Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 09 - Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

Meski terlihat begitu malas karena memang di sana masih pagi, Fabian tetap mengiringi Zavia dan Renaga bernyanyi di hari ulang tahun Giska. Hal kekanak-kanakan yang sedikit Fabian anggap kurang kerjaan, anehnya Renaga justru mau saja Zavia minta melakukan hal ini.


"Make a wish, Gis ... nanti kita aamiin-kan sesuai kepercayaan masing-masing."


Fabian berbicara dengan suara khas ngantuknya. Dipaksa bangun pagi oleh Zavia demi ulang tahun virtual Giska membuat pria itu hidup segan mati tak mau.


"Jangan yang susah-susah, minta jodoh saja ... yang pasti kaya raya, lebih tampan dan sukses dari Gavi."


Giska tidak menggubris ucapan Fabian, wanita itu mulai terpejam dan menyebutkan harapan-harapan baik di usianya yang sudah cukup dewasa ini.


"Selamat ulang tahun, Giska ... semoga tahun ini dan seterusnya kamu dilimpahkan kebahagiaan lahir dan batinnya. Ehm apalagi ya, kak Aga mau lanjutin doanya?" tanya Zavia menatap Renaga yang hingga kini masih memeluknya.


Renaga masih selalu konsisten setelah menikah. Terlihat jelas dia sangat berbatas dengan Giska, tidak ada candaan atau apapun yang menunjukkna jika mereka masih sahabat.


"Ehm jaga kesehatan, itu saja."


Empat tahun berturut-turut, hanya itu yang Renaga katakan. Giska yang kemarin nekat minum alkohol mendadak merasa bersalah pada Renaga. Jika saja Renaga tahu dia melakukan hal itu, kemungkinan besar Renaga akan meminta kembali sepotong hati yang sempat diberikan dahulu, pikir Giska.


"Cuek banget, Kak heran deh ... apa karena di sebelah ada istri?" tanya Fabian yang tampaknya memang suka membuat seseorang terjebak dalam masalah.


"Diam kau, Bian!! Shalat subuh sana, ini hampir pagi."


"Nanti, masih ada waktu sedikit ... oh iya aku mau tanya, dari tadi mataku fokus ke kerudung Zavia, rada mirip sarungmu, Kak."


"Memang iya, kenapa? Lucu ya?"


"Lucu dari mana? Persis maling iya."


Giska sejenak melupakan beban pikiran tentang 2700 euro yang harus dia bayarkan pada Christ itu. Interaksi mereka membuat Giska mengulas senyum, sayangnya untuk saat ini dia lebih nyaman sendiri hingga belum memiliki pikiran untuk kembali.


"Giska dari tadi diam saja, terharu, Gis?"


Sudah jelas terharu dan Fabian masih bertanya. Sungguh, ingin sekali Giska menarik rambut Fabian andai mereka berdekatan.

__ADS_1


"Terharu lah, terima kasih semua ... berkat kalian, aku tersadar kalau sudah semakin tua."'


"Belum tua-tua banget, Gis. Tua tu Opa-nya Zavia, kalau kita belum tua."


"Beda cerita itu, pokoknya terima kasih ya ... titip peluk untuk Aruni ya, Via. Miss you tomat bilangin."


"Halah bullshit!! Jangan, Via. Dia bilang miss you, tapi tidak pernah pulang-pulang ngapain," ucap Fabian yang menerobos begitu saja padahal Giska sama sekali tidak mengucapkan itu untuknya.


Cukup lama mereka berbincang kali ini. Setelah Giska fokus dengan karir dan pekerjaan memang cukup sulit untuk mereka sekadar menuntaskan rindu secara uma-cuma. Malam ni saja mereka bisa berkumpul secara virtual begini juga atas kehendak Zavia.


Pembicaraan mereka semakin serius, hingga tiba dimana Fabian melontarkan sebuah pertanyaan yang tidak bisa Giska jawab seketika. "Belum juga? Astaga, Gavi bakal nikah minggu depan loh."


"Ya apa hubungannya? Terserah dia dong mau nikah kapan, kan hak dia," ketus Giska dengan suasana hati yang mendadak buruk lantaran Fabian mengulik masa lalunya yang pahit bak ikan pecah empedu itu.


"Benar juga sih, tapi setidaknya buka hatimu, Gis ... berikan dia kesempatan untuk mencintai seseorang lagi. Kamu cari yang bagaimana memangnya? Kalau yang seperti kak Aga memang langka, kemarin kak Anggara kamu cuekin juga parah."


Ini yang Giska tidak suka jika sudah berbincang bersama Fabian di hadapan Renaga ataupun Zavia. Mulutnya sama sekali tidak punya privasi dan membuat pasangan suami istri itu justru menduga-duga.


"Anggara? Temanku SMA dulu, 'kan?"


Selang beberapa lama, panggilan itu baru berakhir kala Zavia harus menjalani perannya sebagai ibu. Sedikit lucu, Giska bahkan tertawa dan menganggap Zavia masih sekecil itu. Dia lupa jika usia mereka memang sudah sah-sah saja menjadi seorang ibu.


"Mereka sangat bahagia, kak Aga sehat dan Zavia juga begitu ... syukurlah, tidak sia-sia aku pergi sejauh ini."


Giska tidak menyesali keputusan yang dia ambil sebagai jalan tengah beberapa tahun lalu. Entah benar atau tidak, tapi dia yakin dengan kepergiannya maka tidak akan ada bayang-bayang dirinya dalam rumah tangga Zavia yang membuat wanita itu sedikit khawatir jika terlalu bahagia.


Kembali sendirian, Giska melihat ke arah pintu dan berharap keluarganya akan memberikan kejutan dengan membawa kue ulang tahun malam ini. Sialnya, hal itu tidak akan ada, sungguh menyebalkan.


"Eh tunggu sebentar, jangan-jangan ini mereka?"


Giska sontak kembali masuk ke dalam selimut kala menyadari pintunya hendak dibuka dari luar. Kakinya tidak bisa diam di dalam selimut, dia berharap sekali kejutan yang sama akan dia dapat juga saat ini.


"Ahahah sudah kuduga Mama biasanya suka melakukan hal yang tidak terduga."

__ADS_1


"Giska, sudah tidur belum?"


"Aih? Kenapa ngasih kejutan pakai nanya begitu?"


Firasat Giska mulai tidak enak, hingga dia membuka selimutnya perlahan. Benar saja, tidak ada kue atau balon yang dibawa masuk ke kamarnya. Saat ini hanya tampak sang mama tengah menjelejahi kamarnya.


"Huft, cari apa sih, Ma?"


"Obat sakit gigi kamu mana, Gis? Mama minta dong, yang di kamar abis."


.


.


- To Be Continue -


MOHON DIBACA!!!!


Hai semua, sebelum lanjut mohon matanya dibuka lebar-lebar untuk membaca ini. Sebelumnya aku minta maaf untuk yang merasa dikecewakan dengan season satunya, terutama tim Zavia yang merasa kisah mereka terlalu singkat dan didominasi sama Giska. Aku mau jelaskan dulu alasan kenapa Giska dilahirkan di season dua dan tidak aku hilangkan di season satu (Dibuat mati) itu karena beberapa pembaca tidak ingin itu terjadi. Ya walau tim Giska ternyata ada yang berharap Zavianya mati dan lain-lain, aku masih berpikir ribuan kali.


Aku membawakan kisah ini cukup sulit, tepatnya sangat-sangat sulit karena beberapa orang dari tim Giska terutama itu meluapkan kekesalannya di kolom komentar bahkan menunjukkan betapa gak sukanya sama tokoh Renaga-Zavia ini sejak season satu. Sampai berharap di cerita Giska mereka berdua tidak ada sama sekali, atau ada yang berasumsi "Tidak perlu masukin mereka lagi, lagian udah bahagia ngapain."


Namun, di sisi lain aku memikirkan pembaca yang suka Zavia masih merasa tidak puas dan bilang kecewa (Ahay kecewa, emang gue ngapain lu bisa kecewa sama gue). Buat yang mau kecewa coba pikirin dulu, kecewa karena apa? Karena ga seseru pendahulunya? Atau karena ga semanis yang lainnya? Kalian kecewa? Aku juga, terlebih sama pembaca yang ternyata baca kisah emaknya dan gapernah nongol di lapak emaknya tau-tau komen di lapak Zavia dengan kalimat "Kirain seru kek emaknya, ternyata B aja."


Kalian kecewa dengan hasil kerja kerasku selama 3 jam bahkan sampai ketiduran yang kalian baca hanya tiga-lima menit itu. Satu hal yang aku tidak pernah janjikan adalah "Kalian pasti suka dengan setiap yang aku tulis." Aku gapernah janji akan memenuhi itu, but aku tetap minta maaf untuk yang memang merasa dikecewakan khususnya.


Balik lagi ke novel ini, untuk pembaca Zavia dan Aga yang merasa kurang karena momennya singkat, jangan khawatir. Sudah aku pertimbangkan dan aku akan kembali memasukan kehidupan Renaga Zavia setelah menikah di sini, jadi biar adil karena Giska di season satu sudah mendominasi.


Teruntuk tim Giska yang kalau komen rada nyahok awas saja kalau sampai nemu komentar "Thor gausah masukin lagi mereka, Ih ngapain sih ada Renaga-Zavianya jijik banget deh, Aku skip babnya karena yang kutunggu cuma Giska dan lainnya." Aku ingatkan dari awal JANGAN kalau gamau isi bab Giska itu kuganti pakai pantun, karena di sini aku juga memikirkan tim Zavia yang merasa kisah mereka kurang banyak.


Jangan sampai juga ada yang bilang Authornya tim Zavia nih makanya kisah mereka dimasukin lagi. Buka dulu pikirannya kalau mau komen, ada berapa Bab season satu isinya Giska? Juga, season dua sudah aku tulis yang dikhususkan untuk kalian, jadi mohon banget nih setelah ini kita saling menghargai ya ... ❣️❣️


Capek shay tiap bab selalu nemu komen keluhan😌 di season satu tim Giska ngamuk-ngamuk, di season dua tim Zavia yang mengutarakan kekecewaan dan lainnya. Aku mencoba untuk berada di tengah-tengah dan memberikan apa yang kalian mau. Andai tidak sesuai dengan kehendak hatinya ya jangan kecewa, aku tidak pernah berjanji akan memuaskan banyak hati dari awal.

__ADS_1


Aku bukan Tuhan yang bisa kalian harapkan akan memenuhi keinginan kalian satu persatu, Guys😌 tapi bagi aku di antara seluruh novel yang aku buat ... Mahligai Impian season satu dengan konflik utama mereka bertiga itu versi paling baik, karena setiap babnya aku ga asal tulis dan butuh berjam-jam untuk selesai satu eps karena memang melibatkan emosi, bukan sekadar haha-hihi (itu poin season satu). Mungkin banyak yang tidak setuju, terkhusus yang cari bahan bacaan ringan untuk sekadar hiburan. (Renaga-Via hanya salah lapak, mungkin).


Terima kasih sudah membaca sampai tuntas, sengaja tidak aku buat di bab pengumuman karena biasanya hanya dilewati. Maaf jika kalimatku ada yang menyinggung semoga kedepannya aku lebih baik lagi. Love you, Guys❣️


__ADS_2