Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 47 - Ujian Suami


__ADS_3

Hangat, alam bawah sadar Zavia masih dapat merasakan kenyamanan yang belum pernah dia temukan sebelumnya. bantalnya bahkan terasa lebih empuk, apa mungkin sengaja diganti? Zavia tidak peduli tentang itu, yang jelas kualitas tidurnya sangat amat baik malam ini.


Zavia meraba sekeliling, dia ingin mendekap guling itu lebih erat lagi. sungguh, Zavia merasa haus bahkan ingin memeluknya lebih erat lagi. Tapi tunggu, kenapa aromanya berbeda? Aroma khas guling yang bertahun-tahun tidak dia cuci itu hilang begitu saja.


"Kok dicuci sih, Ma ... baunya kan jadi beda."


Dia meratapi nasib guling kesayangan yang kini nyata terasa berbeda. Memang sangat hangat dan nyaman, tapi tidak seperti biasanya. Suaranya terdengar serak, lenguhan dan sedikit rengekan cukup menggemaskan untuk didengar seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya.


"Protes, tapi suka juga."


Sudah hampir tiga puluh menit Renaga memandangi wajah Zavia yang kini terlelap dalam pelukannya. Diberikan kesempaatan untuk bisa memandanginya dari jarak yang begitu dekat selalu membuat Renaga takjub.


Jatuh cinta setiap hari, perasaannya benar-benar sama seperti mereka masih remaja. Jantung Renaga seakan berpacu lebih cepat setiap kali menatapnya. Semalam dia tidur sudah cukup larut, tapi anehnya menjelang fajar dia bahkan sudah terbangun.


Mungkin dia adalah yang pertama kali bangun di rumah ini, semua memang masih sunyi dan benar-benar gelap. Renaga pasrah saja menerima posisi tidur Zavia yang terkadang hanya bertahan sepuluh menit lalu berganti lagi.


"Benar-benar tidak bisa diam, mimpi apa sebenarnya?"


Selagi dia bisa melihat wajahnya maka tidak masalah, Renaga tidak perlu ikut berpindah. Sudah bawaan lahir, sejak awal Evan sudah jelaskan bahwa Zavia banyak kurangnya.


"Aaaugh."


Belum juga kering bibir Renaga, tangan Zavia kembali menelusuri bagian perutnya seakan tengah mencari sesuatu, entah apa. Hingga Renaga menggigit bibirnya kala tangan Zavia menelusuri bagian bawah perutnya.


"Zavia jangan di sana!!"


Dalam keadaan sadar dipeluk saja wanita ini gemetar, bahkan sedikit enggan membalas. Anehnya ketika sedang terlelap mendadak agresif hingga Renaga merinding dibuatnya.


Meski sebenarnya itu adalah hal yang menyenangkan bagi laki-laki, tapi bagi Renaga ini adalah ancaman. Dia tidak ingin dibuat lebih gila lagi pagi ini. Terpaksa pria itu menahan pergelangan tangan Zavia seraya menghela napas panjang.


"Eeeungh."

__ADS_1


Dia melenguh seraya mencoba membebaskan tangannya, Renaga menelan salivanya susah payah kala Zavia kembali melakukan hal yang sama. Tampaknya Zavia sengaja menyiksa dengan suara semacam itu, sudah tahu imannya masih lemah.


Kau tahu keadaan cucuku bagaimana, Renaga? Benar, jadi jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya dalam waktu dekat ... sampai melanggar, Opa sunat dua kali Beo-mu, mau?"


Aga janji, Opa, tidak akan melanggar larangan Opa sampai nanti Zavia benar-benar pulih.


Renaga memejamkan mata seraya mengingat ancaman Mikhail yang cukup membuat batin Renaga tertekan. Tidak lucu jika benar-benar sampai disunat dua kali. Tapi bagaimana dia bisa bertahan dengan janji kepada Mikhail, jika cucunya saja mendadak jadi penggoda ketika tidur.


Tidak ingin semakin panas, Renaga memilih berlalu ke kamar mandi. Meski sedikit gila berendam sepagi ini, tapi dia tidak punya cara lain. Istighfar tidaklah cukup, sejak tadi Renaga sudah lakukan tapi memang istrinya tidak bisa dikendalikan.


"Aku terlalu percaya diri sampai lupa yang melindunginya banyak sekali."


Kemarin dia seyakin itu dengan menikahi Zavia maka bebas melakukan segalanya. Namun, realita memang tidak seindah ekspetasinya. Jangankan menuntut haknya, mengecupnya saja Renaga khawatir lantaran tidak bisa menjamin dia bisa menahan diri.


.


.


Gemericik air terdengar samar, Zavia yang kini tersadar begitu mendengar alarm pagi ini tengah berusaha mengerjap pelan. "Siapa di kamar mandi? Apa Azka_ astaga aku lupa." Sungguh, dia baru saja menyadari jika sejak semalam sudah diperistri Renaga.


Selang beberapa lama, Renaga keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Zavia yang sejak tadi merapikan tempat tidur, berusaha fokus meski Renaga yang kian mendekat sedikit mengusik penglihatannya.


Kali pertama dia melihat Renaga bertelanjang dada begitu. Sebuah pemandangan yang tengah menjelaskan jika Renaga sudah benar-benar dewasa, tubuhnya bahkan sudah persis paman kesayangan Zavia, Sean.


"Sayang bajuku dimana?"


"Hah?"


Pikiran Zavia tampaknya kurang fokus, Renaga bertanya dimana bajunya tapi otak Zavia mencernanya sedikit berbeda. Dia mengerjap pelan bahkan selimut yang hendak dia rapikan terlepas begitu saja.


"Pakai sendiri saja, Kak."

__ADS_1


Renaga sontak tertawa sumbang mendengar ucapan sang istri. Tanya apa jawabnya apa, sebenarnya kebiasaan itu memang sudah lama, tapi kali ini sunggguh terdengar lucu saja bagi Renaga.


"Iya pakainya sendiri, tapi dimana bajunya? Semalem di situ, sekarang tidak ada lagi."


Renaga menunjuk meja kecil yang menjadi tempat tas kecilnya diletakkan. Tadi malam mereka memang tidak masuk bersamaan, Sudah tentu zavia yang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.


"Oh, sebentar aku ambilkan."


Zavia bergegas membuka lemari pakaiannya, demi Tuhan malu sekali rasanya bahkan jika bisa Zavia ingin memukul kepalanya sendiri. Kenapa bisa otaknya menangkap hal yang berbeda padahal jelas-jelas Renaga bertanya dimana, bukan minta dipakaikan bajunya.


"Zav, ibadah yuk," ucap Renaga seraya menerima pakaian yang sudah Zavia persiapkan untuknya, sempat khawatir akan terjadi drama Zavia geli menyiapkan sesuatu yang pribadi miliknya, tapi sepertinya tidak demikian.


"Ibadah?"


"Hm, kenapa mukanya gitu?"


"T-tapi ini, 'kan hampir pagi, Kak ... bukan malem lagi," jawab Zavia masih mengerutkan dahinya, sontak Renaga ingin menggigit bibirnya itu.


"Shalat, kamu pikir ibadah apa?" tanya Renaga tertawa sumbang lantaran tidak habis pikir kenapa otak Zavia justru terkontaminasi melebihi Azkara.


"Oh, jelas-jelas makanya ... aku jadi salah paham."


Tidak ingin lebih malu lagi, Zavia segera berlalu ke kamar mandi. Mungkin terbawa suasana lantaran sejak tadi senyum Renaga selalu tak terbaca dengan tatapannya yang begitu penuh damba.


"Zavia!!" teriak Renaga yang ternyata mengekor dan menahan pintu kamar mandi kala Zavia hendak menutupnya.


"Apa lagi?" tanya wanita itu gugup, Mikhayla pernah berkata bahwa ucapan laki-laki kadang tidak dapat dipercaya.


"Wudhu saja, jangan mandi," ucap Renaga lembut, Zavia memang masih dilarang untuk mandi dan dia khawatir saja jika istrinya sedikit pikun kali ini.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2