Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 06 - Bayar?


__ADS_3

Tidak ada usaha yang sia-sia, tekat Christ untuk meluluhkan seorang wanita yang berhasil mengusik mimpinya itu semakin kuat saja. Terlebih lagi, semalam dia sudah memastikan tempat tinggalnya.


Sebenarnya bisa saja dia meminta seseorang untuk memata-matai Giska. Hanya saja, sejak dahulu Christ memang tidak lagi melibatkan bawahannya dalam hal asmara. Akan lebih baik dia yang melakukan sendiri, hal ini dilakukan demi menghindari kejadian salah tangkap.


Dia tidak ingin mengalami kejadian konyol seperti beberapa tahun lalu yang membuat Christ trauma. Cukup sekali dia meminta Liam, sang asisten yang justru menangkap seorang lansia untuk mencari teman kencan Christ di malam tahun baru.


"Sibuk sekali dunianya."


Begitu jelas dia melihat Giska dengan kesibukan yang bahkan dimulai dari pagi hingga kini tepat di jam makan siang. Padahal, tadi malam dia masih keluar rumah dan bisa dipastikan tidur cukup larut juga.


Tidak tanggung-tanggung, Christ bahkan mengikutinya hingga siang hari. Pria itu tersenyum tipis lantaran merasa ini adalah celah paling besar untuk membuatnya terjerat dalam hubungan yang lebih dekat lagi.


One night stand bukan satu-satunya jalan untuk membuat seorang wanita terikat. Ada banyak hal yang bisa dia gunakan untuk membuatnya tidak mampu berpaling. Salah-satunya, ialah janji kemarin.


Ya, Giska punya janji yang hingga saat ini tidak dia tepati. Christ akan mengejar janji itu tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Christ mencari tahu lebih dalam tentang Giska dengan pendekatan yang dia siasati sendiri.


"Excuse me ... boleh aku duduk di sini?"


Setelah cukup lama bersabar hingga memiliki kesempatan untuk bisa duduk di dekatnya, wanita yang membuat Christ bahkan bingung sendiri selama berhari-hari.


"Kau diam, aku anggap iya."


Giska masih terdiam begitu sadar siapa yang kini duduk di hadapannya. Sama sekali Giska tidak lupa, mana mungkin dia mampu melupakan seorang pria yang sempat tidur seranjang dengannya. Ya, walau jujur saja sepenuhnya dia tidak begitu ingat, tapi yang jelas Giska meninggalkannya di saat tengah sadar se-sadar-sadarnya.


"Kau ingat aku? Seharusnya ingat ... hm I'm Christ, kita pernah tidur bersama satu minggu lalu."

__ADS_1


Giska mengerjap pelan mendengar cara Christ memperkenalkan diri. Sedikit berbeda dan lebih terkesan sangat terbuka. Giska melirik sekelilingnya, khawatir jika hal semacam itu terdengar orang lain.


"Sudah ingat?"


"Tidak."


Giska terlalu malas untuk memikirkan itu. Dia memilih kembali fokus menggulir laman sosial media di ponselnya, menurutnya lebih baik memanfaatkan waktu dengan hal semacam itu dibandingkan mengulik kembali hal yang susah payah dia lupakan itu.


"What? Tidak?"


Sekali lagi, Christ benar-benar merasa terhina kala mendengar jawaban tidak dari Giska. Selama ini, dia yang bahkan melupakan begitu banyak wanita sekalipun telah tidur bersamanya.


Namun, kini keadaan justru berbalik dan dia dihadapkan dengan wanita seperti Giska. Wanita yang sama sekali bukan tipenya, tapi berhasil membuat Christ menggila. Pria itu mengepalkan tangan dan menatap Giska dengan binar kekecewaan.


"Sial, dia tidak peduli padaku? Aku benar-benar dibuang begitu saja?"


Merasa kehadiran Christ sedikit mengganggu, Giska beranjak pergi tanpa permisi. Sontak pria itu turut mengejar kemana langkah Giska, dengan penuh kemarahan yang tidak bisa dia pendam Christ menarik pergelangan tangan Giska hingga wanita itu membentur dadanya.


"Aaaarrggghh, bisakah kau sopan sedikit?" kesal Giska menatap kesal wajah pria tinggi yang berhasil membuat lehernya terasa sedikit pegal.


"Kau mengabaikanku, kau yang tidak sopan!!"


Pertemuan pertama setelah pencarian cukup lama. Christ sedikit kecewa entah apa alasannya, padahal mengabaikan orang lain adalah kebiasaan Christ sejak lama, bukankah seharusnya dia berkaca.


Christ masih tidak melepaskan genggaman tangannya, tidak peduli sekalipun Giska akan marah. Yang jelas, dia sudah susah payah mencari, setidaknya ingin dihargai, itu saja.

__ADS_1


"Soal malam itu, aku minta maaf ... terima kasih sudah memberikanku tempat tidur yang layak, jika kau minta ganti uangnya temui saja aku bulan depan, gajiku bulan ini sudah habis."


Christ lagi-lagi berdecih dan menatap kesal wanita sombong ini. Apa katanya tadi? Akan dia ganti? Dasar gila, bahkan jika mau Christ bisa memberikan hotel itu untuk Giska cuma-cuma.


"Cih, sebelum kau membahas hal itu ... ada baiknya kau memenuhi janjimu dulu, Nona."


"Janji? Janji apa?"


Giska mengerutkan dahi, dia bahkan tidak mengingat bagaimana kronologi dia bisa berakhir dalam pelukan pria ini. Lantas, dimana letak Giska mengucapkan janji, pikirnya.


"Iya janji, kau pernah mengatakan akan memberikan apapun untukku andai kuizinkan menangis di pelukanku," jelas Christ kemudian dan semakin membuat Giska bingung, demi apapun dia benar-benar lupa dan tidak merasa memberikan janji sekonyol itu.


"Jangan membual, aku tidak pernah mengatakan apapun."


"Heh?"


"Sudahlah, lepaskan tanganku ... aku sangat sibuk jadi berhenti mengusikku. Malam itu tidak terjadi apa-apa bukan? Aku sudah berterima kasih, lalu apa lagi?"


"Setidaknya kau membayar pelukanku, Nona."


"Hadeuh sudah kuduga laki-laki bayaran ... mana cuma pegang uang sedikit, apa aku bayar saja ya biar ni anak diam. Kan bahaya juga sampai dia bawa kasus ini ke media, Gavi baca bisa turun harga diriku. Ah tapi kan bukan mauku, salah dia main ajak ke hotel begitu ... dompetku makin tipis, aih berguna sekali hidupmu, Giska!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2