
Pertemuan pertama harus mengesankan. Ya, mengesankan memang. Tapi Christ justru menghitung makan siangnya juga sebagai hutang. Licik sekali pria itu, ingin sekali Giska mencakar wajahnya, wanita itu menggerutu meratapi makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam perutnya.
Hingga malam hari Giska benar-benar dibuat gusar. Tidak hanya sebatas omong kosong belaka, Christ benar-benar menghubunginya malam itu. Sayangnya, Giska memang telanjur malas untuk sekadar mendengar suaranya.
Jika ditanya kenapa, Giska juga bingung. Mungkin karena cintanya sudah terbuang bersama orang lama. Separuh hatinya sudah benar-benar mati bahkan untuk menerima seorang lelaki.
Kekecewaan pada Gavi setelah dia mengubur perasaan yang terlampau dalam pada Renaga dan berpaling sepenuhnya membuat Giska mati rasa. Christ bukan orang pertama yang berusaha mendekatinya, tapi di antara mereka memang Christ yang agak sedikit berbeda.
"Good night, Honey ... have a nice dream."
"Honey? Dia pikir aku mau jadi madu dalam hidupnya? Cih sorry ya!! Jangan harap!!"
Giska berdecih menatap pesan singkat yang Christ kirimkan sebagai penutup di malam itu. Mungkin lelah teleponnya tidak Giska angkat sama sekali. Sejak tadi wanita itu hanya terdiam di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamar.
"2700 uero ... sayang banget uangnya, tapi kalau tidak dibayar gigolo satu ini nempel terus."
Sejak tadi dia merenungi nominal yang cukup membuatnya tercekik itu. Ya, mungkin bagi sebagian orang tidak seberapa, tapi bagi dia cukup banyak. Sempat ingin meminta pada Keny, tapi sudah pasti belum apa-apa yang dia dapat adalah omelan, bukan uangnya.
Hanya karena uang itu, Giska bahkan belum tidur meski malam sudah larut. Berbeda dengan malam kemarin yang dia lampiaskan dengan musik dangdut di kamarnya, kali ini dia memilih diam karena menginginkan ketenangan.
"Ck, apa lebih baik ku-blokir saja ya? aku pikir sudah lelah, ternyata masih."
__ADS_1
Setelah beberapa waktu ponsel Giska tidak lagi berdering, kini dia kembali mendengarnya. baru saja hendak lebih tenang, Giska kembali dibuat runyam hingga dia berpikir untuk segera melempar ponsel itu ke luar jendela.
"Ini orang maunya ap_ Heh? Zavia?"
Tubuh Giska berdesir seketika kala melihat nama Zavia terpampang jelas di ponselnya. Hatinya yang tadi dongkol seketika menghangat seketika. Tidak biasanya Zavia menghubunginya melalui panggilan video begini, beberapa bulan lalu hanya sebatas pesan singkat saja kala mereka bertanya kabar masing-masing.
"Lama banget ya, Tuhan ... jadi artis sekarang ya!!"
Belum apa-apa, Giska bahkan belum menyapa dan kini suara ibu satu anak itu mulai menelisik indra pendengarannya. Wanita cantik yang selalu konsisten dengan hijab ala kadarnya itu tersenyum manis menatap Giska.
"Happy birthday sayangku, Giska ... kita tiup lilin virtual lagi tahun ini tidak apa-apa ya."
"Jangan banyak gerak, Sayang ... lilinnya susah."
Renaga masih sama tampannya, tidak tepatnya dia semakin tampan dan dewasa. Interaksi mereka terlihat manis, tidak sia-sia nekat menikah di usia yang cukup muda, pikir Giska.
"Ih, itu mah karena napas kamu dianya mati lagi, Kak. Buruan, Kak nanti Aruni bangun."
"Iya bawel, sabar sedikit."
"Makasih ya, geser sedikit, Kak, kuenya ketutupan badan Kakak gimana Giska mau lihat."
__ADS_1
Giska terlalu menutup diri, mereka memang berjalan sendiri-sendiri selama beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, Zavia sama sekali tidak melupakan hari ulang tahunnya sekalipun.
"Bian mana ya, padahal berdering ... ni anak pasti masih molor," omel Zavia di seberang sana yang mungkin sedikit kesal persiapannya jadi sedikit kacau akibat Fabian tidak juga bisa dihubungi di waktu ynag sudah ditentukan.
"Zavia ... aku sendiri bahkan lupa kalau ini hari ulang tahunku," tutur Giska terisak sejenak, wajar saja Zavia menghubunginya sepuluh menit menuju pukul 00:00 begini.
"Memang, sejak kapan kamu ingat ulang tahun kamu, Gis ... sebentar, kita tunggu Bian dulu," ucap Zavia yang memang tampak menunggu Fabian yang belum berabung juga hingga saat ini.
Giska memang tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Selain karena dia tidak suka, yang Giska ingat dahulu semata-mata hanya tanggal lahir Renaga. Mungkin karena itu Zavia melakukan hal sama pada sahabatnya.
Selang beberapa saat, Fabian yang sejak tadi ditunggu sejak lama akhirnya hadir juga. Ya, meski hampir terlambat, tapi yang jelas tidak melewati batas waktu yang sudah ditentukan Zavia.
"Lama banget sih, Bi ... kebiasaan banget telat, ini acara sudah mau mulai."
"Lebih baik telat daripada tidak sama sekali, Zavia ... cepat mulai."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1