
Dua minggu setelah kejadian itu, Christ tidak lagi datang mengusik Giska. Entah karena marah akibat dipukul keningnya, atau marah lantaran Giska menolak tawarannya? Bisa jadi keduanya dan Giska tidak mau ambil pusing dengan Christ yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Bukan hal asing, toh laki-laki memang begitu. Datang sesukanya, begitu juga ketika pergi. Giska sudah terbiasa, tidak pantas dia meratapi kepergian Christ yang sama sekali tidak berarti dalam hidupnya. Cukup sudah Gavi yang dia tangisi hingga tujuh hari tujuh malam dalam kesendirian, Giska sudah berjanji tidak akan mengeluarkan air matanya untuk pria manapun.
Semua berjalan dengan baik, pekerjaan Giska juga kembali tertata. Tidak lagi ada drama melarikan diri ke club malam usai Renaga memintanya menjaga kesehatan. Satu hal yang belum bisa lepas dari diri Giska, dia akan mengikuti apa kata Renaga tanpa sadar.
Bukan karena masih cinta, dia sangat menghargai Zavia sebagai istri dari Renaga. Namun, untuk kali ini Giska menurut karena pada dasarnya, Renaga adalah pemilik sepotong hati yang membuatnya bisa hidup normal hingga saat ini.
"Suatu saat akan ada pria yang menjadi bahagiamu, Giska ... Kakak bukan orangnya."
Giska menggeleng cepat kala dia mengingat pesan yang Renaga ucapkan di pertemuan terakhir mereka. Ya, Giska kembali mengingat hal itu. Sebuah ucapan yang tidak seharusnya dia ingat, jujur Giska paling tidak suka mengingat itu. Bukan karena benci Renaga, tapi setiap Giska mengingat ucapan Renaga maka dia juga akan mengingat Gavi dan ini adalah hal yang sama sekali tidak dia sukai.
"Giska!!"
Teriakan itu menggema, Giska menoleh dan mengerjap pelan kala matanya menemukan sosok yang menghilang cukup lama di hadapannya. Christ, pria itu kembali datang dengan senyum yang sama, tapi penampilannya amat berbeda.
"Apa yang kamu pikirkan, Giska ... dia pasti datang untuk meminta bayarannya."
Giska menepis pikiran tentang kedatangan Christ untuk menanyakan kabarnya. Dia baru ingat jika mereka memang memiliki hal yang belum dituntaskan. Hampir saja dia terlalu percaya diri, beruntungnya Giska segera tersadar.
"Hai, lama tidak bertemu ... kau menungguku?" tanya Christ begitu berdiri di hadapan Giska yang kini hanya menatapnya bingung.
"Hm, kau datang untuk meminta uangmu?"
"Kerjamu bagaimana? Sudah selesai hari ini?"
Bukannya menjawab, Christ justru balik bertanya dan ini adalah hal yang sangat aneh di telinga Giska. Sejak awal Christ seakan benar-benar menginginkan bayaran, lantas kenapa sekarang dia jadi berbeda.
__ADS_1
"Sudah."
Hanya seadanya, Giska lelah atau memang malas menjawab pertanyaannya? Sungguh, saat ini Christ tengah bingung apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja, sikap Giska yang luar biasa dingin ini sama sekali tidak membuatnya gentar.
"Kau tidak bertanya aku dari mana, Giska? Kita tidak bertemu cukup lama, apa sama sekali kau tidak ingin tahu tentangku?"
Christ tersenyum getir, tampaknya ucapan Elden tidak berguna. Giska masih sama bahkan lebih dingin setelah dia memilih pergi cukup lama, baru kali ini ada seorang wanita yang menganggapnya benar-benar tidak berharga.
"Dari mana memangnya?"
Sedikit terpaksa, tapi tidak mengapa. Christ tetap tersenyum mendengar jawaban wanita itu. Kendati Giska terus melipat tangan di atas perut sebagai pertahanannya, Christ akan selalu punya cara.
"Berlin, Mommy memintaku pulang," jawabnya singkat dan masih menunjukkan reaksi yang sama dari wajah datar Giska.
"Mommy? Kupikir dia anak terbuang."
"Kau punya waktu malam ini?" tanya Christ kemudian membuyarkan lamunan Giska tentang orangtua Christ.
"Untuk apa? Waktu untuk tidur jelas saja ada."
"Bukan," jawab Christ tertawa sumbang, sungguh jawaban Giska sama sekali tidak pernah terpikirkan secara logika.
"Lalu apa?"
"Temani aku malam ini, kau tidak perlu membayar 2700 euro kemarin."
Wajah Giska sontak berubah, matanya berbinar dan dia merasa tengah diberikan kesempatan untuk kesempatan untuk bernapas lega. Namun, hal itu hanya sementara karena Giska justru semakin mencurigai Christ.
__ADS_1
"Kau ingin menjualku dan mendapat uang berkali lipat dari hutangku, 'kan? Dasar licik."
Dasar wanita, tidak ada hal lain selain curiga di otaknya. Christ yang gemas sendiri sontak menjitak keningnya agar Giska sadar dia tidak sedang bermain-main.
"Picik sekali pikiranmu, aku tidak sejahat itu, Giska ... untuk apa aku menjualmu, jika aku selicik itu kau sudah kutiduri malam itu," ucap Christ menatapnya serius, pria itu memasukkan tangan di saku celananya, tampak jelas jika dia sedikit muak dengan Giska yang terus menatapnya sebelah mata.
"Jam berapa?" Giska mengalah, dia bertanya perihal jam pada Christ yang membuat pria itu berseru yes dalam keberhasilannya kali ini.
"Kau mau?"
"Katakan saja jam berapa dan aku harus bagaimana?" kesal Giska mendadak menyesal kala Christ tersenyum miring usai Giska bertanya tentang jam itu.
"Jam 07 malam ... temanku bertunangan, gaunmu sudah aku persiapkan."
"Baiklah, bisa."
"Okay ... ayo pulang," ajak Christ yang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, mungkin sudah terbiasa apa-apa main tarik begini, pikir Giska.
"Aku bisa sendiri Christ."
"Pangeran tidak akan membiarkan sang putri pulang sendirian, cepat naik."
"Tetap sadar, Giska ... ingat laki-laki memang begini."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -