Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 66 - Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

Kali pertama Zavia memperlihatkan kecemburuan dan Renaga sudah sebahagia itu. Sama halnya seperti cinta, perihal cemburu Zavia juga sama. Menyadari Renaga terus mencari seseorang selain dirinya, detik itu juga hati Zavia tersayat sesungguhnya.


Ulu hatinya terasa sesak, tapi hendak marah Zavia tidak bisa. Hingga, tadi malam dia berani mengutarakan apa yang dia rasa. Tentang cinta mungkin bisa dia sembunyikan bertahun-tahun, tapi jika tentang kecemburuan, Zavia ternyata menyerah.


Seperti kata adiknya, Zavia memang lemah. Pulang dari rumah sakit wanita itu mendadak meriang dan Renaga dibuat panik sepanik-paniknya. Sepanjang malam dia terlelap dalam dekapan Renaga.


Selama ini Renaga kerap mengelus dada lantaran cara tidur Zavia yang persis ulat nangka. Namun, tadi malam Zavia sama sekali tidak berulah. Perubahan kontras sang istri membuat Renaga memilih untuk tidak meninggalkannya hari ini.


"Kenapa belum siap-siap? Sudah jam sembilan, Kak."


"Aku di rumah saja, aku ingin bersamamu hari ini," tutur Renaga lembut tanpa melepaskan sang istri yang kini tengah menyeduh teh hangat demi meredakan mual.


Tampaknya rasa takut Renaga semakin lama semakin tipis, mungkin karena hadir Keyvan yang melindunginya dari cercaan Mikhail. Pagi ini, dia bahkan terang-terangan memeluk Zavia meski mereka tidak hanya berdua.


"Kak lepas," pinta Zavia tiba-tiba seraya melepaskan paksa tangan sang suami yang melingkar di perutnya.


Rasa mual yang tadi benar-benar mengganggu, kini kembali menguak hingga Zavia kembali muntah untuk kesekian kalinya pagi ini. Teh yang dia seduh bahkan belum sempat diminum, tapi isi perut Zavia kini mungkin benar-benar kosong.


"Kamu hamil, Zavia?"


Renaga melontarkan sebuah pertanyaan yang juga merasuk dalam benak Zavia sejak kemarin. Dia tidak menjawab, tepatnya bingung dan tidak mau asal menduga juga.


Tidak ingin salah menerka, Renaga memutuskan ke rumah sakit segera. Entah benar-benar hamil atau hanya asam lambung, yang jelas Renaga khawatir pada sang istri. Tanpa meminta Bastian atau siapapun, Renaga memang memutuskan untuk pergi berdua saja.


"Kalian mau kemana?"


Suara khas dari sesepuh rumah ini sejenak membuat keduanya menghentikan langkah. Zavia susah payah menutup mulut demi menahan mual yang memang tiada hentinya. Tatapan bingung Mikhail yang tampak membawa bibit nangka yang siap di tanam itu membuat Renaga meneguk salivanya.


"Rumah sakit, Opa."

__ADS_1


"Kenapa? Zavia demam lagi?" tanya Mikhail masih bertahan di posisinya.


"Iya, panas semalam, Opa."


Tanpa Renaga duga, Mikhail menurunkan bibit nangka itu. Sungguh, Renaga benar-benar sial hari ini rasanya. Kenapa juga Mikhail harus menunggu di depan rumah seolah menjadi teman Rohman berjaga.


"Opa di rumah saja, kasihan Oma."


"Ikut saja lah, opa dengar dari papamu tadi pagi putri Keny juga dirawat, benar, 'kan?"


Baiklah, sepertinya memang sudah takdir Renaga jika harus menerima akibatnya. Sontak Renaga menunduk dan menggigit bibirnya, ngilu dan sakit padahal sama sekali belum diapa-apakan sudah begitu terasa.


"Pelan saja, Ga ... rumah sakit itu tidak akan lari."


"Baik, Opa."


.


.


"Kamu tidak makan kemarin?"


"Makan kok, Ma."


"Asam lambungmu naik, jaga makannya, Zavia."


Lutut Renaga lemas, dia menatap bingung Mikhayla yang baru saja selesai memeriksa Zavia. Tidak puas? Benar, bukan jawaban itu yang dia mau. Tampaknya, dia akan lebih siap menghadapi kemarahan Mikhail dibandingkan harus menerima fakta ini.


"Mama yakin? Mualnya beda kok," protes Zavia seakan tidak terima dengan hasil pemeriksaan seniornya ini.

__ADS_1


"Kenyataannya begitu, asam lambungmu naik ... pasti kamu kurang tidur dan banyak pikiran," jelas Mikhayla lagi yang membuat Renaga hanya menghela napas perlahan, apa begini sakitnya terlalu berharap, pikirnya.


"Asam lambung? Sejak kapan aku punya penyakit itu? Banyak pikiran memang iya, begadang juga ... tapi, 'kan?"


Zavia menatap Renaga yang kini juga tengah menatapnya. Senyum Renaga jelas mengutarakan apa yang dia rasa saat ini, tapi hendak bagaimana dia tidak mampu berbuat banyak.


"Maaf, Kak," bisiknya pelan kala Renaga mendekat dan merapikan bajunya.


"Shuut, jangan minta maaf ... mungkin belum direstui, jangan sedih."


.


Di tempat yang masih sama, Fabian tetap setia menunggu. Gavi juga selalu kembali hanya demi memastikan keadaan Giska setiap beberapa waktu sekali, bukan seperti dokter yang memastikan pasien, tapi lebih dari itu.


"Apa putriku masih bisa selamat, Dokter?" tanya Keny pasrah menerima karena keadaan Giska justru semakin memburuk setelah masuk rumah sakit.


"Tentu, kita masih bisa berusaha untuk menyelamatkan Giska."


Terlalu keras memaksa diri, Giska benar-benar berhasil mengelabui dunianya. Bahkan, Keny dan juga Sonya. Selama ini putrinya terlihat membaik, dia juga benar-benar berhenti menjadikan alkohol sebagai tempat pelarian yang diduga sebagai penyebab utama penyakit itu bersarang di tubuhnya.


Namun, fakta yang kemudian terjadi selanjutnya berbeda dan membuat Giska sampai di titik selemah ini. Titik dimana obat sudah tidak mampu menyelamatkannya, hanya transplantasi yang menjadi jalan terakhir.


"Cangkok hati? Saya bersedia, Dok."


Tanpa perlu Keny mencari dengan cara gila dari teman-teman di masa mudanya yang mungkin saja belum bertaubat, Fabian menawarkan diri dan bersedia berbagi hati untuk Giska.


Air mata Sonya menetes begitu mendengar Fabian yang bersedia tanpa keraguan. Tidak jauh berbeda dengan Sonya, Keny tentu saja sama. Entah harus dengan cara apa dia berterima kasih pada Fabian setelah ini.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2