
Tetaplah begini, Zavia ... aku sangat merindukan Zavia yang begini.
Mereka sudah berpisah tiga puluh menit yang lalu. Namun, ucapan Renaga sama sekali tidak lepas dari ingatan Zavia hingga wanita itu terkena imbas akibat melamun di hadapan Mikhayla.
"Mama tanya dari tadi, kamu dari mana, Zavia?"
"Rumah om Justin," jawab Zavia santai dan kembali memaksakan makan meski perutnya benar-benar menolak.
"Kenapa? Tidak mungkin kamu ada urusan pribadi sama om Justin, 'kan? Pasti sama anaknya," tuduh Mikhayla seraya melipat kedua tangan di dadanya.
Sama sekali tidak terlihat menakutkan, yang ada Zavia semakin berkeinginan untuk membohonginnya. Mana mungkin dia jujur jika antara dia dan Renaga bertindak sejauh itu, sementara dari dahulu Mikhayla selalu mengingatkan perihal perbedaan antara dia dan Renaga.
"Ya itu Mama tahu, kenapa masih tanya."
"Mama ingin tahu jelasnya, Zavia ... katakan ada apa sebenarnya? Gavi sudah cerita tentang Giska, sementara kamu menemui Renaga sendirian untuk apa?"
"Kami salah paham, aku dan Fabian mengira Giska benar-benar bunuh diri karena kak Aga ... jadi aku datang untuk meminta maaf, itu semua juga karena dokter Gavi, dokter kesayangan Mama itu," kesal Zavia yang mendadak kesal sendiri pada Gavi lantaran menjadi penyebab utama kemarahan Renaga tadi pagi.
"Benar begitu? Hanya meminta maaf? Tidak yang lainnya, 'kan?" selidik Mikhayla entah kenapa dia merasa putrinya sedikit berbeda saat kembali.
"Tidak, Ma ... jangan macem-macem deh mikirnya."
"Bagaimana tidak berpikir macam-macam, Via. Sebelum Mama menikah juga pernah muda, Mama bukan berarti tidak percaya Renaga, tapi Mama takut saja."
Dia pernah mengenal Alka sebelum Keyvan, dua pria itu sama gilanya meski memang di akhir semua baik-baik saja. Mikhayla bukan berarti curiga pada Renaga, akan tetapi mata Mikhayla bisa membedakan tatapan seseorang untuk putrinya.
"Kamu ingat kata Opa, 'kan?"
"Tetap pelit sampai jadi kaya?"
__ADS_1
"Bukan yang itu," sergah Mikhayla memperbaiki posisi duduknya.
"Terus yang mana?"
"Dengarkan Mama, pria yang baik tidak akan pernah merusak wanitanya."
"Mama kenapa jadi bahasnya kesana?" Zavia mengerutkan dahi dan dia sedikit tidak terima dengan kalimat terakhir Mikhayla.
"Entahlah, sedang ingin bicara begitu saja ... tidak ada tujuan alasan sebenarnya."
Zavia hanya memutar bola matanya malas, memang terkadang beberapa nasihat dari Mikhayla sedikit di luar dugaan dan biasanya sesuai kemauan hatinya saja ingin bicara apa. Mikhayla hanya menggunakan firasat, terlebih lagi dia yang mengetahui jika Renaga memeluk putrinya di depan rumah malam itu.
Bagi seorang Mikhayla, jika pria sudah berani memeluk seorang wanita, itu mendadakan ada hal yang berbeda. Dia hanya tidak ingin saja mengatakan kecurigaan yang berlebihan, akan tetapi mau bagaimanapun tidak ada salahnya dia bicara demikian.
"Ma."
"Hm, kenapa?"
"Kenapa kamu tanya begitu?"
Zavia sudah menginjak usia dewasa, tapi memang baru kali ini dia bertanya hal semacam itu. Sejak dahulu putrinya tertutup, bahkan ketika Mikhayla mencoba bertanya dia memilih diam dan mengalihkan pembicaraan yang lebih penting menurutnya.
"Tanya saja, penasaran."
"Mama dulu cinta sama Papa kamu setelah menikah beberapa minggu, dipaksa cinta tepatnya ... tapi Mama suka, karena dulu Papamu benar-benar baik. Dia menerima semua kekurangan Mama tanpa terkecuali, nanti Zavia cari yang seperti Papa ya. Tapi kisahnya jangan diulangi, tragis."
Zavia mengangguk pelan, tampaknya garis kehidupan antara dia dan sang mama memang berbeda dan tidak dapat disamakan.
.
__ADS_1
.
"Syukurlah kalau sudah, dia tidak berniat pergi lagi, 'kan, Via?"
Kekhawatiran akan perginya Renaga masih mengantui Fabian yang hingga saat ini masih ada di kediaman Giska. Wanita itu masih merenung, menatap layak televisi yang menayangkan sebuah drama kolosal pilihan Fabian di sana.
"Ada, ini dia lagi menangis di sampingku."
"Aku tidak menangis." Giska berdecak dan melempasrkan bantalan sofa tepat di wajah pria itu.
"Oh, tidak lagi ternyata ... ya sudah, thanks, Via."
Giska patah hati, Fabian yang justru tidak bisa kemana-mana. Yah, sejak dahulu memang begini, bedanya kini dia hanya sendiri. Menemani Giska sedikit lebih tenang seraya memberikan berbagai nasihat kehidupan agar mata Giska sedikit terbuka.
"Apa aku jelek ya, Bi?"
"Tidak, sedari dulu kamu tahu sendiri kalau cantik ... kenapa masih bertanya?"
"Kenapa dia tidak tertarik sama sekali, bahkan ketika dia melihatku pakai handuk kak Aga biasa saja."
"Giska, kamu tahu seseorang yang suka mangga dipaksa makan mengkudu, dia mana mungkin mau."
"Maksud kamu? Aku bau ya, Bi?" tanya Giska dengan wajah sembabnya, ya meski dia sudah benar-benar memutuskan untuk melupakan pria itu. Tetap saja Giska ingin tahu alasannya secara jelas.
"Bukan begitu ... intinya perasaan tidak dapat dipaksa, selesai."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -