
Salah-satu impian Giska sejak kecil adalah menjadi istri seorang pengusaha, saat itu hatinya dijatuhkan pada Renaga. Namun, takdir justru membawanya pada Immanuel Christ Wilbert. Pengusaha juga, sama seperti Renaga yang merupakan seorang pewaris.
"Haih, tidak masalah kurang se-ons begitu ... yang penting pengusaha."
Sudah hampir satu jam Giska berendam dengan alasan gerah. Padahal, dia tengah menghindari Christ yang secara terang-terangan ingin bermain dengannya. Ya, dia tahu Christ bukan pria munafik dan apa adanya. Hanya saja, bukankah seorang pria harusnya tidak setengil itu? Kalem sedikit, kan bisa.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di kamar mandi, Giska keluar karena khawatir miliknya justru berubah menjadi kebiruan akibat terlalu lama di dalam air. Bukan percaya diri atau bagaimana, tapi memang dia tidak berharap banyak bisa bebas dari Christ malam ini.
Helaan napas perlahan sejenak menenangkan Giska ketika hendak membuka pintu kamar mandi. Entah kenapa dia khawatir sekali menampakkan diri di hadapan Christ dalam keadaan begini.
Hanya berbalut handuk yang membuat tubuh datarnya semakin tidak terlihat. Dada Giska bergemuruh, demi Tuhan gugupnya luar biasa. Perlahan Giska membuka pintu itu, baru saja maju beberapa langkah, mata Giska dibuat membola kala melihat Christ hanya menggunakan underwear di hadapannya.
"Aih kemana rasa malunya? Bisa-bisanya cuma pakai semvak di hadapanku."
Giska memerah, sontak dia berusaha menutup mata dan melangkah melewati Christ demi mengambil pakaiannya di sana. Seingat Giska, pakaian Christ masih lengkap saat dia tinggal ke kamar mandi, kini dia menyambut Giska dalam keadaan hampir telanjang.
"Lama sekali, kenapa pintu kamar mandinya kau kunci?"
"Oh kau mandi juga ternyata?"
Giska mencoba berpikir positif, kekesalan Christ dia anggap mungkin diakibatkan gerah juga karena kamar Giska memang tidak seluas kamar di apartemen Christ. sebenarnya Christ mengajaknya ke hotel, tapi Giska menolak dengan ribuan alasan hingga Christ mengalah.
__ADS_1
"Iya, mandi keringat maksudku."
Begitu santai dia berucap, Giska bergidik ngeri. Terlebih lagi, kala Christ tiba-tiba merengkuh tubuhnya begitu erat. Tamat sudah riwayat Giska, kesempatan untuk bebas dari jerat Christ sama sekali tidak ada.
Pria itu menyentuhnya dengan sangat lembut. Christ menunduk, menempelkan hidung bangirnya tepat di hidung Giska. Pria itu memang ingin menyentuhnya, mana mungkin tidak. Namun, malam ini dia bukan hanya ingin merasakan kenikmatan, tapi juga menyalurkan cintanya untuk Giska.
"Kau sudah siap, Sayang?"
Mau tidak mau, Giska harus siap dan hanya berdehem sebagai jawaban. Tanpa basa basi, Christ membawanya ke tempat tidur yang sudah Sonya siapkan sedemikian indah. Giska sama sekali tidak menolak, sedikitpun tidak.
Sejak tadi siang Christ dibuat penasaran seimut apa bakpao yang Giska banggakan di hadapannya. Malam ini, Christ akan melihatnya tanpa khawatir Giska marah dan merasa dilecehkan atau sebagainya.
Mata sayu Giska menatap lekat Christ yang berada di atasnya. Sama sekali dia tidak sadar jika handuk yang melilit di tubuhnya sudah Christ singkirkan sejak awal. Permainan pria itu terlampau halus dan sejak tadi Giska terbuai dengan ciuman manis yang Christ lakukan.
Di saat para suami akan memuji istrinya cantik di malam pertama, Christ justru melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak penting. Giska yang tadi sudah terbuai dengan kecupannya mendadak sebal dan sontak menyilangkan tangan di atas dadanya.
"Hanya bertanya, aku bersyukur jika dia tidak pernah menyentuhnya ... aku tanya serius, apa benar tidak pernah?"
"Hm, tidak pernah."
"Melihatnya?"
__ADS_1
"Tidak juga."
"Menciumnya?"
"Jelas tidak!!"
"Syukurlah ... aku yang pertama?"
"Iya!!! Kenapa pertanyaanmu banyak sekali," kesal Giska lantaran Christ terlalu lama. Bukannya berpikir, Christ justru terbahak hingga membuat suasana hati Giska kesal sendiri.
"Galak sekali, kau sudah tidak sabar ternyata."
Tidak sabar katanya? Cih, sejak sebelum menikah justru dirinya yang tidak sabar. Giska enggan berdebat, karena memang tubuhnya juga menunjukkan reaksi seolah ingin bahkan meminta lebih.
Lenguhan yang sejak tadi dia tahan lolos seketika hingga membuat Christ semakin bersemangat untuk membuat Giska lebih menggila lagi.
"Christ tunggu," ucap Giska panik kala merasakan sesuatu yang terasa asing menyentuh miliknya di bawah sana.
"Kenapa? Kau takut?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -