Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 48 - Tertangkap Mertua


__ADS_3

Beberapa jam berlalu sejak kejadian memalukan yang membuat mata Renaga mungkin sedikit berbeda dalam menilainya. Atas dasar Renaga yang tiba-tiba sakit kepala hingga muntah akibat mandi terlalu pagi, terpaksa mereka masih mendekam di kamar hingga matahari meninggi.


"Kenapa mandi jam segitu kalau memang tidak terbiasa?"


"Aku terbiasa, cuma mungkin air di sini lebih dingin atau kenapa entahlah."


Renaga tidak mungkin mengaku jika memang dia berendam cukup lama tadinya. Semua juga karena ulah Zavia, andai dia tidak seperti itu mungkin Renaga tidak akan meredam panas di kepalanya dengan cara itu.


"Memangnya tadi tidak pakai air hangat?"


"Tidak, aku mandinya cepat-cepat mana ingat," jawab Renaga yang jelas saja seratus persen berbohong.


Baru hari pertama sudah sakit, Zavia yang selalu kembali ke cara paling cepat dan ampuh. Jangan ditanya bagaimana sakitnya, Renaga tidak pernah dikerok seumur hidup.


"Sayang apa tidak ada cara lain? Sakit sumpah," lirih Renaga bahkan menangis karena memang merasa Zavia tengah berusaha mencabut nyawanya.


"Supaya cepat, kata Mama ini jalan pintas ... sebentar lagi, tahan sedikit."


Sakitnya benar-benar berbeda bahkan Renaga tidak dapat mendefinisikan bagaimana sakitnya. Dia menggigit bibir demi menahan agar tidak berteriak dan menikmati setiap goresan yang Zavia lakukan.


"Sudah delapan kali kamu bilang tahan sedikit, kapan selesainya ... Aaaarrgghh Daddy!!"


Jerit Renaga semakin menjadi kala Zavia sengaja naik ke pinggang Renaga dan menahan pria itu agar tidak banyak bergerak. Dia suka melakukan hal ini, kegiatan rutin setiap Mikhayla masuk angin karena memang tidak bisa membaik hanya dengan obat.


Memang tidak seharusnya hal ini dilakukan, tapi Zavia hanya ingin suaminya lebih baik dengan cepat. Renaga menenggelamkan wajahnya di atas bantal seraya mere-mas sprei dengan kekuatan penuh.


Sungguh, jika boleh dia utarakan rasanya seperti tengah menjadi korban pelecehan yang dipaksa mengikuti apa kehendak pelakunya. Sudah bersusah payah dia meminta ampun, tapi Zavia sama sekali tidak berhenti.


Jika pasangan lain punggungnya akan dibuat tergores akibat cakaran istri di malam pertama, Renaga justru berbeda. Entah bagaimana nasib punggungnya sekarang, yang jelas ini lebih menyakitkan dibanding cakaran kuku Zavia.


"Zavia sudah, kepalaku tidak sakit lagi ... sungguh!"


"Sebentar, dikit lagi, Kak ... belum jadi daun kelapa motifnya."


Persetan dengan bentuknya, yang jelas saat ini Renaga tersiksa. Jika saja bukan istri, mungkin Renaga sudah beranjak tanpa peduli Zavia yang duduk di atasnya jatuh atau bagaimana.


Keringat sudah membasah di keningnya, rambut Renaga yang tadinya sudah perlahan mengering kini kembali basah. Napasnya terengah-engah dengan rasa sakit yang begitu nyata.


Zavia turun perlahan dari tubuhnya, sejenak Renaga memang sedikit leih tenang. Namun, Renaga kembali ketar-ketir ketika sang istri memintanya berbalik. Yang benar saja jika perut juga harus merasakan siksaan itu, punggungnya saja Renaga hampir meledak.


"Mau apa? Singkirkan benda itu dari tanganmu."


"Mau sembuh tidak? Kakak masuk angin, nanti Mama marahnya ke aku kalau sampai dia tahu," ucap Zavia kini meraih benda yang cukup familiar dan Renaga yakin jika sampai dioleskan ke perutnya kemungkinan akan terbakar.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku, Zavia ... apalagi jika sampai berpikir menggunakan minyak urut itu, panas!!"


Renaga sejatinya memang tidak selembut itu, tapi untuk kali ini dia bukan sedang marah atau lainnya. Melainkan memang tengah berusaha melindungi diri agar tidak merasakan siksaan lahir batin nantinya.


"Bukan minyak urut ini mah, memang fungsinya untuk meredakan mual dan masuk angin ... Kakak baca saja sendiri kalau tidak percaya."


"Tidak, aku tahu rasanya, dulu mataku pernah kena itu, aku bahkan masuk rumah sakit ... jangan bercanda, Zavia tolonglah."


"Sedikit saja, tidak akan panas. Aku janji."


Renaga tidak lagi menjawab, dia enggan berdebat dengan wanita ini karena memang tidak akan ada akhirnya. Dia hanya bisa pasrah ketika Zavia menyentuh permukaan perut datarnya.


Tanpa berkedip, dia yang tadi menolak mati-matian seakan lupa hingga mendadak jinak hanya dengan sentuhan Zavia. Selesai bagian perut, dia berpindah memijat kepala Renaga sebagaimana yang kerap dilakukan Mikhayla padanya.


Anggap saja dia tengah melakukan tugas pertamanya, Zavia tidak hanya berhenti di tengah-tengah. Bahkan memakaikan kembali baju pria itu juga dia lakukan. Meski sedikit kaku karena baru pertama kali, tapi apa yang dia lakukan berhasil membuat Renaga tersenyum simpul setelahnya.


"Masih pusing?" tanya Zavia memastikan, tapi dari penampakannya, Renaga sudah jauh lebih baik.


"Sedikit, tapi tidak separah tadi," jawab Renaga seadanya dan kini melingkarkan tangan di pinggang sang istri.


Memanfaatkan kesempatan dalam segala hal adalah kemampuan Renaga sejak lama, jelas saja dia tidak akan menyia-nyiakan ini sebagai salah satu cara untuk membuat mereka kian dekat.


"Terima kasih sudah peduli," ucap Renaga tulus sembari menatap lekat manik indah Zavia yang juga tengah menatapnya.


"Oh iya? Kata siapa begitu?" tanya Renaga kembali yang kini menarik paksa tubuh Zavia agar duduk dipangkuannya.


"Ka-kataku, ayo turun ... sebelum dipanggil Mama, ini sudah waktunya sarapan, Kak," tutur Zavia berusaha melepaskan diri, sayang semua itu hanya sia-sia karena memang Renaga menggunakan tenaga saat ini.


"Zavia sarapan, Sayang!!"


Teriakan Mikhayla bersamaan dengan pintu yang kini terbuka membuat keduanya menoleh seketika. Tertangkap basah dengan posisi semacam itu di hadapan mertua jelas saja membuat wajah Renaga bersemu merah.


"Ma?"


"Aduh, tidak sengaja ... Mama lupa, kalian turun kalau sudah selesai ya."


Secepat kilat pintu kamar kembali tertutup, Zavia benar-benar lupa kembali menguncinya setelah sempat keluar beberapa jam sebelumnya. Dia yang kini terdiam dalam pangkuan Renaga hanya berusaha menahan malu yang mungkin akan dia rasakan seumur hidup.


"Mama tidak akan berpikir macam-macam, 'kan?"


"Semoga, tapi aku rasa iya," jawab Zavia menghela napas panjang, sementara Renaga yang sudah telanjur berjanji pada Mikhail jelas saja was-was mertuanya akan mengatakan kepada semua orang apa yang dia lihat.


"Matilah kau, Renaga."

__ADS_1


.


.


Ketakutan Renaga tidak selesai di sana, tiba di ruang makan keluarga besar Zavia sudah berkumpul di sana. Seakan sengaja menantikan mereka, fokus Renaga tertuju pada pria yang kini sudah memasuki usia senja tengah menatapnya begitu lekat.


"Wadaw ... rambut kakak ipar masih basah, Zavia gimana? Masa mandi pakai pasir?"


Baru saja duduk Renaga sudah disambut pertanyaan konyol dari Azkara. Jika saja bukan adik ipar, ingin rasanya Renaga membuat pemuda itu tidak lagi bisa bernapas.


"Azka."


Zavia mendelik tajam seraya menatapnya penuh dendam. Dia juga bingung kenapa meja makan kali ini penuh, bahkan tetangga sebelahnya turut bergabung di sini. Ada apa gerangan? Apa mungkin Mikhaill tengah bahagia dengan kehadiran Renaga? Zavia berpikir panjang sekali dengan apa yang terjadi saat ini.


"Ehem, Renaga ... kau terlihat lelah, apa baik-baik saja?" tanya Keyvan sejenak mengalihkan perhatian Azkara.


"Baik, Pa, tadi kepalaku sakit, tapi sudah sembuh," jawab Renaga tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


"Kenapa begitu? Apa karena guling Zavia?"


"Tidak mungkin, Sayang ... sudah kusimpan kemarin," jawab Mikhayla sontak membuat Zavia mengerutkan dahi, wajar saja dia merasa ada yang hilang di kamar itu.


"Bukan, Pa ... mungkin aku mandi terlalu pagi, jadinya masuk angin."


"Mandi pagi? Terus pagi ini mandi lagi? Woah Kak Aga hebat seka_"


"Azkara!! Sudah Opa katakan kau masih kecil ... kenapa otakmu begini?" sentak Mikhail membuat ketenangan keluarga itu buyar seketika.


"Sudah, jangan dengarkan ucapan adikmu. Ada baiknya kau istirahat saja dulu hari ini ... Justin bilang dia masih memberimu waktu sebelum benar-benar menjadi pemimpin perusahaan," ujar Evan yang sedikit membuat renaga lebih tenang, setidaknya mertua laki-lakinya tidak melayangkan tatapan curiga seakan hendak mengulitinya hidup-hidup.


"Iya, Pa."


"Hari ini papa sudah hubungi Daddy-mu, beberapa orang akan datang mengirimkan perlengkapanmu, Ga ... sementara rumahnya jadi, kalian tetap di kamar itu."


"Maksud Papa?"


"Kita akan jadi tetangga, Kak ... asyik," sahut Azkara seakan lupa jika beberapa menit lalu dia disemprot Mikhail akibat terlalu banyak bicara.


"Tetangga? Itu artinya aku akan selalu berada di bawah pengawasan Opa juga?" batin Renaga seraya menatap Mikhail yang tengah menikmati buah pisang di hadapannya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2