
Sama seperti kemarin, Renaga selalu bangun lebih dulu. Bencananya adalah Zavia tentu saja harus keramas pagi ini. Meski sedikit sulit dan butuh usaha, pada akhirnya selesai juga.
"Sakit?"
"Tidak, yang penting tidak berdarah, Kak."
Mudah sekali dia menyimpulkan segala sesuatu. Zavia yang luka, tapi Renaga yang dibuat khawatir dengan seluruh lukanya, terlebih lagi dia yang sempat mendengar keadaan Zavia ketika kecelakaan dari Giksa secara langsung ketika di rumah sakit.
Keduanya beriringan menuruni anak tangga. Seperti yang Renaga duga di meja sudah hadir Mikhail yang tampak nyata sedang memata-matai kehidupannya. Meski sedikit was-was dia bersikap sesantai mungkin dengan kemeja dan jas yang melekat begitu pas di tubuh gagahnya.
"Ga? Kau mau kemana hari ini? Bukannya Justin memberimu waktu sampai minggu depan?" tanya Keyvan bingung sendiri melihat menantunya yang kini sudah begitu rapi di depan matanya.
"Tidak masalah, Pa ... aku sudah katakan pada Daddy tadi malam, lebih cepat lebih baik karena banyak yang harus aku pelajari."
Alasan saja sebenarnya, Renaga tengah menghindari Mikhail dan dia lebih memilih ikut Justin saja. Terlebih lagi, hari ini Zavia memutuskan untuk memulai rutinitasnya di rumah sakit. Akan tidak lucu jika dia sendirian terjebak dengan Mikhail yang akan terus menjadi momok baginya.
"Hm baiklah kalau begitu, Zavia juga akan ke rumah sakit hari ini?" Keyvan memastikan dengan senyum hangatnya, jika memang iya maka itu berarti kesehatannya memang sudah pulih.
"Iya, Pa."
"Yakin? Kepalamu bagaimana?" kali ini sang mama yang ikut bicara, dia sedikit khawatir dengan keadaan Zavia seseungguhnya.
"Baik-baik saja, Ma ... jangan khawatir."
Sebenarnya belum sembuh total, tapi dia yang memahami kondisi Renaga mengaku sudah benar-benar lebih baik, terutama di hadapan Mikhail.
"Cepat sekali, honeymoon kek kalian berdua ... masa begitu saja, habis nikah sibuk sendiri," timpal Azkara yang baru saja bergabung dan sedikit mengusik telinga Mikhail.
"Honeymoon kepalamu, mereka nikah dadakan mana mungkin bisa berencana melakukan itu semua ... minimal dua bulan lagi lah, bagaimana, Van?"
Renaga hanya menunduk sembari tersenyum tipis mendengarnya. Sepertinya yang dimaksud Mikhail sama dengan larangan di malam pengantin. Namun, Renaga lebih maju selangkah dibandingkan Mikhail. Tepatnya atas bantuan Zavia, dia berhasil membuat pria itu kalah telak.
"Soal itu terserah Aga saja kalau memang mau, Pa. Aku tidak melarang ... rundingkan saja bersama Zavia bagaimana baiknya."
Terang-terangan Keyvan seakan menentang kehendak mertuanya. Jelas hal itu membuat Renaga berseru yes lantaran mendapat dukungan secara tidak langsung. Awalnya dia berpikir bahwa Keyvan yang akan lebih menyakitkan kepala, tapi kini justru berbeda dan semua dugaan Renaga benar-benar salah.
Kehidupan rumah tangganya tidak semenyeramkan yang Renaga bayangkan. Meski akan terus berada di bawah pengawasan, tapi setidaknya masih ada mertua yang menerima Renaga tanpa menempatkan dia di posisi sulit.
__ADS_1
"Soal rumah percayakan pada Dito, nanti kau bisa hubungi dia perihal design dan lainnya ... soal biaya, Papa yang tanggung."
Mata Mikhail membola mendengar ucapan Keyvan, sungguh dia tengah merasa Keyvan ejek saat ini. Sedikit menyesal dia ikut sarapan di sini, niat awal hanya ingin memastikan cucunya belum terjamah, tapi yang terjadi justru berbeda. Tamparan secara tidak langsung dari Keyvan sedikit membuat dada Mikhail bak dihantam bongkahan batu besar.
"Papa baik banget, jadi pengen nikah juga."
Kali ini Azkara yang secara terang-terangan memuji kebaikan Keyvan. Sayangnya, jangankan tambahan uang jajan, ucapan terima kasih saja tidak dia dapatkan. Dia justru menerima tatapan tajam dari Keyvan sekaligus cubitan di pinggang dari Mikhail.
"Coba saja, berani menikah sebelum waktunya, Papa cabut semua fasilitasmu, Azkara!" ancam Keyvan sama sekali tidak becanda, dia tengah menegaskan pada putra bungsunya ini karena dari beberapa laporan pihak kampus, Azkara sangat-sangat memprihatinkan.
"Papa kenapa begitu? Tidak adil sekali, Kak Via boleh nikah sebelum waktunya ... dadakan lagi."
"Zavia beda, Renaga sudah mampu bertanggung jawab jadi boleh-boleh saja," jawab Keyvan lagi-lagi membuat Ranaga merasa besar kepala, dia terus dipuji sang mertua dan jelas saja hal ini membuatnya bahagia.
"Hm, so Papa baru izinkan aku menikah ketika sudah 25 tahun?"
"Tergantung, tapi sepertinya orang sepertimu baru bisa bertanggung jawab ketika berusia 45 tahun," jawab Keyvan santai hingga membuat jiwa Azkara kembali tertekan.
.
.
"Terima kasih ... harusnya kamu masih istirahat, Zav."
Tanpa Zavia jelaskan, Renaga sangat memahami usaha yang tengah Zavia lakukan untuknya. Hanya demi melindungi Renaga, dia menunjukkan kepada Mikhail bahwa dia sangat baik-baik saja.
"Tidak, Kak, memang sudah waktunya ... kalau di kamar terus Opa makin curiga nanti," jawabnya sebelum berlalu meninggalkan Renaga yang kini mengantarnya hingga ke dalam rumah sakit.
"Benar juga, kamu pintar ternyata."
Soal itu saja dia dipuji, sementara yang lain tampaknya tidak sama sekali. Renaga tersenyum simpul seraya mengusap pelan pundaknya, seakan tidak bisa melepasnya dari pelukan.
"Masuklah, nanti pulang aku jemput ... obatmu jangan lupa, makan siangnya juga."
Zavia mengangguk pelan usai mencium punggung tangan Ranaga. Padahal, pria itu belum mengecup keningnya, Zavia tampak buru-buru sekali hingga Renaga memintanya berbalik.
"Apa? Aku punya uang, tidak perlu, Kak."
__ADS_1
"Cih, kamu berpikir aku akan kasih uang jajan? Kemari cepat, aku belum menciummu," ujar Renaga sama sekali tidak khawatir akan terdengar oleh telinga yang lain padahal saat ini sudah lumayan ramai.
"Oh, ci-cium ... nih, hati-hati ciumnya jangan pakai tenaga," ungkapnya meminta baik-baik lantaran khawatir Renaga sedikit tidak terkendali.
.
.
Selesai mengantar Zavia, pria itu segera menuju perusahaan Justin. Sebenarnya belum ada agenda apa-apa, dia juga berbohong pada Keyvan bahwa Justin mempersilahkannya ke kantor hari ini.
Sungguh, dia hanya ingin menghindari Mikhail saja sebenarnya. Namun, bagi seorang Renaga tidak ada yang sia-sia dalam hidup. Dia akan menggunakan hari ini untuk menghubungi Dito seperti yang mertuanya katakan beberapa jam lalu.
Justin yang menyadari kedatangan putranya juga tidak banyak bertanya. Selagi tidak pulang dalam keadaan babak belur maka semua masih baik-baik saja. Terlebih lagi, jika dia mengatakan akan bertemu Dito, seseorang yang akan bertanggung jawab dalam pembangunan istananya bersama Zavia.
"Design sendiri atau?"
"Aku tidak bisa, serahkan saja pada arsitek yang Anda punya," jawab Renaga menatap Dito yang tampak mengangguk-angguk di sana.
"Baiklah, Anda boleh pikirkan matang-matang bagaimana keinginan Anda ... jika nanti sudah siap, maka Anda hubungi saya lagi," ucap Dito usai menjabat tangan Renaga, setelah sebelumnya Evan kini menantunya.
"Baik, nanti saya diskusikan terlebih dulu bersama istri saya."
"Ah iya, atau jika ingin lebih maksimal kalian bertemu saja secara langsung. Kebetulan anak ini masih baru, mungkin lebih muda darimu jadi dia akan mudah memahamimu."
"Masih baru?" Renaga mengerutkan dahi dan sontak ragu.
"Hm, tapi kemampuannya sudah pasti tidak akan membuat Anda kecewa, tenang saja."
"Saya pikirkan lagi, nanti saya hubungi."
Sebenarnya Renaga bisa saja menyerahkan semuanya mentah-mentah. Akan tetapi, dia berpikir sangat panjang dan ingin istana yang akan dia huni bersama wanitanya benar-benar menjadi tempat pulang ternyaman.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1