
Tidak selamanya tinggal di rumah mertua adalah neraka. Sejak dahulu, Zavia kerap kali memiliki ketakutan akan dipertemukan dengan mertua yang tidak memiliki hati nurani. Kini, semua benar-benar terbantahkan dengan kehadiran sosok Agny yang begitu lembut menyayanginya.
Mikhayla sudah cukup lembut, tapi lebih lembut lagi Agny. Ditambah lagi, wanita itu bukan wanita karir hingga dia benar-benar memberikan perhatian penuh pada Zavia. Pertimbangan untuk menetap sementara di kediaman Justin diutarakan pertama kali oleh Keyvan kala Renaga dirawat beberapa hari di rumah sakit.
Kedua keluarga itu yakin bahwa tinggal di sana adalah keputusan paling baik. Selain melindungi Renaga dari amukan Mikhail, kembalinya Renaga ke rumah juga memudahkan Agny untuk merawat putra dan menantunya.
Zavia yang kini mengalami mual parah tentu akan sulit melakukan segala sesuatu untuk Renaga. Sementara Renaga juga belum mampu melakukan banyak hal untu Zavia, keduanya hanya berdiam di kamar sejak pulang dari rumah sakit.
Bak mengulang masa muda, Agny kembali direpotkan dengan mengasuh keduanya. Ikatan batin antara mereka mungkin cukup kuat, hingga teriakan Renaga terdengar tepat pada waktunya. Niat hati hendak memastikan dua orang itu sudah tidur atau belum, tapi kini Agny dibuat cemas hingga dirinya tampak pucat.
"Aga, kenapa?!!"
Pintu memang belum mereka kunci, Agny masuk dengan wajah panik kala melihat baju Renaga yang masih terbuka. Zavia yang kini ciut membuat Agny tampak benar-benar bingung.
"Mommy kenapa masuk?"
"Kamu teriak kenapa? Ini buka baju kenapa? Apa lukanya terbuka?" tanya Agny berturut-turut dan kini duduk di tepian tempat tidur.
"Belum, Mom ... tadi Zavia tidak sengaja cubit, tapi tidak di lukanya, Mom, sumpah. Zavia tadi cubit di sini," ucap Zavia menunjuk sisi perut Renaga yang memang menjadi korban penyatuan jemarinya.
"Cubit?" tanya Agny layaknya tengah menyelidiki seorang ibu yang membuat putranya menangis.
"Iya, tapi itu karena kak Aga yang mulai."
"Hah? Kalian bertengkar?"
"Bukan, Mom ... kita becanda, tapi akunya kelewatan jadi Zavia tidak sengaja cubit, Mommy pernah cubit Daddy kalau salah tingkah, 'kan?" tanya Renaga menarik sudut bibir seraya menatap Zavia yang kini kembali merah persis sebelum kejadian perutnya menjadi korban.
"Astaga, Aga juga buat apa becandanya begitu? Bikin panik, sudah tidur sana ... suara kalian sampai keluar," titah Agny sebelum kemudian mematikan lampu kamar.
Mereka sudah cukup dewasa, bukan lagi termasuk menikah di usia muda. Tapi, di mata Agny mereka tampak masih remaja dan Zavia merasakan hal itu sejak awal menginjakkan kaki di rumah mertuanya.
"Mommy marah ya?" tanya Zavia sedikite berbisik setelah memastikan mertuanya tidak lagi berada di kamar mereka.
"Tidak, Mommy tidak pernah marah ... apalagi dia sayang padamu mana mungkin marah," ucap Renaga yang kini memperbaiki posisi tidurnya.
__ADS_1
"Tapi kita dipaksa tidur, sampai lampunya dimatiin padahal aku belum cuci kaki."
"Kan bisa kita hidupkan lagi, cuma ke kamar mandi bukan ke sungai nil apa susahnya, Zavia," tutur Renaga dengan gelak tawa pelan, wajah cemas Zavia di bawah penerangan lampu tidur masih dapat dia tangkap secara sempurna.
"Ih bukan begitu, aku takut Mommy marah ... Kakak tidak lihat mukanya tadi seserius apa?"
"Tidak akan, sudah percaya padaku. Mommy memang sedikit cerewet, tapi dia ba_"
"Renaga, Zavia ... belum tidur juga?!"
Zavia yang tadinya masih duduk, sontak berbaring dan masuk ke dalam selimut kala menyadari pintu kembali di buka dari luar. Persis seperti Mikhayla yang kerap memastikan dia sudah tidur atau belum.
Malam memang sudah larut, mereka saja yang tidak tahu waktu. Agny yang mendengar keduanya berisik jelas saja turun tangan. Mungkin tidak seharusnya lagi Agny pastikan, mereka memang sudah dewasa. Namun, untuk saat ini tampaknya memang masih benar-benar perlu dituntun karena jika mendengar dari Mikhayla, jam tidur Zavia sangat-sangat tidak normal.
"Selamat malam, kunci pintunya, Ga."
Beberapa saat berlalu, kamar kembali tampak sunyi. Namun, mata Zavia tampaknya telanjur mengantuk hingga dia yang sebelumnya pura-pura tertidur, kini tertidur sungguhan.
"Zavia," panggil Renaga pelan, dia belum mengantuk sebenarnya, masih ingin berbicara banyak hal bersama sang istri.
"Zavia? Kakimu belum dicuci, kenapa tidurmu cepat sekali?"
.
.
Sebaik-baiknya tempat pulang adalah rumah sendiri. Hampir setiap hari Renaga tertekan dengan kehadiran Mikhail yang kerap kali mengintimidasinya, kini di rumah ini semua seakan benar-benar berbeda.
"Perbanyak istirahat, masalah pekerjaan Daddy saja yang urus."
"Iya, Dad," jawab Renaga lemas menatap makanan di meja yang menurutnya sama sekali tidak menggugah selera.
"Kau baik-baik saja, Ga?"
"Baik, kenapa Daddy tanya begitu?"
__ADS_1
"Tanya saja, syukurlah jika begitu."
Keputusan Renaga tidak semudah itu mendapat persetujuan Justin sebenarnya. Dia sedikit menentang dan berpikir akan lebih baik jika orang lain saja yang membantu Giska, tapi Renaga pantang ditentang dan dia melakukannya untuk Giska. Tidak punya pilihan lain, andai Giska benar-benar pergi maka yang tersiksa sudah jelas istrinya dan Renaga tidak ingin itu terjadi.
"Boleh Daddy tanya sesuatu?" tanya Justin menatap lekat sang putra yang kini mengangguk pelan.
"Boleh, tanyakan saja, Dad."
"Di antara banyak jawaban, kenapa kau minta disebut seseorang yang sudah meninggal? Daddy agak tidak suka, Ga," ucap Justin jujur karena dia sedikit tidak rela jika seseorang mengatakan pendonor hati Giska sudah meninggal, padahal jelas-jelas masih berdiri di hadapan putranya.
"Biarkan saja ... akan lebih baik dia sama sekali tidak tahu, Dad. Aku melakukannya agar semua berjalan dengan baik, jika Giska baik-baik maka Zavia tidak akan tersiksa lahir batin dan Fabian tidak akan terus menyalahkanku karena kematiannya."
Renaga menghela napas panjang sebelum kemudian menatap Justin yang begitu sabar menunggu jawabannya. Baru saja hendak kembali bicara, Agny kini datang bersama Zavia yang baru selesai dari dapur.
Belum juga sempat duduk, Zavia kembali merasakan mual dan berlari ke belakang dengan diikuti Agny. Melihat pemandangan semacam itu, entah Justin harus sedih atau tertawa. "Sial, aku benar-benar sudah tua sepertinya."
"Kau lihat, akibat perbuatanmu Zavia mual-mual begitu ... sengaja?" selidik Justin mengerutkan dahi, terlebih lagi dia memang mengetahui sebelum menikah putranya tertangkap basah mencuri sesuatu dari Zavia.
"Iya lah, sudah sah jadi istri mana mungkin hamilnya karena tidak sengaja," jawab Renaga mantap dan dia mendelik menatap Justin yang seakan menuding perbuatannya sangat salah.
"Apa Daddy sudah sangat tua, Ga?"
"Belum, masih ada yang lebih tua ... Opa salah satunya," jawab Renaga seenaknya tanpa rasa takut, mungkin karena sedang berjauhan.
"Huft, cepat sekali rasanya ... kau tahu, dulu Zavia tidak lebih besar dari guci itu dan sekarang anak kecil yang sering kali membuat kepalaku sakit itu akan segera memberiku cucu, sulit dipercaya."
"Syukuri saja, Dad ... artinya aku hebat, benar, 'kan?"
"Hm, hebat sekali, kau begitu gen dariku." Justin tengah membanggakan diri sebagai pria yang memang benar-benar jantan.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1