Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 35 - Aku Walimu


__ADS_3

Sama halnya seperti Giska yang lebih banyak waktu di rumah sakit selama Zavia dirawat, Renaga juga demikian. Bedanya, pria itu akan selalu di sisi Zavia menggantikan Mikhayla ataupun Azkara yang bergantian menjaganya.


Malam ini dia sedikit terlambat, niatnya hanya pulang sebentar untuk ganti baju, tapi memang tidak bisa dipungkiri terkadang banyak hal yang terjadi di luar ekspetasinya.


"Belum tidur, Sayang?"


Sedikit terkejut, Renaga datang hampir larut malam, tapi dia sudah disambut mata sendu Zavia yang kini menatap ke pintu masuk. Pria itu tertawa sumbang seraya menghampiri Zavia yang hanya tersenyum tipis mendengar panggilannya.


Jika kemarin dia hanya berani mencuri kecupan di bibir Zavia, malam ini Renaga mengecup keningnya dengan sengaja. Bukan mencuri kesempatan karena Zavia tidak akan melawan ataupun karena mereka sendirian, akan tetapi naluri Renaga ingin saja melakukannya.


"Kamu menungguku? Apa masih ada yang sakit? Katakan dimana? Apa ada yang menjengukmu sebelum aku datang? Jika iya, katakan siapa?" tanya Renaga tanpa melepaskan tatapannya dari Zavia, dia hanya sedang bersyukur mata itu tidak tertutup lebih lama.


"Pertanyaannya kebanyakan, Kak, aku bingung."


"Jawab saja semampumu," ucap Renaga semakin mendekat bahkan Zavia berusaha menghindari tatapan matanya.


"Iya aku menunggu, sakitnya banyak ... tapi kata Mama nanti sembuh sendiri. Sebelum Kakak masuk, ada Bian sama Mama ... selainnya aku lupa, karena aku ketiduran tadi."


Renaga lagi-lagi tertawa sumbang mendengar penjelasan panjang lebar dari Zavia. Setelah menjalani hari tanpa senyuman, baru beberapa jam yang lalu Renaga bisa bernapas lebih lega. Kekhawatiran Renaga yang cukup berlebihan membuatnya berpikir macam-macam.


Ada begitu banyak kasus kecelakaan yang menyebabkan seseorang mengalami hal yang tidak diinginkan. Meski sedikit konyol, Renaga benar-benar takut jika nanti Zavia lupa ingatan.


Beruntung saja, meski kondisinya memang benar-benar lemah, Zavia masih mengingat dengan jelas siapa Renaga. Setakut itu dia hilang dari benak Zavia, susah payah meluruskan benang kusut itu lalu terancam menjadi kian kusut, jelas Renaga tidak akan rela.


"Kakak sendirian?"

__ADS_1


"Iya sendiri, kenapa memangnya?"


"Yakin sendiri?" tanya Zavia kemudian, dia tampak berpikir dan merasa jika di belakang Renaga masih ada orang lain.


Tapi anehnya, sudah beberapa saat Renaga masuk Zavia tidak juga melihat keberadaan seseorang di belakang. Tatapannya mendadak serius ke arah pintu, Renaga yang sedikit penakut mengikuti arah pandangan Zavia segera, sontak dia menepuk wajah Zavia pelan.


"Jangan berpikir macam-macam, ini sudah malam ... tidurlah lagi."


"Aku sudah tidur terlalu lama, nanti aku tidur ... coba lihat siapa yang datang? Aku yakin di belakang Kakak tadi ada orang juga," pinta Zavia serius.


Matanya tidak mungkin salah lihat, benar adanya pintu itu tampak dibuka dari luar. Tapi, entah kenapa hingga detik ini hanya Renaga saja yang masuk. Melihat Zavia yang memohon, Renaga tidak punya pilihan lain.


Terpaksa, dia beranjak keluar untuk memastikan siapa yang di luar. Seperti yang dia duga, tidak ada siapapun di luar. Zavia mungkin berhalusinasi, Renaga kembali menghampirinya dan kini duduk di tepian pembaringan.


"Yakin? Aku lihat sendiri pintunya dibuka."


"Yakin, sudahlah ... kamu terlalu lelah, itu halusinasi atau mungkin pintunya belum tertutup sempurna karena aku yang masuk."


Renaga mencoba memberikan pengertian paling logis untuk Zavia. Menurutnya hanya itu jawaban paling pas, kondisi kesehatan Zavia sangat memungkinkan dia mengalami hal-hal semacam itu.


Wajahnya tampak sedikit kecewa, Zavia menantikan kehadiran seseorang yang hingga saat ini belum juga menunjukan diri. Setiap pintu itu dibuka, Zavia selalu menantinya. Sayang, hingga detik ini suara melengkingnya belum juga menelisik indera pendengaran Zavia.


"Kenapa? Kepalanya pusing?"


"Sedikit, Giska mana?" tanya Zavia pada akhirnya.

__ADS_1


Sebagai sahabat dekat, wajar jika dia bertanya. Karena Fabian dan Renaga sudah berkali-kali dia lihat sore ini, sementara Giska belum sama sekali.


"Ehm di rumahnya mungkin atau ... entahlah," jawab Renaga sejenak berpikir. Dia memang menyadari ada yang hilang, tapi hatinya masih tertutup kemarahan hingga tidak terpikirkan untuk mencari atau membujuknya seperti yang sudah lalu.


"Ah begitu, Kakak datang ke sini terlalu larut ... mau pulang jam berapa," ucap Zavia bingung sendiri kenapa Renaga menjenguknya di jam segini.


"Besok," jawab Renaga melepas jaketnya, tampaknya Zavia memang tidak tahu jika Renaga tidur di rumah sakit demi menjaganya.


Tentu saja dengan modal merayu Mikhayla dan juga Keyvan, pria itu mempertaruhkan jiwanya di hadapan calon mertua demi restu bisa menjaga Zavia di malam hari.


"Besok?"


"He'em, aku walimu ... sudah izin sama Papa dan aku memang tidur di sini."


Papa, Zavia tidak salah dengar. Renaga benar-benar mengubah panggilannya. Seakan berada dalam dunia mimpi, Zavia dibuat jungkir balik dengan Renaga yang mengubah statusnya sebagai calon istri tanpa sisa dalam waktu yang teramat singkat.


Wajar saja Mikhayla pamit pulang, Zavia pikir salah bicara. Jika tahu begini, menyesal dia tidak buang air kecil lebih dulu seperti tawaran Mikhayla. Mau bagaimana dia nanti, meski Renaga terlihat santai saja, berbeda dengan dirinya yang setiap detik berperang melawan gugupnya di sisi Renaga.


.


.


- To Be Continue -


__ADS_1


__ADS_2