Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 31 - Sungguh


__ADS_3

"Kenapa? Kau takut?"


Giska mengangguk, tanpa perlu dia pastikan Giska sangat sadar apa yang Christ lakukan. Pria itu tengah mengambil ancang-ancang untuk menghujam miliknya. Meskipun belum benar-benar terbenam, tapi gesekan pelan di sana sudah berhasil membuat Giska panas dingin.


"Tatap mataku, apa aku terlihat akan menyakitimu?"


"Tidak ... t-tapi aku ragu, sepertinya akan sakit," ucap Giska dengan wajah pucatnya, sementara Christ masih terus memandangi wajahnya dengan tatapan penuh perasaan.


"Tidak akan, paling sakit di awal nanti tidak lagi ... percaya padaku."


"Wajahmu saja meragukan bagaimana bisa aku percaya," keluh Giska benar-benar khawatir miliknya robek atau lainnya.


Ketakutan Giska bukan tidak beralasan, dia terlalu benyak mencari informasi terkait malam pertama dari berbagai artikel. Otak bodohnya justru percaya jika memang akan sesakit itu.


Hingga keraguan Giska akan hal itu sejenak terpatahkan kala Christ kini menghujam miliknya. Rasanya tidak sakit, tapi sakit sekali bahkan Giska memekik dan membuat Christ kewalahan.


"Shuut, boleh teriak, tapi jangan berteriak sekencang ini," ucap Christ panik seraya menutup mulut Giska


"Fiyuh, ini sakit sekali."


Air mata yang mengalir di pelupuk mata Giska memang terlihat menyedihkan. Namun, Christ enggan jika harus melepaskan penyatuan yang baru saja berhasil dia lakukan setelah cukup sulit menerobos milik Giska.


"Kyaaa!! Kau ingin membunuhku atau bagaimana?"


"Tidak ada yang berniat membunuhmu ... lagi pula bukankah kau seharusnya senang? Milikku tidak kecil dan bisa berdiri, Giska."


Giska masih terus menangis, hingga dia baru berhenti kala bisa merasakan kenikmatan yang Christ berikan meski tidak secepat itu. Bukan hal mudah mengubah rintihan Giska menjadi dessahan karena memang yang Giska rasakan di awal hanya sakit tiada tara.

__ADS_1


Hari pertama menguntit Giska, Christ pernah berkhayal bisa bergabung bersama Giska melepas penat di kamarnya. Kini, dia justru mendapatkan yang lebih dari itu. Pria itu tidak hanya melepas penat, tapi juga kerinduan dan kini berhasil membuat Giska melayang dengan tubuh yang berkali-kali bergemelinjang.


"I love you, Giska."


Berkali-kali, Giska mendengar dengan jelas bagaimana Christ meloloskan namanya dalam permainan. Telinganya tidak mungkin salah, benar-benar hanya Giska dan itu tidak terjadi sekali atau dua kali, melainkan banyak.


.


.


"Bagaimana? Ada suaranya?"


"Sebentar, aku dengar lagi."


Sudah dua jam mereka berada di depan pintu kamar Giska. Sonya sudah pegal lantaran menempel layaknya cicak sejak tadi hanya demi memastikan berhasil atau tidaknya Giska malam ini. Jangan ditanya bagaimana perasaan mereka, jelas saja campur aduk. Pegal, lelah dan sakit pinggang mulai menyerang.


"Ada tidak?"


"Ah sudahlah, aku yakin pasti berhasil ...."


"Onya, ke kamar yuk," ajak Keny mengedipkan matanya.


Sudah dua jam mereka berdiam diri di depan kamar putrinya, segelas kopi dan juga biskuit di Sonya siapkan bahkan sudah kosong tanpa Keny sadari.


"Ih sadar umur sudah tua ... bawa gelas ini ke dapur sana," titah Sonya meninggalkan Keny yang tampak membuang napas kasar saat ini.


Menguping putrinya di malam pertama ternyata cukup melelahkan, entah berhasil atau tidak Sonya juga tidak tahu. Akan tetapi, yang jelas Sonya berharap tidak ada drama gagal akibat Giska yang menolak Christ atau lainnya.

__ADS_1


Harapan Sonya agaknya sama sekali tidak meleset kali ini. Dalam dekapan Christ, Giska memukuli dada bidang sang suami berkali-kali. Pelan, bahkan sama sekali tidak menyakiti.


"Kau menyakitiku ... kalau ngilunya sampai tahun depan bagaimana?"


Giska memang kerap kali berprasangka buruk dalam hidupnya. Pria itu terkekeh seraya menahan pergelangan tangan tangan sang istri yang terus memukulinya. mungkin marah karena memang Christ tidak berhenti walau Giska sudah terkulai lemas bahkan untuk memperbaiki posisi saja sudah tidak kuasa.


"Mana mungkin sampai setahun, belum terbiasa saja," ucap Christ mengeratkan pelukannya.


Walau jujur mata Christ sudah sangat mengantuk, tapi sebisa mungkin dia bertahan demi menenangkan Giska lebih dulu. Sama sekali tidak berniat, tapi sepertinya tanpa sengaja dia menyakiti Giska malam ini.


"Christ ... apa setelah ini kau akan meninggalkanku juga?"


Mata Christ hampir terpejam, tapi mendengar pertanyaan itu sontak dia membuang rasa kantuknya. Pria itu menatap Giska yang kini tampak mendongak, menatap lekat mata Christ seolah tengah mencari kebohongan di sana.


"Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Ini adalah awal, mana mungkin aku meninggalkan istriku sendiri, Giska," tutur Christ lembut sekali. Paham betul jika Giska setakut itu ditinggalkan akibat luka masa lalunya.


"Bukankah kau menikahiku hanya karena ingin merasakan tubuhku ... setelah kau dapat, sudah pasti kau bu_"


"Shuut, kau benar-benar percaya aku sepicik itu, Giska?"


Tidak ada jawaban, Giska hanya menangis dan Christ secepat mungkin menyeka air matanya. Begitu dalam luka yang Gavi torehkan hingga Giska tidak memiliki kepercayaan diri bahwa dia tidak akan pernah ditinggalkan.


"Kau adalah istriku, tempatku pulang ... kau adalah rumahku, aku benar-benar sungguh bukan hanya singgah."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2