
Tiga hari sebelum Renaga berangkat ke luar negeri, Giska meminta hadiah perpisahan dan Renaga menyanggupinya. Keduanya menyusuri jalanan ibu kota di malam hari, tanpa Renaga yang marah-marah karena dia peluk.
"Eits Kakak sudah janji tidak akan marah ya," ucapnya enggan melonggarkan pelukannya walau sedetik saja, sungguh dia benar-benar seakan tidak rela.
"Perutku sakit, jam tanganmu lepas dulu," protes Renaga usai menepikan motornya lantaran merasakan sakit yang cukup menyiksa di bagian perutnya.
"Bentar, jangankan jam tangan, lenganku rela kulepas kalau itu menyakiti Kakak," ucapnya disertai gelak tawa dan membuat Renaga berdecak sebal seketika.
"Kecil-kecil kamu begini, besar nanti jadi apa, Giska?" tanya Renaga yang kemudian membantu Giska melepas jam tangannya.
"Istrimu, Kakak tahu sendiri cita-citaku apa, 'kan?"
"Ck, menyesal aku bertanya."
"Hahah, Kakak beneran nolak ya?" tanya Giska sekali lagi, sudah jelas Renaga seakan hendak menabraknya hidup-hidup.
"Iya, aku menolakmu ... ganti cita-citamu, Gis, aku khawatir kamu gila nanti Hahahaha."
Gelak tawa Renaga terbayang jelas di telinga Giska, sudah tujuh tahun berlalu tapi semua bahkan masih tertata begitu rapi. Hadirnya Gavi malam ini membuat Giska semakin kacau saja.
"Haaaaaaaaaaa!! Badjingan!! Renaga bangshat!!"
Teriak Giska sontak membuat Gavi menepi, sebagai manusia normal jelas saja dia bingung. Betapa terkejutnya dia kala menyadari air mata Giska sudah membasah. Namun, secepat itu Giska memalingkan wajahnya dari Gavi.
"Are you okay?"
Gavi bahkan turun demi memastikan apa mungkin kaki Giska terluka atau sejenisnya. Wanita itu mengangguk pelan, tapi di mata Gavi jelas saja mudah diketahui dari pundaknya yang terus bergetar menahan tangis.
"Menangislah, luapkan kesedihanmu ... aku akan menunggu."
__ADS_1
Gavi berucap pelan seraya menatap Giska yang terus menangis. Tidak bisa menyalahkan siapapun, Gavi adalah orang baru yang memang hanya berperan sebagai penolong Giska semata.
Beberapa menit berlalu, Giska seakan benar-benar menguras habis air matanya. Gavi kembali mendekat, wajah kacau Giska perlahan lebih baik dan dia tetap berakhir dengan mengulas senyum setelahnya.
"Hari ini sahabatku menikah, tapi aku bahkan tidak mengucapkan selamat padanya ... aku jahat, 'kan?" tanya Giska setelah beberapa saat sedikit lebih tenang, Gavi yang memahami maksud ucapan Giska hanya menepuk pundaknya pelan.
"Dengarkan aku, tidak semua yang kau inginkan harus menjadi milikmu ... kamu pernah dengar kalimat ini tidak?"
"Kalimat apa?"
"Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki dan takdir terbaik adalah yang saat ini kamu jalani."
Gavi berucap lembut seraya menatap Giska yang mengerjap pelan balik menatap netra indah pria itu. Dia kehilangan Fabian yang selalu memberikan kalimat positif, seakan tergantikan oleh sosok Gavi yang selalu dipertemukan kala Giska tenggelam dalam tangisnya.
"Belum pernah dengar, berarti selamanya akan begini ya, Dok?" tanya Giska putus asa usai mendengar wejangan dari pria itu.
"Ya tentu saja tidak, kau tahu, 'kan dalam hidup ada tiga waktu. Masa lalu, masa kini dan juga masa depan ... nah, ketiganya ini akan selalu bergantian. Masa kini akan menjadi masa lalu keesokan harinya, dan seterusnya."
"Tunggu saja, akan ada saatnya nanti ... jangan tanya aku kapan, karena aku tidak bisa membaca masa depan," ucap Gavi ingin segera menyelesaikan pembicaraan ini karena kahwatir Giska akan lebih bingung lagi.
"Lama ya ... Dok boleh tanya sesuatu?"
"Apa? Tanyalah," ucap Gavi serius dan menunggu pertanyaan dari Giska.
"Apa jalan paling cepat membuang seseorang dari ingatan kita? Apa harus mengalami kerusakan otak dulu?" tanya Giska asal dan berhasil membuat Gavi menghela napas kasar.
"Pertanyaanmu aneh sekali, untuk apa bertanya semacam itu?"
"Tanya saja, aku penasaran soalnya."
__ADS_1
"Melupakan seseorang tidak harus menunggu otakmu rusak, Giska ... cukup berdamai dengan apa ynag terjadi, jika kau sudah di titik itu, maka kau akan tertawa meratapi kebodohanmu di masa lalu."
"Salah satu caranya?"
"Lakukan apa yang kau mau, cintai dirimu sendiri lebih dulu ... nikmati hidup, buka matamu lihat dunia luar sana."
Giska terpaku sejenak, sebenarnya dia sudah berusaha untuk melupa. Sejak dia menemui Zavia, hati Giska bahkan sudah rela. Sialnya, Gavi malam ini membawanya berlari ke masa lalu hingga kembali mengingat Renaga.
"Ah iya, aku dengar-dengar kau sudah berjanji untuk bahagia di hadapan Zavia? Benar begitu?"
"Dasar penguping ... jangan dibiasakan, Dok, kemarin tetanggaku begini eh besoknya meninggal," ucap Giska yang kemudian terbahak hingga membuat Gavi menjitak keningnya.
"Sembarangan, kita pulang saja ... mulutmu semakin mengerikan kalau bicara."
Secepat itu suasana hati Giska berubah, beberapa saat lalu dia menangis tersedu-sedu. Kini dia bahkan tertawa hanya karena motor Gavi yang mendadak tidak bisa hidup.
"Ketawa bukannya mikir, motornya mati ... harusnya panik lah!!"
"Apa-apa jangan dibuat masalah, Dok, usaha saja dulu nanti juga hid_ nah kan benar, makanya apa-apa itu harus sabar, yang namanya usaha tidak pernah mengkhianati hasil."
Bijak sekali dia, bahkan lupa dengan jerit tangisnya barusan. Gavi tidak lagi menjawabnya, pria itu kembali melaju dengan kecepatan sedang lantaran khawatir jika penumpangnya melayang.
Berbeda dengan sebelumnya yang hanya dipundak, Giska kini melingkarkan tangannya di perut Gavi kala pria itu teraksa menambah kecepatan lantaran hujan mulai turun dengan derasnya.
Sudah lama Giska tidak begini, meski memang wanginya berbeda dan Giska tetap merasakan hampa, tapi setidaknya dia benar-benar lega malam ini.
"Untuk kali terakhir, aku janji tidak akan menangisinya lagi."
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -