Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 02 - Merindu


__ADS_3

Terlalu sakit memendam semuanya sendiri, malam itu Giska benar-benar meluapkan lukanya. Tangis dan air mata, umpatan serta makian yang membuatnya berakhir di tempat tidur bersama seorang pria asing yang kini mendekapnya begitu erat.


Mata Giska perlahan terbuka, jantungnya berdegub tak karuan dan mendadak ingin memukul pria yang begitu lancang padanya. Apa yang terjadi semalam? Giska sama sekali tidak mengingatnya.


Susah payah Giska mengingat semuanya, tapi yang dia ingat hanya potongan-potongan kecil kala dia meminta seorang bartender menuangkan minuman untuknya. Setelah itu, dia lupa.


"Apa yang sudah kau lakukan, Giska."


Masih dengan kepalanya yang sedikit sakit, Giska melepaskan diri dari pelukan pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya ini. Tidak ada yang Giska pikirkan saat ini selain pergi. Terlebih lagi, kala dia melihat cincin yang kini tersemat di jari manis pria tampan itu.


Tampan? Iya, Giska akui itu. Pria asing itu memang sangat tampan, tapi untuk saat ini sama sekali tidak penting. Giska melupakan hal gila ini, persetan dengan apa yang dia lalui tadi malam. Yang jelas saat ini Giska segera berlalu usai memungut blezernya.


Penampilan yang kini acak-acakan sangat mendukung jelas firasatnya bahwa telah hancur dalam semalam. Namun, sekuat mungkin Giska menepis fakta itu dan meninggalkan hotel untuk segera pulang ke rumahnya.


Tanpa dia sadari, jika kepergiannya adalah awal bencana hidup Giska. Saat ini mungkin dia benar-benar lepas, meninggalkan seorang pria yang kebingungan kala merasakan kesendirian.


Immanuel Christ Wilbert, putra sulung keluarga Wilbert yang merupakan konglomerat berkebangsaan Jerman dengan kekayaan yang tersohor di negaranya. Nama ayahnya dikenal sebagai pebisnis kelas atas di berbagai kota dengan pengaruh yang tidak main-main.


Sementara Christ juga cukup terkenal di kalangan banyak wanita. Ketampanan dan kekayaan yang dia punya, serta statusnya sebagai pewaris Wilbert Company cukup untuk menjadi alasan Christ digandrungi banyak wanita.


"Sial!! Dia pergi begitu saja? Cih, apa aku sedang dihina sekarang?"


Christ mengumpat sepanjang langkahnya. Setelah sempat memeriksa toilet dan balkon di kamar hotel, dia kini turun untuk mencari wanita yang tadi malam bersamanya.


Rahangnya kini mengeras, sungguh merasa tengah dibuang begitu saja oleh wanita. Pria itu melangkah penuh amarah dan kini menjadikan seorang security sebagai sasaran utamanya.


"Ciri-cirinya bagaimana, Tuan? Kami tidak mengerti ucapanmu."


"Cantik, tingginya segini."

__ADS_1


Sama-sama frustrasi, baik Christ maupun security itu mungkin sama-sama gila. Christ hanya memperkirakan tinggi badan wanita itu yang hanya sebatas dada. Dia cantik, dan juga wangi.


"Bisa Anda ulang sekali lagi, Tuan? Sebutkan ciri-cirinya secara spesifik," pinta seorang security berkumis tebal itu.


"Cantik, tinggi mungkin sebatas dadaku dan ...."


"Yang lain, Tuan."


"Wangi, aku sempat mencium lehernya semalam."


Sejak kapan seseorang menyebutkan aroma untuk modal dalam mencari keberadaan seseorang. Kedua security itu menghela napas panjang, bingung sendiri cara menghadapi putra pemilik hotel ini.


"Ada baiknya cek CCTV saja, kebetulan sejak pagi tadi pengunjung kita memang wangi semua, tidak ada yang bau."


"Aku tidak bertanya," pungkasnya tak suka, mata Christ menatap malas mereka berdua.


CCTV, benar!! Kenapa tidak dari tadi dia menjadikan itu sebagai jalan pintas. Christ bergegas mencaritahu pergerakan wanita yang belum dia ketahui siapa namanya itu. Bukan tidak berkenalan, tapi memang Giska yang tidak mengatakan siapa namanya sekalipun sudah Christ tanya.


"Aku menemukanmu ... urusan kita bahkan belum selesai, berani sekali kau mencampakkanku setelah kesepakatan kita tadi malam."


Dia bergumam, saat ini Christ sama sekali tidak tahu kemana Giska pergi. Yang dia ketahui Giska memang pergi belum lama ini. Sungguh menyebalkan sekali, tadi malam dia harus menyaksikan Giska meratapi kesedihannya.


.


.


"Aku muak, kalian semua sama ... aku membencimu!!"


Christ merenung seraya mengemudikan mobil menuju apartementnya. Niat hati tadi malam untuk bersenang-senang awalnya, dia hanya ingin memanfaatkan kesempatan. Namun, tangisan dan air mata Giska benar-benar membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Izinkan aku menangis di pelukanmu, setelah itu kau boleh meminta apapun yang kau mau."


Christ membuang harapannya. Sepanjang jalan sudah dia perhatikan, tidak ada sosok wanita itu. Harapannya pupus, mungkin memang pertemuan mereka sebatas itu.


Tiba di unit apartemennya, Christ memasang wajah muramnya. Kedua sahabatnya sudah menyambut Christ dengan berbagai pertanyaan, tidak biasanya dia akan datang dengan wajah seperti itu.


"What's wrong, Bro? Kenapa? Tidak virgin lagi?"


"Ck, diam kau!!" sentaknya melemparkan bantalan sofa ke wajah Elden, sahabat karibnya.


"Atau jangan-jangan gagal? Tidak dapat apa-apa?" tebak Max yang menyahut dari kejauhan namun tetap bisa terdengar jelas oleh keduanya.


"Kalian berdua pergilah, aku sampai tidak punya privasi lagi."


Christ menghela napas kasar. Sejak dipercayai memimpin perusahaan keluarganya yang di Munich, Christ memang tinggal terpisah dari orang tuanya di Berlin. Hal itulah yang membuatnya tetap bebas sekalipun dipercayai memimpin cabang perusahaannya di kota yang berbeda.


"Katakan dengan jujur, kau gagal?" tanya Max sengaja mendekat dan menurutnya hal itu satu-satunya kemungkinan yang menyebabkan suasana hati Christ kacau begini.


"Sejak kapan aku gagal? Seorang Christ tidak pernah gagal, tadi malam hanya kesalahan ... dia terlalu mabuk, jadi aku tidak bergairah."


Mana mau dia mengaku jika semalam memang dapat dikatakan gagal. Giska terus menangis hingga telinganya sakit, dan hingga pagi janji Giska sama sekali belum dipenuhi.


"Oh iya? Sejak kapan kau tidak bergairah? Aku ingat-ingat, dia cantik."


"Biasa saja, tubuhnya juga rata ... bukan tipeku Max."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2