
"Menangislah, kalau sudah jadi istriku jangan harap boleh menangisinya."
Cukup lama Christ menunggunya, sengaja dia biarkan Giska menangis, jika perlu air mata tentang Gavi itu mengering malam ini juga. Sejak dahulu dia meragukan keputusan Alana yang hendak kembali pada mantan kekasihnya. Christ pikir Alana bercanda kala itu, nyatanya dia benar-benar serius bahkan kini menikah.
Berbeda dengan sebelumnya, Giska tidak mendelik lagi begitu mendengar ucapan Christ yang selalu berlari ke arah sana. Entah karena dia masih malas untuk bicara, atau memang hal semacam itu sudah tidak masalah. Sungguh, sama sekali Christ tidak mengerti dengan wanita yang satu ini.
"Ice cream, mau?"
Sebenarnya Christ tengah mengejek atau bagaimana, tidakkah dia lihat bagaimana wajah Giska saat ini. Bukannya serius, dia justru menawarkan ice cream yang sudah dia nikmati setengah itu, bisa-bisanya dia memberikan makanan yang sudah dia jilatt, pikir Giska yang kini menatap datar ke arahnya.
"Mau tidak?"
"Dasar pelit, dimana-mana orang menawarkan ice cream itu diambilkan ynag baru ... bukan yang sudah dijilatt-jilatt begitu," kesal Giska yang seketika lupa alasannya menangis karena apa, ucapan Christ terlalu menyebalkan untuk dia dengar sepertinya.
"Sisa satu ini di kulkas, kalau mau ambil saja, aku sudah selesai."
"Huweek ... kau pikir aku mau? Bekas ludahmu begitu."
Baru saja dia meraung meratapi Gavi, kini dia justru tertarik berdebat soal es krim bersama Christ. Sepertinya Giska harus memberikan penekanan pada Keny, bahwa Christ jauh dari kata royal seperti yang dia impikan.
"Kenapa memangnya kalau bekas ludahku? Kau bahkan sudah pernah merasakannya waktu itu."
"Jangan dibahas," ucap Giska datar yang kini memalingkan wajahnya, meraih remote televisi demi mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Yakin tidak mau? Aku rela berbagi, Giska."
"Tidak, Christ ... sekali lagi kau bicara, aku pulang!!" ancam Giska hendak beranjak dari sofa dan segera Christ menahan pergelangan tangannya.
"Hm, aku tidak akan memaksa, kalau tidak mau ya sudah."
Terlihat tanpa masalah, dalam sekejap Christ melempar es krim yang masih setengah itu ke kotak sampah. Melihat apa yang Christ lakukan, dia menyadari satu fakta yang membuatnya merasa tidak jauh berbeda seperti pengemis.
"Kau membuangnya, apa itu artinya kau menawarkan ice cream itu padaku karena tidak suka? Kau pikir aku penampungan makanan?"
"Ck, mulutmu biasa saja," jawab Christ mencubit bibir Giska usai berteriak di depannya.
Seumur hidup, baru kali ini ada seseorang yang membuat Giska bungkam dengan cara itu. Dasar sinting, apa mungkin Christ tengah menyamakannya dengan seekor kucing? Keningnya kini berkerut menatap kesal pria dengan wajah santai tanpa rasa bersalah itu.
"Cinta? Coba jelaskan alasan apa yang membuatku bisa cinta padamu?"
"Banyak ... nanti kau sendiri yang akan menemukan jawabannya, Giska."
Christ kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia menatap Giska yang kinitampak pasrah menatapnya, dia tahu Giska lelah, tapi Christ tetap akan terus begini. Karena, wajah Giska yang begitu sangat dia sukai.
"Cih percaya diri sekali, aku bahkan membencimu saat ini."
"Sudah kukatakan aku tidak peduli, duduklah ... filmya hampir dimulai," tutur Christ benar-benar santai dan menarik paksa Giska yang sejak tadi masih begitu betah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Cukup lama keduanya terdiam, sama-sama menikmati film yang menurut Giska hanya membuat sakit mata. Sementara Christ begitu fokus dengan tangan yang kini sudah memeluk pundak Giska.
Lama kelamaan mengantuk juga, Giska menguap dan sudah pasti kesempatan ini Christ gunakan untuk membuat Giska bersandar di pundaknya. Namun, bukannya terpejam mata Giska justru menatap lekat Christ yang kini tengah menatap lekat dirinya.
"Aku tidak akan macam-mac_"
"Thanks, Christ," ucap Giska lembut dan hal ini benar-benar tidak Christ duga sama sekali, Giska mengucapkan terima kasih dan sungguh membuatnya terharu saat ini.
"Untuk?"
"Malam ini, aku tidak merasa sendiri," ucapnya secara sadar dengan senyum yang membuat Christ mengikis jarak tanpa aba-aba.
"Sampai akhir kau tidak akan pernah sendirian ... sejak awal aku melihatmu, aku ingin menjadi temanmu entah apa alasannya. Jangan menolak, aku tidak memaksamu mencintaiku sekarang ... perlahan, kau akan mencintaiku dengan sendirinya."
Beberapa orang mengatakan, sebuah hubungan akan berhasil jika cinta seorang pria lebih mendominasi di bandingkan wanitanya. Melihat Christ saat ini, Giska seakan melihat jiwanya di masa lalu yang begitu menginginkan Renaga membalas perasaannya tanpa peduli meski sudah ditolak berkali-kali.
"Giska dahulu menyedihkan, tapi Giska sama sekali tidak memiliki cita-cita membalaskan dendam pada Giska yang lain."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1