
"Aku takdirmu, Zav."
Cukup lama Renaga tenggelam dalam lamunan, dia bahkan lupa dengan tujuan awalnya. Menyiapkan obat untuk Zavia, tapi pria itu justru memandangi foto itu cukup lama. Selama ini dia mengetahui jika Giska menyimpan semua tentang dirinya, itu adalah hal biasa. Namun, jika yang melakukan hal itu adalah Zavia, maka dia merasa benar-benar berharga.
Zavia yang sejak tadi menunggunya mulai merasakan kejanggalan lantaran Renaga belum juga kembali. Sontak wanita itu menghentikan kegiatannya dan berniat menghampiri sang suami segera. "Dia sedang apa di sana?"
Firasat Zavia mendadak berubah, dia melangkah panjang demi memerhatikan apa yang kini tengah Renaga lakukan. Betapa terkejutnya Zavia kala menyadari sesuatu yang ada di tangan renaga. Meski sebenarnya dia sudah mengakui perasaan sebelum ini, Zavia tetap saja malu hingga dia berusaha menarik paksa foto itu.
"Eits, kamu ketahuan menyimpan fotoku bertahun-tahun ... secinta itukah, Zavia?"
Tubuh tinggi Renaga sangat mudah untuk membuat istrinya kebingungan meraih foto yang kini ada di tangannya. Zavia mendadak salah tingkah hingga melampiaskan perasaannya dengan mencubit perut Renaga kuat-kuat.
"Cepat balikin!! Ih yang Kakak cari obat ya ... ngapain juga pakai periksa laci segala?"
Sungguh sangat jauh sebenarnya, obatnya ada di atas nakas dan sudah disiapkan beserta air minumnya. Namun, yang terjadi justru berbeda dan Renaga justru mencari sesuatu yang ada di laci meja, memang dasar tidak amanah.
"Entahlah, mungkin sudah takdirnya," jawab Renaga enteng kemudian tertawa pelan dan hal itu sukses membuat Zavia geram.
"Jangan becanda, buruan balikin!!"
"Kenapa? Ini fotoku, kamu mengambilnya tanpa izin dan bisa-bisanya dicetak begini? Harusnya fans fanatik seperti kamu aku denda."
"Aku cetak fotonya? Kurang kerjaan, itu Giska yang kasih," ujar Zavia membela diri dan sedikit tidak suka Renaga sebut sebagai fans fanatik seorang Renaga.
"Oh iya? Anggap saja aku percaya," jawab Renaga tidak mau kalah dan kini pria itu memilih mundur demi menghindari Zavia.
"Serius, memang itu Giska yang kasih ... bukan foto Kakak saja, Fabian juga ada di sana," tegas Zavia melangkah maju sembari terus berusaha merebut selembar foto itu.
"Iya aku tahu, tapi yang kamu beri tulisan di belakangnya hanya ini, 'kan? Hahaha ini bukan tulisanmu sekarang, aku yakin sudah lama karena masih kecil-kecil begini hurufnya."
Tebakan Renaga memang tidak meleset, foto itu sudah sangat lama, begitupun dengan tulisannya. Akan tetapi, Zavia lupa untuk mengembalikanya ke tempat yang lebih aman setelah sempat dia keluarkan beberapa waktu lalu.
Zavia yang terbawa suasana masih terus mengikuti langkah Renaga hingga tanpa sadar kakinya kini bersentuhan dengan tempat tidur. Kembali dia dapati sang istri benar-benar sedekat ini, naluri Renaga sebagai laki-laki tidak dapat dibohongi.
Zavia masih terus berusaha tanpa tahu apa si otak suaminya. Dia yang bergelayut begini hanya membuat Renaga meremang. Tidak ingin membuang kesempatan, Zavia kini memekik seketika kala Renaga menariknya hingga menimpa tubuh sang suami di atas tempat tidur.
"Kamu mau apa, Zavia? Lakukanlah, aku pasrah."
Dunia keduanya berbalik, sudah berapa kali dia terjebak dalam pelukan Renaga secara tidak sengaja hari ini. Sejenak Zavia melupakan keadaan genting ini, dia tetap menginginkan foto itu kembali.
"Keras kepala juga, kamu ingin bermain-main denganku sepertinya ... baiklah, dengan senang hati, Zavia."
Semudah itu jika Renaga sudah bersedia, dalam sekejap tubuh keduanya kini berbalik dan dia yang berada di atas. Begitu leluasa Renaga memandangi sang istri yang juga tengah menatapnya tanpa kata.
__ADS_1
"Lawan, Zavia ... berontak atau setidaknya tolak, tolonglah."
Renaga membatin, melihat istrinya yang justru pasrah tanpa perlawanan seakan mempersilahkan Renaga melakukan apapun justru menjadi sebuah siksaan.
Lebih menyebalkan lagi, Zavia justru meraih telapak tangannya yang kemudian diarahkan ke kening semakin membuat firasat Renaga memburuk.
"Kakak sudah hapal doanya, 'kan?" tanya Zavia kala tangan Renaga sudah tepat menyentuh keningnya.
"Do-doa apa? Kita belum mau tidur."
Mencoba mengalihkan pembicaraan meski sebenarnya radar Renaga sangat kuat malam ini. Zavia berdecak pelan kemudian meminta Renaga untuk menyingkir dari atas tubuhnya, dengan posisi duduk dan kini Zavia kembali mangatakan hal yang sama.
"Ya doa, kata Ustadz kemarin sebelum begitu harus baca doa dulu."
"Supaya apa?"
"Kan Kakak dengar sendiri kemarin, aku lupa mau jelasin detailnya," jawab Zavia mendadak merah padam lantaran pertanyaan Renaga.
Hal semacam ini bukan hal tabu bagi Renaga, dia mendalami Islam sejak lima tahun lalu. Tentu saja tidak hanya tentang hal yang wajib saja dia dalami, tapi memang dia benar-benar mempelajari hal-hal yang bahkan Fabian dan Zavia saja tidak pelajari.
"Kamu benar-benar siap, Zavia? Kalau sakit bagaimana?"
Jika biasanya wanita yang takut dengan rasa sakit di saat dieksekusi, mereka justru sebaliknya. Renaga bukan tidak mau, tapi khawatir jika tetangga sebelahnya tahu, kemungkinan besar dia disunat dua kali.
"Kata Mama."
Demi apapun, Renaga saat ini memejamkan mata seraya menghela napas panjang. Sebelum dinikahi bak wanita anti disentuh, didekap saja bisa demam bahkan ketika menciumnya saja harus curi-curi kesempatan.
Sungguh, sama sekali tidak Renaga duga jika dikamar seorang Zavia yang selalu memilih diam dan enggan menatapnya akan se-agresif ini. Agresif? Anggap saja begitu, wanita ini tengah menggodanya meski memang tidak meliuk-liuk layaknya seorang penghibur.
.
.
"Kenapa cuma diam? Kemarin malam Kakak juga belum mau sentuh aku, dipijat juga tidak mau, tadi siang aku mau olesin minyak ke perutnya Kakak juga sampai bilang jangan sentuh aku, Zavia."
Renaga terdiam seraya menahan tawa kala Zavia menirukan gaya bicaranya. Pemilik tubuh sudah sepasrah ini, tapi mau bagaimana lagi Renaga sudah telanjur berjanji.
"Aku tanya kenapa? Dan malam ini Kakak terlihat ragu, wajar dong aku sampai tanya ... tujuh tahun di sana, Kakak tidak salah jalan, 'kan?"
"Maksudmu?" Renaga sontak mengerutkan dahi mendengar pertanyaan konyol yang sedikit menyentil hati nuraninya.
"Normal, 'kan? Atau Kakak impoten? Jika memang iya, jujur saja aku tidak masalah, kita bisa cari cara supaya Kakak sehat nanti." Zavia berucap lembut serya menatap lekat netra Renaga yang sejak tadi terus memandangnya.
__ADS_1
"Kamu meragukan kelelakianku, Zavia?"
Ingin marah, tapi yang bicara adalah istrinya. Baru juga dua hari, belum dua bulan seperti janjinya pada Mikhail. Bahkan, jahitan di kepalanya mungkin baru perlahan kering.
"Sedikit ... karena dari yang aku pelajari, kalau sudah suami istri biasanya tidak bisa menahan diri. Bahkan, teman kuliahku yang nikah semester tiga dia bilang pas pengantin baru dia bahkan tidak beranjak dari tempat tidur, sementara kita begini-begini saja. Kalau cuma peluk sedikit seperti tadi siang ya tidak perlu menikah, tunda saja beberapa tahun lagi."
Renaga mengusap wajahnya kasar, bagaimana dia harus menjelaskan jika sudah begini. Jika ditanya ingin atau tidak jelas saja iya, bahkan jika bisa dia ingin membawa Zavia melayang ke awang-awang sejak malam pertama.
"Sayang, kamu belum sembuh total ... andai nanti terjadi apa-apa, atau kepalamu mendadak sakit di tengah-tengah ritual kita, kamu sendiri yang malu."
"Kita mau sebrutal apa memangnya sampai sakit kepala?"
Mulai, sikapnya yang tidak pernah mau mengalah kini keluar. Renaga menggigit bibir dan menyesali perbuatannya yang sengaja memancing Zavia beberapa menit lalu.
"Kakak khawatir Opa marah, setelah kita menikah beliau berpesan jangan pernah menyentuhmu dalam waktu dekat."
"Apa kita akan mengumumkan segala sesuatu yang bersifat privasi? Orang bodoh mana yang menceritakan kegiatan malam pertamanya, Kak?"
Godaanny semakin tebal, iman Renaga kian tipis. Sejak tadi miliknya sudah bereaksi, bahkan sejak awal Zavia berada di atas tubuhnya. Kini, pembicaraan mereka justru seakan membakar sekujur tubuh Renaga, demi Tuhan dia ingin meraung malam ini.
"Jadi tetap tidak mau? Aku hitung sampai tiga ya ... kalau Kakak tidak mau, berarti benar ada yang salah dalam diri Renaga Anderson."
Zavia berdiri dan kini melipat kedua tangannya di atas perut. Renaga yang bingung dan mengerti istrinya tampak marah hanya bisa mendongak menatapnya.
"Sayang, kenapa pikiranmu jadi begitu?"
"One ...."
"Astaga, dia benar-benar gila sepertinya."
"Two ...."
Renaga menghela napas kasar bahkan telapak tangannya kini terasa dingin. Setelah menikah kenapa dia jadi secupu ini, bisa-bisanya dia takut dengan ancaman Mikhail sementara Zavia seakan memaksanya melanggar janji itu.
"Two ... Two ...."
"Oke, thre_"
.
.
- To be Continue -
__ADS_1