Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 49 - Aku Takdirmu


__ADS_3

Firasat Renaga memang sudah buruk sejak pagi, fakta bahwa dia tidak bisa lepas dari pengawasan keluarga Zavia sedikit membuatnya terkejut. Kini, dia kembali dibuat tidak habis pikir lantaran Justin mengirimkan begitu banyak barang yang ada di rumahnya.


Tidak hanya sebagian, tapi Renaga seakan benar-benar terbuang dari keluarga Anderson. Senyumnya mendadak redup kala melihat semua barang yang kini diturunkan satu mobil tersebut. Dia adalah pihak laki-laki, harusnya Zavia yang tinggal di rumahnya, kenapa jadi justru berbalik seperti ini.


"Dad? Tidak salah? Sebanyak ini kenapa dikirim semua?" tanya Renaga menatap Justin yang baru saja datang beberapa waktu lalu.


"Tidak, tidak lama lagi kalian akan pindah ... sekalian saja, biar tidak kerja dua kali," jawab Justin enteng seraya menepuk pundaknya.


"Tapi tidak sebanyak ini juga, apa Daddy benar-benar mengusirku? Kalau aku mau tidur di sana bagaimana? Aku juga bisa merindukan Mommy dan Cia."


Seakan baru saja melakukan kesalahan besar, Justin benar-benar melepas Renaga setelah putranya menikahi Zavia. Sama sekali tidak Renaga ketahui, jika orangtua mereka justru sudah sepakat tentang masa depannya.


"Gampang, kau bisa bawa baju ganti kalau ingin tidur di rumah ... datang seperti tamu biasa, Daddy tidak melarangmu sama sekali."


Sama sekali tidak ada sedih-sedihnya. Padahal, Renaga baru saja kembali ke rumah itu setelah tujuh tahun lamanya. Anehnya, Justin justru terlihat sangat bahagia, mungkin karena saat ini Evan yang akan menjaganya.


Belum selesai Renaga mengeluh, mobil dan kedua motornya juga kini tiba. Jelas hal itu membuat Mikhail cepat-cepat menghampiri anak cucunya. Tercium aroma kekayaan yang akan membuat hidup cucunya terjamin, tentu saja mikhail bahagia.


"Papa ... selamat sore, saya bawakan martabak telur kesukaan Papa."


"Waduh, Nak Justin, harusnya tidak perlu repot-repot begini," ucapnya seraya menerima pemberian Justin tanpa pikir panjang.


"Tidak repot, Pa, kebetulan tadi lewat sana jadi keinget Papa."


Lihatlah, Justin tengah berusaha mencuri hati Mikhail. Sebuah hal yang sejak dahulu dia lakukan, baginya sosok Mikhail juga sama seperti orangtua sendiri. Baik Keny maupun Justin dia perlakukan sama seperti Evan, menantunya.


"Hahaha bisa saja, barang-barang Aga kalau tidak muat di rumah Evan boleh di rumah Papa ... mau sekalian tinggal di rumah juga boleh, masih banyak kamar kosong."


Satu fakta yang Mikhail rasakan saat ini, kehidupannya memang sepi. Kamar-kamar yang dahulu dia bangun cukup banyak untuk buah hatinya mulai tidak terisi. Sekalipun banyak anak cucu, tetap saja berbeda. Rumah itu tetap sepi dan tidak seramai dahulu.


"Iya, Pa ... tapi sepertinya muat, nanti saya rundingkan bersama Evan."


"Boleh, jangan lama-lama mumpung Papa mau bantu angkatnya."


Renaga mengangguk cepat, dia masih belum bisa menerima fakta bahwa Justin benar-benar melepasnya. Kini, Mikhail justru sangat menerimanya. Melihat putranya benar-benar diterima oleh pria itu, Justin merasa lebih tenang.


"Baik, 'kan? Kenapa kau takut?"

__ADS_1


"Ba-baik memang, tapi Opa kemarin mengancamku."


Dia tidak sedang mengadu, tapi hanya sedikit bercerita saja. Mungkin akan lebih baik jika Renaga ungkapkan pada Justin, kata orang masalah akan menjadi sedikit lega ketika dibagi kepada orang lain.


"Mengancammu bagaimana?" tanya Justin mengerutkan dahi. Tidak hanya Justin saja yang bingung, melainkan Keyvan juga demikian.


"Hm apa? Kau diancam apa, Renaga?"


Malu sejujurnya, tapi pada akhirnya Renaga mendekatkan wajah dan mengadukan ancaman Mikhail. Sontak Justin terbahak, wajar saja wajah Renaga kusut dan sama sekali tidak ada semangatnya seperti pengantin baru.


"Dimana letak lucunya? Daddy mengejekku?" Renaga berdecak sebal lantaran Justin justru menganggap ini sebagai hal yang lucu.


"Hahaha, Van, mertuamu masih konsisten ternyata," ucap Justin membuat Keyvan yang sejak tadi penasaran dengan bisikan Renaga semakin bingung saja.


"Konsisten bagaimana? Renaga bilang apa memangnya?"


Justin yang paham betul jika Renaga malu mengutarakannya pada Keyvan segera ambil tindakan. Seperti yang Renaga duga, reaksi Keyvan tidak jauh berbeda dan dia kembali menjadi bahan candaan.


"Itu hukumanmu, makanya jangan macam-macam pada putriku," ucap Keyvan disertai gelak tawa yang sejak tadi tidak berhenti.


Keyvan memang sempat tidak rela Renaga mendapatkan putrinya secepat itu. Hanya saja, Keyvan tidak berpikir untuk melarang Renaga sejauh itu. Menurutnya Renaga sudah cukup dewasa dan tidak perlu didikte, dia sudah mampu menyesuaikan keadaan.


"Larangan Papa selalu ada tujuannya, Just ... Dulu saja aku dilarang menghamili istriku sendiri karena masih muda. Mungkin sekarang karena kondisi Zavia belum sembuh total, jadi pahami saja opamu itu, Ga," jelas Keyvan seraya menggeleng pelan.


"Dengarkan, Ga, kau harusnya bersyukur Tuhan izinkan memiliki opa seperti beliau, selama ini tidak punya, 'kan?" Justin tengah membuat putranya bak balita yang tidak terima keadaan.


"Benar sekali, sekarang beliau tidak separah dahulu ... Renaga lebih beruntung dibandingkan denganku."


Masa lalunya tidak jauh berbeda dari Renaga, bahkan lebih mengerikan lagi. "Sebenarnya larangan Papa cukup mudah dituruti, tapi Papa tidak pernah tahu bagaimana kelakuan putrinya yang membuatku sulit sekali mengikuti perintahnya," tambah Keyvan kembali mengingat bagaimana agresifnya Mikhayla dalam meluruhkan imannya.


"Wajar, memang sudah gen ternyata."


Renaga mengu-lum senyum usai mendengar ucapan mertuanya. Dia yang sempat menuduh Keyvan mewariskan sikap nakal ketika malam kepada Zavia sontak merasa bersalah.


.


.

__ADS_1


Hari ini berhasil dia lewati dengan sempurna. Cukup lelah sebenarnya karena harus ikut andil dalam merapikan beberapa barang yang ditempatkan di kediaman Mikhail lebih dulu. Bukan karena tidak muat di kediaman Keyvan, tapi memang lebih dekat dan mudah saja.


Renaga masih memandangi Zavia yang sejak tadi merapikan pakaiannya. Empat koper besar dan dua tas yang sejak tadi tertata, kini menyisakan dua kali yang belum selesai. Mikhayla sudah mengatakan cukup meminta bantuan asisten rumah tangga, tapi Zavia memilih melakukannya sendiri karena di mata Zavia tidak serapi hasil kerjanya.


"Besok saja, Zavia ... lagipula kenapa harus disuusn sesuai warna begitu? Asal lipat saja tidak masalah," ucap renaga menghela napas panjang lantaran merasa Zavia terlalu banyak membuang waktu.


"Tidak rapi, Kak, segala sesuatu itu harus rapi."


Ya memang, segala sesuatu memnag harus rapi. Namun, dalam hal ini dia merasa Zavia sedang mencari jalan dalam mempersulit hidup, padahal nanti juga rusak.


"Kita sudah tiga jam, tapi belum selesai juga. Kamu kenapa bisa betah?" tanya Renaga benar-benar tidak habis pikir. Sedikit yang dia ketahui, istrinya memang rapi, tapi baru malam ini dia mengetahui fakta jika Zavia serapi ini.


"Aku suka melakukannya, Kakak tidur duluan saja, nanti aku menyusul."


"Nanti saja, tunggu selesai ... oh iya, obatmu sudah diminum?" tanya Renaga baru saja mengingat jika dia melupakan hal itu sejak tadi.


"Belum."


"Biar aku yang ambil, tunggu di sini."


Sejak tadi Renaga sudah bosan bergulat dengan pakaiannya. Beruntung saja dia memiliki alasan untuk beranjak menyiapkan obat Zavia. Belum terlalu banyak yang Renaga pahami di kamar ini, hingga dia tidak sengaja menemukan sebuah foto yang memperlihatkan ketika dirinya masih SMA di laci meja belajar Zavia.


"Dia menyimpannya?"


Renaga ingat betul, itu adalah foto yang Zavia ambil ketika dia sedang di lapangan. Tidak sia-sia dia menatap ke kamera kala itu jika dia mengetahui benar Zavia yang mengabadikannya, bukan Giska seperti pikirannya.


"Kak mana obatnya?"


"Hm? Sebentar ya."


Mata Renaga sama sekali tidak melihat obat di sekitar sana. Dia hanya terfokus pada tulisan kecil yang ada dibalik foto itu, sejenak hati Renaga dibuat berdebar dan panas sekujur tubuhnya.


-Tuhan, tolong hapuskan perasaanku dari sesuatu yang tidak akan pernah menjadi takdirku. ~ Zavia, 02 Juni.


"Aku takdirmu, Zav," gumam Renaga pelan bahkan setengah berbisik seraya menghela napas pelan.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2