaimu, setiap detik, menit, jam, bahkan setiap helaan napas dan denyut nadiku."


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1



__ADS_2