
Jika Renaga marah, maka Zavia jelas lebih marah. Terlebih lagi, dia bahkan baru tahu usai mengikuti langkah Gavi menuju sebuah ruangan pasien yang tidak boleh Zavia masuki selama satu minggu terakhir.
Hubungan mereka baru saja kembali menghangat belum lama ini. Namun, siapa sangka jika setelahnya Zavia harus menelan pil pahit yang membuatnya bahkan tidak bisa berpikir jernih.
Sama halnya dengan Renaga, kemarin Zavia juga menggila bahkan hilang kesadaran sesaat. Sempat membenci fabian kemarin, tapi begitu mendengar penjelasan pria itu, Zavia perlahan bisa mengerti.
"Giska tidak ingin kita berdua tahu keadaannya, sejak kemarin aku hanya bisa masuk jika dia tidur ... jadi berhenti berpikir macam-macam, aku juga sama hancurnya," ucap Zavia memecah keheningan.
Setelah sebelumnya Renaga sempat benar-benar cekcok di ruangan rawat Giska bersama Fabian, Zavia menarik sang suami keluar lantaran Keny mengusirnya.
Memang salah dia sebenarnya, dalam keadaan seperti tadi tidak seharusnya Renaga bersikap persis anak kecil begitu. Terlebih di sana Keny juga sedang menjaga Giska, sungguh hal itu sama sekali tidak mencerminkan seorang Renaga yang diagung-agungkan sejak kecil.
"Tapi kenapa? Bukankah anak manja itu luka di jari saja mengadu padaku?" tanya Renaga menatap sang istri yang kini hanya menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu, kak ... dulu dan sekarang berbeda, dia sudah dewasa jauh dari yang Kakak kira."
Mungkin, tapi di mata Renaga tidak begitu. Seorang Giska tetap Giska yang manja, Giska yang bahkan enggan naik angkutan umum dengan alasan takut dibawa sopirnya.
Giska yang begitu tertanam dalam otak Renaga, hingga sekalipun Zavia menjelaskan Giska sudah berbeda, hati Renaga tetap menampik fakta itu.
Renaga bersandar di pundak sang istri, gara-gara sikap Renaga, mereka berdua diusir Keny untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Sayang maaf, emosiku masih buruk seperti dulu."
Renaga sadar betul jika dirinya sama sekali tidak mampu meredam emosi sebagaimana orang normal lainnya. Beruntung saja, Zavia sudah mengenal Renaga sejak lama.
"Sudah biasa, tidak masalah."
Melihatnya marah seperti tadi adalah hal biasa, tidak jarang Renaga masuk ruang BK hanya karena bertengkar di sekolah. Otak cerdasnya sama sekali tidak menjamin Renaga terkenal dengan prestasi semata, tapi juga kebringasannya jika sudah marah.
"Oh iya, yang kemarin gimana? Sudah ketemu?" tanya Zavia mengalihkan pembicaraan.
"Belum, hadiahnya sudah kuberikan pada Hudzai, pak Dito bilang orangnya sudah mengundurkan diri ya sudah," jawab Renaga menghela napas panjang.
Terlihat jelas kekecawaan di mata sendu Renaga. Walau bibirnya tampak tersenyum tipis, kesedihan itu sangat jelas. Zavia sebenarnya ingin cemburu, Renaga bahkan sebegitunya padahal orang itu sama sekali tidak dia ketahui.
"Kenapa begitu? Cepat sekali menyerahnya?"
"Untuk apa kukejar dia berhari-hari, sudah lama aku menunggu, tapi lihat sendiri aku tidak berhasil menemukannya," ucap Renaga pasra, dia tidak akan jika memang tidak bisa.
"Andai suatu saat nanti Kakak diizinkan bertemu dengannya bagaimana? Apa yang akan Kakak katakan?"
"Hm yang utama pasti terima kasih, rumah itu adalah impianku untuk hidup bersamamu sejak SMA, tapi kamu tahu sendiri skill menggambarku tidak lebih baik dari anak TK, Zav," ucap Renaga masih bisa bercanda di saat-saat seperti ini.
__ADS_1
.
.
Giska, arsitektur yang kak Aga puji-puji waktu itu adalah dia ... katakan padanya, Zav. Mata kak Aga akan ketutupan belek selamanya jika menatap Giska.
Tapi, jika nanti Giska tanya siapa yang memberitahunya jangan sampai jual namaku.
Zavia menghela napas panjang, membayangkan bahwa yang merancang mahligai impian Renaga bersamanya adalah Giska saja sudah sesak. Dia hanya membayangkan berada di posisi Giska saja, tidak maksud yang lain.
"Hanya terima kasih?" tanya Zavia lagi, dia ingin melihat seberapa kagumnya sang suami terhadap hasil jerih payah Giska.
"Hm mungkin, dia tidak mungkin meminta hal lain bukan?"
Zavia menunduk sebelum kemudian mengutarakannya. Dia tampak menimbang apa mungkin hal ini harus dia katakan. Sementara dia menduga jika Giska yang sengaja menutup diri agar hal itu tidak sampai ke telinga Renaga.
"Kamu kenapa? Apa capek? Kita pulang saja, Sayang ... besok-besok jenguk Giska lagi."
"Tidak, sebelum jenguk Giska, Kakak perlu tahu satu hal."
"Apa?" tanya Renaga penasaran bahkan keningnya kini tampak mengerut lantaran dibuat penasaran bertubi oleh sang istri.
"Giska tidak sekecil yang Kakak bayangkan, banyak hal yang tidak Kakak ketahui tentang dia ... dia jauh lebih hebat dari kelihatannya. Dan Kakak mau tahu yang lebih mengejutkan lagi apa?"
"Tapi janji setelah ini jangan melihatnya sebelah mata lagi."
"Hm, janji."
"Arsitektur yang Kakak cari sejak kemarin-kemarin adalah Giska."
Diam, Renaga mengerjap pelan dan otaknya kini berperang seraya membayangkan bagaimana nama Giska yang sangat meragukan itu disebutkan begitu jelas oleh sang istri. Tatapannya kosong, Renaga menggigit bibir kemudian menatap mata bulat Zavia.
"Kamu bercanda?"
"Apa aku sedang terlihat becanda? Tidak, 'kan?"
Renaga tidak bisa mengutarakan apa yang dia rasakan saat ini. Pria itu menatap ruangan rawat Giska yang hingga saat ini masih tertutup rapat. Tampaknya, Keny masih benar-benar marah hingga belum juga mengizinkan Renaga masuk.
"Tidak mungkin."
"Tidak mungkin bagi Kakak, tapi bagi kami yang mengikuti perkembangan Giska jelas percaya."
Malu? Entahlah, perasaan itu semacam itu mendadak hadir saja. Terlebih lagi dia yang sempat mengatakan bahwa Giska harus belajar dari seseorang yang merancang istana masa depannya. Bodohnya Renaga, sungguh dia benar-benar malu saat ini dan mendadak gusar di depan Zavia.
__ADS_1
"Tolong jangan berubah pikiran, kata Bian dia sangat bersyukur kita berdua menyukainya."
"Ya, Tuhan kenapa harus dia? Apa hatimu tidak masalah, Zavia? Ki-kita bisa meminta arsitek lain dan meminta desain yang berbeda jik_"
"Giska melakukan itu semua karena tanggung jawabnya, tidak masalah. Justru aku bahagia dengan keberhasilan Giska, jadi jangan berpikir macam-macam."
.
.
Keduanya kembali tenggelam dalam keheningan. Renaga seakan tidak mampu berucap hingga kini menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Meski tidak terucap satu kata sekalipun, Zavia yakin betul jika suaminya ini tengah menyesali kesalahan.
"Tidak apa-apa, nanti minta maaf saja ... waktu itu Kakak pasti membuatnya tersinggung," tutur Zavia dengan santainya hingga membuat Renaga semakin tertekan dengan penegasan dari Zavia.
Setelah cukup lama mereka menunggu, Keny muncul dengan wajah datar seakan hendak menguliti Renaga hidup-hidup. Itu adalah kali pertama Keny menatapnya seolah musuh bebuyutan.
"Om?"
"Masih di sini? Aku memintamu pulang, Ga."
"Izinkan Aga masuk, Om ... sebentar saja.
"Untuk apa? Kalau hanya teriak-teriak seperti tadi lebih baik jangan," tegas Keny yang memang luar biasa kesal pada Renaga yang tidak terkendali seperti tadi.
"Tidak, Om ... Aga hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya," ujar Renaga dengan suara serak akibat terlalu banyak berteriak sebelumnya.
"Hm masuklah, berani teriak habis kau malam ini," ancam Keny yang kemudian Renaga angguki cepat.
Dia menoleh menatap Zavia yang juga berdiri di sisinya. Setelah Keny berlalu, Fabian juga keluar dengan wajah yang lebih menyeramkan lagi. Entah kenapa mereka tidak ada yang bersahabat pada Renaga malam ini.
"Masuklah, Kak ... katanya mau bilang makasih, Giska dengar kok walau matanya tertutup begitu."
Zavia ingin Renaga mengucapkannya dengan tulus. Sejak dahulu, permintaan maaf ataupun terima kasih Renaga pada Giska hanya terucap dibawah tekanan Zavia. Kali ini, Zavia hanya ingin Renaga benar-benar mengucapkan terima kasih pada Giska benar-benar dari hatinya.
"Lalu kamu?" tanya Renaga bingung kenapa justru Zavia memintanya masuk sendirian.
"Aku tunggu di sini," jawab Zavia mengulas senyum tulus dan mendorong tubuh Renaga agar segera memasuki ruangan itu.
"Jangan lupa minta maaf, Ga ... kesalahanmu seluas lautan padanya," tambah Fabian yang membuat langkah Renaga terhenti seraya mengerutkan dahi. Nada bicara Fabian benar-benar berbeda, hal itu jelas mempertegas jika Renaga memang beanr-benar bersalah.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -