Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 13 - Terbongkar


__ADS_3

Sesuai janji, Giska bersiap untuk pergi malam ini. Keny dan Sonya yang mulai mencium aroma percintaan putrinya pura-pura tidak melihat bagaimana sibuknya Giska memilih sepatu. Mereka tidak akan bertanya, khawatir jika hanya membuat Giska tersinggung. Namun, semua yang Giska lakukan tidak lepas dari perhatian Keny.


"Pa, Ma ... Giska pergi ya."


"Pulang jangan terlambat," sahut Keny yang masih mengintai putrinya melalui ekor mata. Pria itu kemudian menatap sang istri yang juga sama penasarannya.


Hingga, kala Giska keluar secepat mungkin pasangan itu naik ke lantai dua demi bisa memastikan bersama siapa Giska pergi. Sama-sama lupa umur, Keny dan Sonya mengintip di balik jendela.


"Sayang, putri kita!!" Sonya melongo kala melihat pemandangan di depan sana.


"Apa Giska tidak bercerita sedikitpun padamu?"


"Tidak, aku sampai terharu ya, Tuhan."


Sonya tidak salah lihat, dia menatap dengan mata kepala sendiri bagaimana Giska diperlakukan dengan manis oleh seorang pria yang dia yakini sangat-sangat kaya. Mobil di depan sana bisa mencapai milyaran, sebagai wanita realistis jelas saja Sonya paham.


"Kaya dan sepertinya tampan sekali, kenapa tidak Giska kenalkan padaku," ucap Sonya berdecak kagum hingga membuat mata Keny mendelik tajam.


"Apa? Dikenalkan sebagai kekasihnya, bukan untukku."


"Kamu belum berubah ternyata, matre ya," ucap Keny mengacak rambut istrinya, sejak dahulu Sonya memang begitu dan hal itulah yang membuatnya tertantang untuk menjadikan wanita matre itu istrinya.


"Jelas, sayang saja bodoh."


"Bodoh kenapa?"


"Jadi istrimu," jawab Sonya dengan gelak tawa yang berhasil membuat Keny mendaratkan telapak tangan di keningnya.


"Ck, sakit!! Sekarang kita fokus saja pada Giska ... semoga kali ini tidak salah, aku tersiksa melihatnya."

__ADS_1


"Hm, semoga, tapi jangan terlalu berharap seperti dulu, Sayang."


Bukan hanya Giska yang hancur karena Gavi. Kandasnya hubungan sang putri cukup membuat Sonya terpukul, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Putrinya yang juga bungkam semakin membuat Sonya bingung apa sebabnya.


.


.


Jauh dari jangkauan Keny dan Sonya, di sisi lain Giska tengah meratapi kebingungan kala menginjakkan kaki di sebuah hotel bintang mewah ini. Sejak awal memasuki tempat itu, Christ tidak pernah melepaskan tangannya.


Keduanya mengenakan pakaian senada, tidak ada tampang Christ sebagai pria bayaran malam ini. Dia sangat tampan dengan jas yang membalut tubuh tegapnya, Giska akui jika pria ini memang benar-benar tampan.


Giska sedikit tidak nyaman dengan keramaian. Christ bisa menangkap jelas hal itu dari pandangan matanya. Belum lagi, sejak tadi beberapa orang melayangkan tatapan ke arahnya. Giska hanya merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Max, selamat atas pertunanganmu ... kau lihat, aku membawanya malam ini," tutur Christ melirik Giska yang kini tersenyum tipis pada Max yang tengah bertunangan malam ini.


"Oh my god, Christ? Dia kah orangnya?"


"Hai, aku Max, kau cantik sekali ... wajar Christ sampai kehilangan kendali sampai tuan Wilbert marah besar, ternyata bidadari ini yang membuat tuan muda gila berhari-hari."


Christ mendelik kala mulut Max tidak dapat ditahan. Susah payah dia menyembunyikan identitas bahkan hanya menyebut nama tengahnya ketika berkenalan, kini Max justru membongkarnya.


Tidak selesai di sana, Elden yang juga baru datang justru fokus pada Giska, bukan calon istri Max. Pria itu mengulurkan tangan pada Giska dengan kedipan maut yang membuat Christ meradang seketika.


"Kekasihnya, kau jangan gila, Elden!!"


"Woah perkembangan yang cukup signifikan. Selamat, Bro kau berhasil mendapatkannya setelah penantian panjang ini ... bagaimana, saranku berhasil bukan?"


Giska benar-benar tidak mengerti apa yang kini tengah mereka bertiga bicarakan. Demi apapun, Giska ingin pergi dan lari. Namun, genggaman tangan Christ memang seerat itu hingga dia bahkan sulit untuk menjauh selangkah saja.

__ADS_1


"Dia yang bertunangan, kenapa kau mengucapkan selamat padaku," ucap Christ yang kini sedikit kaku lantaran susah payah menahan malu.


Entah kenapa dia terjebak situasi ini, niatnya datang membawa Giska memang untuk membuktikan pada Max dan Elden bahwa dia mampu menaklukan wanita itu. Sayangnya, malam ini identitas Christ justru bocor ke telinga Giska.


"Silahkan nikmati pestanya, aku ingatkan jangan pernah mau Christ ajak mabuk, okay manis?"


Ucapan Max berhasil membuat kepala Christ berasap. Semakin memperjelas betapa buruknya dia di mata Giska malam ini. Wajah Giska yang mendadak berubah sangat Christ sadari hingga dia memilih mencari tempat duduk yang sedikit sepi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Christ yang juga gemetar, jujur saja sebenarnya dia yang saat ini tidak baik-baik saja.


"Hm, aku pergi ke toilet sebentar," ucapnya seraya beranjak berdiri dan hal itu sontak membuat Christ melakukan hal yang sama.


"Aku antar, bahaya jika sendirian."


Dada Giska kini berdegub tak karu-karuan. Wajahnya pucat, jika bukan karena make-up yang dia gunakan malam ini, mungkin Giska sudah tampak seperti pasien kurang darah. Christ masih terus menggenggam tangannya, demi Tuhan Giska tengah mengutuk diri sendiri dan berniat mengubur diri malam ini juga.


"Kemana otakmu, Giska!! Apa yang kau lakukan? Bagaimana setelah ini?"


"Masuklah, aku tunggu kau di sini."


"Hah?" Mulai, penyakit loading lama Giska kumat kala Christ memintanya untuk masuk.


"Masuklah, apa perlu kutemani, Giska?"


"Ah, iya sebentar ... tasku," pinta Giska baru sadar jika tasnya saat ini dalam kekuasaan Christ.


"Aku saja, cepat masuk, jangan terlalu lama." Pria itu tidak mengizinkan Giska pergi dengan tasnya, sama sekali Christ tidak peduli apapun pandangan orang lain padanya.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2