Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 11 - Basa-Basi


__ADS_3

"Jangan menatapku terlalu lama, nanti cinta."


"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah mencintaimu ... terima kasih sudah diingatkan."


Christ hanya bercanda, tapi Giska justru menanggapinya serius. Dia memang wanita yang agak sedikit bodoh dalam menafsirkan laki-laki. Belajar dari cinta sendirinya pada Renaga, Giska harus menanamkan dalam dirinya untuk tidak lancang kala pria sudah melarangnya.


Jika Giska tampak santai setelah mengucapkan itu, Christ justru sebaliknya. Pria itu bergeming beberapa saat hingga baru tersadar kala Giska menyadarkannya.


Christ melaju begitu pelan, antara khawatir jalanan licin atau memang dia memikirkan ucapan Giska. Bak seorang pria yang kehilangan jati diri, Christ bungkam dan tidak memiliki kemampuan untuk merayu wanita ini.


Hal sama juga terjadi dalam diri Giska yang kini bingung sendiri sebenarnya pria di sampingnya menghadapi masalah apa. Apa mungkin ada ucapan yang menyinggung dirinya, pikir Giska yang mendadak merasa bersalah.


"Ehem, boleh aku tanya sesuatu?"


"Boleh, tanya apa?"


Sempat murung, tapi kini dia kembali terlihat berbinar kala Giska tiba-tiba memulai pembicaraan. Momen langka yang harus Christ manfaatkan tentu saja, dia menatap Giska yang kini juga sama-sama menatapnya.


"Christ ... apa kau lahir tepat di hari natal?" tanya Giska yang kemudian membuat Christ tertawa sumbang.


Giska bukan wanita pertama yang pernah bertanya banyak hal padanya. Namun, di antara banyak wanita baru kali ini dia menemukan seorang wanita yang bertanya terkait asal usul namanya.


"Kok ketawa? Apa basa-basiku terlalu basi? Sialan, pertanyaanmu berbobot sekali, Giska!!"


Giska mengumpat dan tengah meratapi kebodohannya. Sungguh, saat ini dia mungkin ingin mengubur dirinya hidup-hidup, atau mungkin tenggelam di palung Mariana setelah ini? Memalukan sekali.


"Tidak perlu dijawab, pertanyaanku terlalu konyol sepertinya."


"It's okay ... aku suka pertanyaanmu, tebakanmu tepat aku lahir tepat di hari natal."


"Wah sama."

__ADS_1


"Denganmu?"


"Bukan, tapi papaku."


Senyum Christ mendadak pudar, dia berpikir jika hari ulang tahunnya akan sama seperti Giska. Niat hati ingin merayakan ulang tahun bersama usai seketika.


"Salam buat papamu, aku belum bertemu dengannya ... padahal sudah dua kali datang ke rumahmu."


"Dua kali?"


Giska mengerutkan dahi, beberapa waktu lalu sempat bingung kenapa bisa Christ datang ke rumahnya padahal sama sekali tidak dia berikan alamat dan Christ hanya mengatakan bahwa dia kebetulan lewat. Hal ini sontak membuat Giska meragukan jawaban Christ beberapa jam lalu.


"Iya dua kali ... kenapa? Kau terkejut?"


"Kau menguntitku?"


"Anggap saja begitu, aku hanya memastikan kau pulang dengan selamat malam itu ... kau sendiri kenapa keluar malam-malam begitu?"


Tertangkap basah secara tidak sengaja, Christ tidak akan mengelak lagi. Sekalipun Giska akan marah, dia akan menerimanya dengan lapang dada.


"Hahahah dimana? Di kamarmu? Boleh sekali ... aku siap party sampai pagi berdua di sana, sepertinya menyenangkan. Kau sangat bebas malam itu, walau yang aku lihat hanya bayangan, apa masalahmu sebesar itu, Giska?"


Pembicaraan Christ mendadak serius, sekaligus membuat Giska memerah kala sadar maksud ucapan Christ. Sudah tentu yang dimaksud pria itu adalah malam dimana dia mendapat amukan Sonya akibat asik sendiri tanpa sadar jika sang mama sakit gigi.


"Kau melihat semua yang aku lakukan?"


"Hm, semuanya aku lihat ... kau di club malam itu juga sama gilanya, kau kenapa sebenarnya?"


"Entahlah, aku tidak merasa punya masalah."


Matanya mengatakan hal berbeda, Christ sangat paham tanpa perlu dijelaskan. Namun, mulut Giska yang mengatakan hal itu jelas menunjukkan jika dia enggan ditanya-tanya.

__ADS_1


Cukup banyak yang mereka bicarakan, hingga Giska benar-benar terlena dan baru sadar seberapa lama dirinya telat ketika tiba di tempat kerja.


"Astaga!! Kenapa bisa terlambat selama ini? Ays bisa mati aku!!"


"Santai saja, hidup jangan dipersulit ... andai diberhentikan kontrak kerjamu ikut aku saja."


"Apa? Ikut? Sorry ya, sampai aku melarat sekalipun aku tidak akan pernah ikut jalan hidupmu, Christ."


Christ tertawa sumbang, lagi-lagi dia merasa lucu dengan jawaban Giska. Dia yang tampak tergesa-gesa benar-benar menggemaskan, ingin sekali dia tahan dan tetap berada di sisinya saja.


"Ayolah, kau tidak akan kaya dengan kerjamu sekarang ... lebih baik ikut aku saja kerjanya tidak sulit. Cukup di ranjang dan bersenang-senang menemani pria yang menginginkanmu, apa tidak suka? Bayarannya sepuluh kali lipat, Gis."


"Laki-laki laknat!! Kenapa bisa ada yang lebih menyebalkan dari Fabian?"


Kesal sekali rasanya Giska kala langkahnya diikuti Christ dan menawarkan hal semacam itu. Sungguh, dia saat ini merinding hingga bergetar tak karuan.


"Gis, aku serius ini tawaran hanya untuk wanita terpilih ... kau punya poten_ aarrgghh."


Belum selesai Christ bicara, Giska mendaratkan pukulan tepat di keningnya. Pria itu meringis seraya menggosok keningnya yang memang sedikit tersiksa.


"Yakin tidak mau?" tanya Christ lagi setelah sempat mendapat pukulan di keningnya, sungguh Giska tidak habis pikir dengan pria itu.


"Tidak akan pernah!!"


Giska berlalu meninggalkan Christ yang kini hanya diam dan tidak mengejarnya untuk kedua kali. Pria itu menatap Giska yang semakin menjauh pergi, pendirian Giska tampaknya memang cukup kuat, pikirnya.


"Andai kau terpaksa bagaimana? Masih bisa sekeras itu di hadapanku, Giska?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


Hai, sebelum lanjut aku ingin menjelaskan sesuatu. Ini soal kesalahan yang tanpa sengaja aku lakukan, dan memang kurang dalam memastikan satu hal sebelum menulis. Sederhana, tapi fatal tapi sudah aku revisi ya. Soal latar tempat, diawal aku menuliskan Zurich dan salah besar. Harusnya Munich, Jerman. Aku baru sadar pas liat story visual Evan tadi pagi (Makasih Abang), gada yang ingetin dan aku juga ga inget karena ini hampir sama namanya. Sekali lagi aku minta maaf.


__ADS_2