Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 69 - Persahabatan (Kalian)


__ADS_3

Belum lama menjabat sebagai presdir, keadaan memaksanya harus beristirahat untuk sementara waktu. Tidak mengapa, Justin juga tidak keberatan. Renaga benar-benar seolah anak muda yang menikah dan menjadi beban orang tuanya. Sepanjang hari hanya di rumah, bersama istri dan juga mommy-nya yang siap melakukan apapun kemauannya.


Menyenangkan memang, tapi Renaga bosan juga. Apalagi, sudah dua hari ini Zavia kembali ke rumah sakit dan jelas membuat Renaga kesal persis orang bodoh. Sudah berapa lama dia menatap ikan-ikan yang berenang di situ-situ saja. Tidak ada pergerakan sama sekali, sekalipun dia berlari nanti juga akan kembali.


"Lucu sekali ... hai, Azkayra Zavia Qirany, itu Renaga yang kamu cari."


Dari kejauhan Agny menatap tingkah konyol putranya. Sedikit bingung, yang didonor adalah hati atau otaknya ikut juga. Dua hari ditinggal istrinya ke rumah sakit, dua hari juga Renaga melakukan hal semacam itu.


Dia bicara, sebentar lagi tertawa bahkan terkadang bertepuk tangan hanya karena seekor ikan. Hal itu membuktikan, betapa sepinya hidup Renaga tanpa Zavia. Tidak dapat Agny bayangkan, dia yang sengaja menyendiri selama tujuh lamanya akan sesedih apa.


"Ck, bukan itu, Bodoh ... Eh maaf, Sayang, Renagamu yang itu ... yang badannya besar dan gagah. Ays kenapa Zavia yang ini matanya muda, itu Renagamu hei!!"


Dia geram sendiri melihat ikan yang memang paling menonjol di sana tampak mneghampiri ikan lain. Renaga gusar, dadanya bahkan naik turun hanya karena ikan itu tidak mengikuti kehendak hatinya.


"Ga, ajak kawin, Ga!!" teriaknya kemudian menciptakan riak air dengan sebuah pipa kecil yang dia ambil di sudut kolam.


Setelah sebelumnya Agny yang dibuat melongo, kini adiknya juga sama. Gracia tak berkedip, dia benar-benar bingung kenapa Zavia merubah sang kakak menjadi sedemikian rupa. Apa memang jiwanya terganggu setelah menikah? Apa mungkin sosok opanya semengerikan itu hingga mental Renaga sakit begini, pikir Gracia.


"Bagus!! Begitu caranya, jangan sampai lepas."


"Dih, stres ... pulang-pulang gila."


Gracia melewati Renaga seraya melayangkan tatapan tak terbaca pada sang kakak. Sangat disayangkan jika seorang Renaga Anderson justru mengalami gangguan jiwa di usia yang masih begitu muda.


"Mau kemana?" tanya Renaga terlihat biasa saja, dia tampak santai dan memang tidak terlihat gila.


"Jalan-jalan sama ayang, supaya tidak gila," ucapnya kemudian benar-benar berlalu dan sama sekali tidak membuat Renaga marah.


"Baru pacar, bukan suami."


Terserah, Renaga tidak begitu peduli. Dia kembali melanjutkan kesibukannya. Menyibukkan diri dengan cara ini memang cukup berhasil, berhasil disangka gila.


Belum lima menit, Renaga kembali merasakan seseorang mendekat. Sudah pasti Gracia yang ingin meminta uang jajan, dasar kurang ajar.


"Mau apa? Aku tidak pun_"

__ADS_1


Ucapan Renaga terhenti kala menyadari siapa yang kini berdiri di hadapannya. Renaga menatap datar seraya menghela napas panjang. Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun untuk saat ini, kecuali Zavia.


"Kak."


"Mau apa? Aku lelah, jangan cari perkara," ucap Renaga yang tampaknya memang masih marah besar pada Fabian.


"Bu-bukan begitu, aku hanya ingin berterima kasih ... dan maaf juga, beberapa waktu lalu aku sangat tidak sopan, Kak."


"Terima kasih untuk apa, Bian? Aku tidak pernah menolongmu sedikitpun," ucap Renaga tetap dingin seperti kemarin-kemarin.


Renaga yang pendendam sejak dahulu tampaknya memang tidak bisa berubah, itu adalah sifat yang benar-benar melekat dalam benaknya sejak kecil. Diperlakukan Fabian seakan manusia paling bersalah, Renaga tidak terima sebenarnya.


"Soal Giska, pada akhirnya hanya Kakak yang bisa menolongnya ... terima kasih," ucap Fabian kemudian tertunduk. Sejak lama dia ingin menghampiri, tapi waktunya selalu tidak pas.


"Sudah kukatakan jangan pernah berterima kasih tentang itu, aku melakukannya agar persahabatan kalian bertiga tetap terjaga ... Giska sehat, istriku tidak menangis dan kau juga tidak akan membenciku."


Renaga bicara seakan bukan bagian dari mereka. Saat itu juga Fabian merasa jika Renaga tengah menunjukkan kekecewaannya.


"Bertiga?"


Ucapan Fabian waktu itu benar-benar membuat Renaga berpikir keras. Memang faktanya begitu, tujuh tahun dia menghilang dan sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada mereka.


Renaga sangat sadar diri akan hal itu. Pun dengan alasannya mendekati Zavia, sama sekali bukan untuk bersahabat, tapi sebagai wanitanya. Sementara untuk Giska ataupun Fabian, mungkin Renaga lebih baik bertindak sebagai seorang kakak atau yang lebih tua dari mereka, bukan sahabat.


"Pulanglah, tetap jaga mulutmu jika tidak ingin mati di tanganku ... kau tahu resikonya sampai Giska tahu kebenarannya bukan? Berpikir sebelum bertindak, kemungkinan besar hidup Giska akan selamanya meratap dalam tangis jika tahu hatiku ada padanya. Paham kau, Fabian?"


Suara Renaga terdengar berbeda, dia tengah menegaskan fakta yang memang harus Fabian renungi agar menjaga mulutnya. Fabian mengangguk, dia juga mengerti maksud Renaga dan tidak mungkin berani mengatakan hal semacam itu pada Giska.


"Paham, Kak ... maafkan aku, waktu itu aku benar-benar kehilangan kendali," tutur Fabian benar-benar tulus, dia datang bukan untuk cari ribut melainkan meminta maaf pada Renaga atas sikapnya.


"Hm, tapi aku tidak mau minta maaf padamu."


Fabian hanya menarik sudut bibir, sikap angkuhnya masih ada. Seorang Renaga memang begini sejak dahulu, tidak salah jika Zavia menyebutnya angkuh dahulu.


.

__ADS_1


.


Ada kesempatan ke rumah sakit, Zavia menyempatkan diri menjenguk Giska. Sengaja sebenarnya, jujur Zavia masih sedikit mual terutama jika mencium aroma jeruk, entah jeruk apapun itu.


Kerinduan Giska akhirnya menemukan titik temu. Dia bahkan berniat tidak akan pernah pulang seelum Zavia jenguk, kini sudah dua hari berurut-turut Zavia jenguk, dan Giska belum juga berniat untuk pulang.


"Betah di rumah sakit?"


"Iya, kalau aku di rumah pasti kamu susah datangnya," ucap Giska menerima apel yang baru saja Zavia potong untuknya.


"Tetap bisa, kamu tidak perlu di rumah sakit terus ... aku bisa datang, Giska."


"Tapi tidak semudah di rumah sakit," ujar Giska sedikit putus asa seakan benar-benar tidak bisa bertemu dengan Zavia untuk waktu yang cukup lama.


Zavia hanya terkekeh mendengar keluhan Giska. Agaknya dia tengah merasakan apa yang dahulu Zavia alami, sedih ditinggal. Bedanya, Giska benar-benar menghilang, dan sama menyiksanya kala itu.


"Kak Aga mana?" tanya Giska pada akhirnya, hanya bingung saja sebenarnya. Pria itu menghilang setelah dia yakin malam itu sempat datang.


"Kerja, Daddy minta dia ke luar kota beberapa hari gitu ... nanti kalau sudah pulang, aku ajak jenguk kamu."


"Lama banget, kamu sendirian berarti?" tanya Giska dengan mulut kini berisikan pisang yang Zavia kupaskan untuknya, mungkin selama Zavia di sini lambungnya akan penuh tanpa dia sadari.


"Tidak, ada Mama ada banyak orang di rumah, Gis. Lagi pula sebelum ini aku tidur sendirian terus," tutur Zavia berulang kali meminta maaf dalam hatinya karena kembali memilih berbohong sebagai jalan tengah.


"Ahahah benar juga, Zavia kan punya guling bau itu."


"Hahahahaha micky tidak bau, Giska," ucap Zavia dengan gelak tawa yang sama sekali tidak bisa dia kontrol.


"Memang bau, hidung siapa yang sanggup mencium guling itu selain hidungmu." Mengingatnya saja hidung Giska bahkan mencium aromanya, satu hal yang dia bingung kenapa hidung Zavia seakan buta dengan aroma benda itu.


"Aku lupa soal itu, sejak menikah guling iu belum mama kembalikan ... tapi kok aku benar-benar lupa, ya Tuhan ... apa aku sudah mengkhianati Micky."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2