
"Christ ... No ... jangan lakukan!! Aah Papa!!"
Terlambat, Christ tidak bisa dilarang. Jemarinya bergerak liar memanjakan Giska yang kini berperang antara suka dan tidak suka. Air matanya mengatakan tidak suka, tapi miliknya yang kini membasah membuat Christ yakin jika wanita itu menginginkan sentuhannya.
"Nikmati, Sayang ... kau akan sangat suka jika sudah merasakannya," tutur Christ lembut dan menarik paksa Giska dalam jurang candu yang akan membuat Giska mengingkari ucapannya sendiri.
Christ pastikan Giska tidak akan mampu melupakan hal ini. Dia yang akan takluk dan tunduk setelah Christ antarkan ke puncak kenikmatan hanya dengan jemarinya. Giska yang baru pertama kali, susah payah menahan rintihan kala dia merasakan gejolak asing yang belum pernah dia rasakan dalam hidupnya.
"Lega?" tanya Christ tertawa sumbang tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Giska bungkam dengan semburat merah yang luar biasa tak tertahankan di benaknya. Meski Giska tak menjawab, Christ kembali duduk ke kursi sebelahnya dan meraih tisu basah di sekitar sana.
Giska mengira tisu itu untuk pria itu sendiri, tanpa diduga Christ kembali membuka kakinya hingga membuat pria itu kembali memandangi miliknya seenak hati. Senyum nakal Christ benar-benar membuat Giska merinding dan berpikir hendak memukul pria itu.
"Aku bisa sendiri."
"Aku saja, tidak baik kerja setengah-setengah," ucap Christ tersenyum simpul menatap wajah pucat Giska.
Giska menolak dan berusaha menutup kedua kakinya. Namun, Christ sepertinya memang anti penolakan hingga pria itu membukanya lebih lebar lagi. Terakhir dia diperlakukan begini mungkin saat sakit. Tapi tidak pria nakal seperti Christ, sungguh Giska benar-benar malu malam ini.
"Kau sepertinya pertama kali, benar begitu?"
Tanpa Giska jawab, Christ mengetahui jawabannya. Baru saja beberapa jam lalu Alana menasihatinya, kini Christ bahkan sudah membuat wanita itu menangis.
Giska merasakan ngilu dan sedikit aneh meski hanya dengan jemari. Christ baru saja melecehkannya? Mungkin iya, tapi sialnya, Giska justru terbawa suasana bahkan mende-sah berkali-kali dan jelas akan membuatnya malu sendiri andai menuntut Christ sebagai pelecehan seksual.
__ADS_1
"Kau mau ikut aku pulang?" tanya Christ setelah cukup lama Giska terdiam.
"Kau buta? Apa kata orang tuaku jika pulang dalam keadaan begini?" kesal Giska menyadari pakaiannya sama sekali tidak layak.
"Jadi ikut aku? Kebetulan di apartemen aku sendirian."
Giska berdecih, siapa juga yang berharap akan ikut pulang bersamanya. Saat ini yang dia inginkan adalah pulang, tapi mungkin belum sekarang karena bisa dipastikan orang tuanya khawatir jika menyaksikan penampilannya persis pengemis begini.
"Aku ingin pulang, tapi bajuku kau robek begini ... Inisiatif lah beli baru atau lepaskan bajumu."
Giska kembali mengomel dan membuat Christ tertawa pelan. padahal baru beberapa saat lalu Giska menangis. Namun, kini dia kembali menyesuaikan diri dengan situasi, apa mungkin karena dia tidak terlalu gila, pikir Christ.
Bukan Christ namanya jika tidak mampu membodohi wanita. Pria itu berjanji akan mencari pakaian ganti untuk Giska. Nyatanya, dia justru membawa Giska ke unit apartemennya. Wanita pertama yang dia ajak menginjakkan kaki ke tempat itu.
Giska yang telanjur dibodohi hanya menghela napas pelan kala menyadari dirinya telah dibawa ke tempat tinggal pria gila itu. Jika tahu begini, lebih baik dia nekat lari dengan pakaian robek itu ke dalam rumahnya.
"Kamar tamu," jawab Giska cepat karena dia memang ingin pergi secepatnya dari hadapan pria itu.
Tidak ada tanda-tanda dia akan menggila. Christ sangat baik di satu waktu, tapi dia juga bisa berubah di waktu yang lain. Pria itu menyiapkan kamar tamu untuk tempat istirahat Giska, sebenarnya tidak kotor karena dia selalu membersihkan tempat itu.
"Tidurlah, kau bisa pakai pakaianku ... besok pagi aku beli yang baru," tutur Christ yang kini benar-benar tidak dapat Giska kenali.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Giska hendak menutup pintu kamar. Dalam sekejap juga, Christ menahannya dengan wajah muram di sana.
"Benar-benar tidur terpisah? Kau tidak ingin bersamaku lebih lama, Giska?"
__ADS_1
"Tidak."
"Yakin? Yang kau rasakan tadi hanya beberapa persen dari yang sesungguhnya ... kau tidak ingin merasakannya bagaimana?" tanya Christ menatap Giska begitu lekat.
"Ingin, tapi tidak denganmu," ketus Giska menatap kesal pada pria yang berani melecehkan terang-terangan.
"Oh iya? Bersama siapa memangnya? Kau punya kekasih?" tanya Christ bersedekap dada.
"Tidak, tapi nanti bersama suamiku."
"Ah suami, ya sudah kita cicil dulu sebelum menikah," ucapnya hendak melangkah maju, beruntung saja Giska mendorong tubuhnya hingga pria itu mundur beberapa langkah.
"Cicil? Lebih baik kau lunasi cicilan otakmu itu, mungkin baru lunas setengahnya," ucap Giska kemudian menutup pintu kamar begitu kasar.
Bukannya marah, Christ hanya terbahak mengingat wajah polosnya. Pria itu masih berdiri di depan pintu, mengetuknya berkali-kali dan terus memanggil nama Giska.
"Selamat tidur, Giska," ucapnya pelan sebelum kemudian kembali ke kamarnya.
Dia tersenyum tipis seraya melangkah penuh kepercayaan diri. Lihat, dia berhasil membawa wanita itu pulang bagaimanapun awalnya. Sama sekali tidak sulit untuk membawa wanita jinak seperti Giska.
"Suatu saat kau yang tidak bisa jauh dariku, Giska."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -