Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 24 - Mommy?


__ADS_3

Malam begitu cepat berlalu dan Giska kembali menyadari sudah berada di dalam pelukan Christ. Sungguh, dia benar-benar ingin mengutuk diri sendiri lantaran selalu berakhir di tempat tidur. Meski memang tidak terjadi apa-apa, tetap saja dia kesal pada diri sendiri.


Bias cahaya di luar sana menelisik indra penglihatan Giska hingga wanita itu beranjak bangun segera. Sementara Christ sejak tadi masih terlelap begitu nyamannya, mungkin dia memang lelah. Seperti yang Giska ketahui, tadi malam dia baru saja pulang dari Berlin dan harus menemaninya hingga larut malam.


Untuk kali pertama Giska menatap lekat wajah pria itu, pria yang hadir secara tiba-tiba dan membuatnya merasa terusik. Giska menghela napas panjang seraya mengingat bagaimana dia yang terus mengabaikan Christ padahal pria ini begitu baik.


Sebagaimana yang dahulu sempat dia lakukan, memang selagi ada kesempatan akan terus berusaha tanpa mengenal lelah sekalipun diabaikan. Dahulu, ketika sedang di titik lelah mengejar cinta Renaga, Giska sempat berjanji pada diri sendiri andai menemukan sosok Giska, dia tidak akan membiarkan orang itu merasakan cinta sendiri terlalu lama.


Sejak dahulu Giska sangat mengerti terkait balas budi. Setelah diperlakukan dengan baik oleh Christ, dia ingin sesekali membalasnya untuk kali ini. Tepatnya dia memang butuh, perutnya terasa kosong setelah membuka mata dan jelas saja dia butuh sarapan pagi ini.


Giska berlalu menuju dapur mengandalkan kemampuan memasak yang dapat dikatakan mentok di standar masakan enak menurut lidah Keny. Ya, satu kelemahan Giska memang dia tidak sepandai sang mama dalam memasak, tapi untuk makan semuanya Giska bisa.


Bahan makanan yang ada di sana tidak begitu banyak, sudah pasti Giska memilih sandwich sebagai jalan terakhirnya. Hanya itu yang mungkin dia buat dengan bahan-bahan dan kemampuan yang dia punya.


"Morning, Honey."


Dirinya tengah fokus saat ini, tanpa Giska duga tangan kekar Christ kini melingkar di perutnya. Kecupan di punggung itu membuat Giska merinding bahkan hampir saja memukul kepala Christ dengan sendok garpu.


"Christ lepas," pinta Giska yang benar-benar merasa geli dengan tindakan Christ yang terlalu menurutnya ini.


Bagi Christ mungkin hal itu biasa dilakukan pasangan yang bahkan sebentar lagi akan menikah. Namun, bagi Giska hal semacam ini sedikit berlebihan. Jika dia tahu Christ justru akan semakin berani begini, lebih baik tadi malam dia tidak menerima Christ yang menginginkan dia menjadi seorang kekasih.


"Kenapa? Aku hanya memelukmu, tidak ada maksud lain."

__ADS_1


"Tetap saja, aku risih," ucap Giska yang kemudian membuat Christ mengalah sesaat.


Hanya sesaat, karena sebelum berlalu ke meja makan dia mengecup wajah Giska dengan sengaja hingga wanita itu memekik lantaran tidak kuasa menahan kekesalannya.


"Jika memang karma, kenapa harus begini? Bukankah aku tidak pernah mencuri ciuman atau memaksa memeluk kak Aga dulunya?"


Giska menggerutu dalam hati sembari turut duduk di sisi Christ. Keduanya menikmati sarapan yang hampir bisa dikatakan makan siang itu, sama-sama terlambat dan penyebabnya adalah Giska sendiri.


Usai sarapan, bel berbunyi berkali-kali hingga Christ menatap ke arahnya. Wajah Giska tampak cemas lantaran khawatir jika yang adalah teman-teman Christ atau justru wanita Christ yang lain.


"Tunggu di sini, jangan kemana-kemana."


"Siapa yang datang? Kau jangan membuatku takut," ucap Giska yang menatap cemas ke arah Christ lantaran pria itu memperlihatkan ekspresi yang sama.


"Tenanglah."


"Christ!! Astaga lama sekali ... kau ingin mommy mati karena menunggu atau bagaimana?"


Mommy? Matilah Giska, mendengar suaranya saja Giska sudah panik. Jika mendengar hentakkan kakinya sungguh mengerikan, belum lagi Giska kini teringat dengan status ibu Christ sebagai ibu tiri.


"Mom? Kenapa cepat sekali?"


"Mommy tidak punya banyak waktu ... adikmu harus ke Jepang lusa jadi Mommy hanya bisa datang hari ini," jelas wanita dengan penampilan luar biasa mewah yang membuat otak Giska spontan menghitung nominal seluruh yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Uhuuu tunggu, dia wanita yang kau maksud?" tanya wanita itu kini mendekat dan menghampiri Giska yang terlihat jelas sekali baru bangun tidur.


"Hm, dia Giska, Mom ... Giska, Mommy-ku."


"Oh my god ... dia jauh dari ekspetasiku, ya Mommy suka yang bentuknya begini."


Apa tadi katanya? Cih, memang orang tuanya berekspetasi apa? Mata wanita itu menelisik Giska dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan dia baru berhenti ketika menatap dada Giska kemudian mengutarakan kalimat semacam itu.


"Kalian baru saja menghabiskan malam bersama? Woah, kebetulan mommy juga sudah lama menginginkan tangis bayi ... sayangnya Mommy tidak bisa hamil lagi pasca melahirkan adik-adikmu, Christ."


"Nyonya kami tid_"


"Ahahaha Mommy bisa saja, bukankah itu yang Mommy mau sejak dahulu ... jadi aku memilih berbakti," sahut Christ memotong pembicaraan Mommy-nya dan hal ini kembali membuat darah Giska naik.


"Sialan, apa maksudnya?!!"


"Benarkah? Tapi kenapa wajah calon istrimu terlihat ragu?"


"Bukan ragu, Mom ... malu mungkin."


"Ya, Tuhan!! Keluarga macam apa ini?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2