Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 36 - Mati Rasa


__ADS_3

Sesulit itu berdamai dengan fakta, susah payah Giska berlalu pergi. Renaga sehangat itu pada Zavia, dia sempat takjub dengan kelembutan Renaga ketika marah padanya. Namun, bagaimana Renaga malam ini pada Zavia berpuluh kali lipat lebih hangat dan manis dari yang pernah dia dengar.


Giska patah karena harapannya sendiri, dia jatuh bersamaan dengar tetesan air yang kini membasahi permukaan bumi. Sama sekali dia tidak peduli, kakinya memang terbiasa berjalan puluhan kilo meter tanpa arah.


"Belum tidur, Sayang."


Iri sekali, Giska tersenyum getir menatap wajahnya yang menyedihkan di kaca sebuah toko mainan di pinggir jalan. Tujuh tahun penantian, kesempatan untuknya memang sama sekali tidak pernah ada.


Rintik gerimis mulai tidak bersahabat, rambutnya mulai basah dan hal itu tidak membuatnya berpikir untuk menepi. Giska benar-benar layu, dia seakan kehilangan dunianya dalam satu waktu.


Dia tidak akan menangis lagi, mata Giska mulai dibuat sakit dengan pemandangan beberapa pasang kekasih yang melintas dengan kendaraan roda dua di bawah rintik hujan. Miris, dahulu dia kerap kali merasakan kehangatan seperti itu.


Bagaimana bidangnya pundak Renaga yang dia peluk di bawah tetesan hujan masih terbayang jelas. Yah, meski dia sadari mungkin hanya dia yang menganggap itu sebagai kenangan. Sementara Renaga, bersama Giska sewaktu remaja mungkin hanya dia anggap kesalahan belaka.


Giska menghela napas kasar, membuang semua kenangan yang tercipta detik demi detik bersama Renaga dahulu. Dia terlalu berlebihan, sampai tidak bisa memahami bahkan hati Renaga bukan dibawah kekuasaannya.


Sudah berapa lama dia menyusuri trotoar tanpa arah. Dia tidak memiliki tempat untuk pulang. Kedua orang tuanya sudah tentu kecewa, begitupun dengan Fabian. Giska terus saja berjalan, tanpa khawatir kejamnya dunia malam.


Nasihat Renaga sampai tidak dia pedulikan sama sekali. Hidup Giska terlampau kacau, sampai ketika tasnya dibawa lari seorang pria yang dia sadari mungkin copet di daerah sini, Giska sama sekali tidak peduli.


"Ambil saja, Mas ... ini kalung saya sekalian," tantang Giska pada pria yang telah hilang entah kemana.

__ADS_1


Jika dalam keadaan baik-baik saja, mungkin Giska akan mengejar pencopet itu dengan segala kekuatannya. Akan tetapi, untuk saat ini sekalipun ada yang menculik dan berbuat jahat padanya, Giska akan pasrah begitu saja.


Hingga, dia baru menyadari jika tengah memasuki area terlarang sebagaimana ucapan Renaga. Seorang pria yang tadi mencopetnya hanya salah satu dari sekian banyak pria dengan pakaian sama di angkringan tepi jalan.


Giska mempercepat langkahnya, panggilan menggelikan dari beberapa orang di sana membuat Giska ingin menangis. Dia tengah menyesali apa yang tadi tertanam dalam benaknya, pasrah sekalipun diculik itu omong kosong.


Faktanya, baru digoda sedikit saja, Giska berlari sekuat-kuatnya. Dalam keadaan panik, kecepatan Giska berlipat ganda. Meski tetap tanpa tujuan, dia terus saja berlari demi menghindari pria yang tadi mengusiknya.


"Giska bodoh! Kenapa bisa lupa kalau ginjal lagi mahal," gerutu Giska tengah menyesali kebodohannya.


Jika perkara tidak memiliki tempat pulang, kenapa dia tidak ke hotel saja. Logika Giska benar-benar buta hanya karena patah hati, kini di saat terancam barulah dia mengingat betapa mahal dirinya saat ini.


Dia yang semakin panik terus menyusuri lorong permukiman warga yang semakin padat. Dia sama sekali tidak tahu ini dimana. Meski dahulu kerap keluar bersama Fabian dan Zavia bukan berarti Giska hapal banyak tempat.


Tidak salah, Giska memang tengah menjadi incaran seseorang. Bisa jadi pencari organ dalam, sungguh Giska sama sekali tidak memiliki cita-cita mati muda, terlebih lagi dalam keadaan mengenaskan seperti yang ada di berita.


"Aaarrrgghh lepaskan!!"


Mimpi buruknya semakin menjadi kala tangan kekar itu mencengkram pergelangan tangannya dari belakang. Giska yang ketakutan sontak berteriak dan berlutut meminta ampunan. Dia menggeleng cepat dan berusaha melepaskan diri secepatnya.


"Lepaskan, Anda tidak akan mendapat harga mahal dari organ tubuh orang penyakitan seperti saya!!" teriaknya menggema hingga membuat salah satu warga membuka pintu.

__ADS_1


Tidak hanya satu orang, tapi beberapa lainnya ikut penasaran dengan kericuhan yang terjadi di sana. Giska yang terus berontak dengan mata terpejam berhenti sesaat kala mendengar penduduk mulai menyerang pria yang mengusiknya.


"Mas jangan macam-macam, lepaskan dia!!"


"Mau kau apakan anak itu? Jangan pernah berpikir bisa berbuat asusila di lingkungan kami!!"


Akibat mulut Giska, satu gang dibuat heboh dan mengira jika dia benar-benar tengah dalam bahaya. Detik itu juga, Giska merasa aman dan mungkin bisa menginap di salah satu rumah ini.


"Kalian semua diam!! Dia istriku, jadi kalian berhenti ikut campur urusan pribadi saya!!"


"Hah?"


Giska yang sejak tadi menutup mata dan berontak dalam kekuasaan pria itu kini mendongak. Bagaikan mimpi di siang hari, Giska dibuat semakin lemas kala menyadari Gavi menariknya paksa untuk berdiri.


"Selesaikan di rumah, lihat ... orang lain jadi salah paham melihat kita."


Gavi menarik pergelangan tangan Giska begitu pelan tanpa niat menyakiti. Pemandangan itu sontak kembali menuai keributan. Mereka yang tadinya sempat simpati pada Giska mendadak memutar bola mata malas, beruntung saja belum sempat menelpon polisi.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2