Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 21 - Menikahlah Denganku


__ADS_3

"Hei ... kau tahu betapa menyebalkannya dirimu?"


Christ hanya mengedikkan bahu, saat ini keduanya tengah menunggu Sonya berhasil menarik Keny keluar. Kesempatan ini yang Giska gunakan untuk membuat perhitungan dengan pria sinting itu. Tatapan tajamnya sama sekali tidak berpengaruh, pria itu menganggapnya bak angin lalu.


"Pergilah, selagi papaku belum melihatmu," pinta Giska menarik paksa pergelangan tangannya.


Entah bercanda atau sungguhan, yang jelas Giska sungguh tidak suka dengan sikap pria ini. Selain sedikit menakutkan, dia juga termasuk pengganggu. Entah dosa apa yang dia lakukan di masa lalu hingga dipertemukan dengan pria semenyebalkan seorang Christ saat ini.


"Tidak."


"Christ ayolah!!"


"Ck, aku tidak punya urusan denganmu, kau saja yang masuk kamar ... sana."


Sama sekali dia tidak peduli, Giska susah payah memintanya bangkit, Christ justru sesantai itu duduk manis dan berhasil membuat Giska naik darah. Mendengar ucapan Christ, jiwa Giska terguncang dengan mata yang kini mengerjap pelan.


"Huft, ya, Tuhan."


Masih dengan posisi yang sama, Giska mengenggam pergelangan tangannya. Tanpa Giska ketahui, bahwa hal itu adalah awal sebuah bencana yang membuat Christ semakin merdeka.


Tanpa aba-aba, Christ justru menyentuh wajahnya hingga Giska berdesir seketika. Sayangnya, desiran itu hanya satu detik lantaran di detik kedua, suara Keny justru terdengar dan membuat Giska benar-benar panik seketika.


Salah paham kembali terjadi, Keny dan Sonya justru mengira mereka tengah menghabiskan waktu berdua. Bahkan, Keny berdecak sebal lantaran khawatir mengganggu kesenangan mereka berdua.


"It's okay, lanjutkan saja jika masih ingin berdua ... nanti kalau sudah selesai panggil papa."

__ADS_1


Lanjutkan apa? Giska semakin mengutuk pria tengil yang kini menaikkan alisnya. Andai saja Keny tahu bagaimana tingkah pria ini, mungkin dia tidak akan pernah mengizinkan Giska berada di sisinya.


Kekesalan Giska tidak usai di sana, kini dia semakin dibuat tidak bisa berkata-kata kala Christ memperkenalkan diri sebagai calon suami Giska seperti candaan yang dia utarakan pada Sonya.


"Kau yakin? Apa kau bersedia menerima putriku?" tanya Keny yang bahkan bergetar kala menjabat tangan Christ untuk pertama kali.


Bukan karena pengaruh keluarga atau lainnya. Akan tetapi, Keny hanya tidak menyangka Giska berada di titik ini. Kembali mengenal laki-laki yang secara tegas meminta Giska baik-baik. Padahal, selama ini Keny tahu bagaimana kebebasan di negara ini, jelas dia merasa beruntung tiba-tiba pria tampan luar dalam datang di hadapannya.


Christ bahagia-bahgaia saja, sementara Giska yang kini membeliak tengah meratapi ucapan sang papa yang justru bertanya seolah Giska mengkhawatirkan untuk diterima. Padahal, dia sendiri tidak berminat sama sekali pada pria itu.


"Terdengar aneh dan mungkin terlalu buru-buru, tapi saya tidak pernah bercanda soal ini, Tuan."


"Giska, sana buatin teh," bisik Sonya menarik Giska pergi menjauh karena dia tahu sejak tadi mulut putrinya sudah berusaha bersuara demi menghentikan pembicaraan penting ini.


"Dikira dia pak RT, tidak perlu, Ma ... lagian dia semalam tidak memberiku apa-apa sewaktu tiba di apartemennya."


Niat Giska mengutarakan keburukan Christ agar orang tuanya tidak menjamu dengan baik seperti yang Christ lakukan padanya, tapi kenyataan justru berbeda.


"Ke-kenapa? Muka Papa kenapa begitu?"


Sudah tahu wajah Keny merah padam, sudah pasti marah dan Giska masih bertanya. Christ yang mendadak takut kini menggigit bibir lantaran khawatir Keny marah nantinya.


"Astaga ... Giska!! Kalau sudah begini, ada baiknya disegerakan dan papa tidak akan melarang. Seperti yang dahulu Evan rasakan, Papa khawatir kamu melakukan hal yang tidak-tidak."


"Hah? Kenapa larinya ke sana? Papa kenapa jadi ikut-ikutan om Evan?"

__ADS_1


Christ sama sekali tidak mengerti apa yang menjadi masalahnya. Akan tetapi, yang jelas dia mengerti bahwa Keny menerimanya. Sebuah lamaran yang tidak dia rencanakan, hanya spontan terucap kala dia menyapa Sonya dan justru benar-benar dia utarakan pada Keny seserius itu.


.


.


"Bercandamu keterlaluan," ketus Giska kala mereka kini berada di depan rumah.


Apa yang Christ lakukan sama sekali tidak lucu. Giska menghela napas kasar seraya menatap nanar tanpa arah, demi apapun dia sama sekali tidak percaya dengan bualan Christ, terlebih lagi biasanya pria kaya kerap kali semena-mena.


"Menurutmu apa mungkin aku bercanda dengan seseorang yang lebih tua dariku? Apa untungnya, Giska? Kalau hanya mencari hiburan aku bisa cari dengan cara lain," tutur Christ serius dan menatap lekat Giska yang saat ini tampak mengepalkan tangannya.


"Sekalipun kau serius aku tidak peduli."


"Sayangnya aku tidak peduli dengan perasaanmu ... jangan banyak bicara, menikahlah denganku," ucap Christ dengan wajah datar seraya menatap lekat Giska.


"Aku tidak mau."


"Tapi aku yang mau," jawab Christ seakan tidak kekurangan jawaban.


"Kak Aga ... apa dulu aku semenyebalkan pria ini? Jika benar iya, maafkan aku, Kak."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2