Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 41 - Tawaran


__ADS_3

Aku akan pikirkan lagi, Giska ... aku rasa akan lebih baik jika pernikahan itu tidak terjadi sama sekali. Setidaknya, di antara kita tidak akan terlalu sakit setelah ini.


"Bisa-bisanya dia berpikir begitu."


Renaga bergumam pelan bahkan sama sekali tidak terdengar sembari menatap Zavia melalui ekor matanya. Sore ini dia sudah diperbolehkan pulang, setelah semalam Renaga kembali menjaganya tanpa bantuan Mikhayla.


"Mama mana? Kita cuma berdua?" tanya Zavia mengerutkan dahi. Entah apa yang dipikirkan orang tuanya hingga benar-benar lepas tangan.


"Iya ... kenapa memangnya? Aku sendiri bisa kalau cuma jemput kamu," jawabnya santai seraya membantu Zavia turun dari tempat tidur.


Sebenarnya memang sudah bisa sendiri, luka yang Zavia alami kali ini memang cukup berdarah, tapi tidak ada tulang yang patah seperti yang pernah dia alami ketika SMA. Namun, tetap saja dia merasa aneh lantaran keluarganya seakan tidak peduli atas tragedi kali ini.


"Aneh saja, biasanya Papa jemput walau kerja ... apa mungkin terlalu sibuk ya?"


Sebagai putri yang tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian, jelas saja Zavia merasa aneh kala orang tuanya mendadak berubah seperti ini. Namun, di sisi lain dia juga khawatir dan merasa jika Evan tengah marah besar hingga tidak sehangat biasanya.


Renaga tidak lagi bersuara, dia mulai melaju pelan usai memastikan Zavia duduk dengan nyaman. Keduanya kembali tenggelam dalam kebisuan, tanpa pembicaraan. Sesekali Renaga melirik ke arah Zavia yang sejak tadi menatap jauh ke luar sana.


Untuk sementara dia biarkan Zavia menikmati lamunannya. Entah apa yang Zavia pikirkan yang jelas saat ini Renaga tidak ingin semakin sakit kepala. Setelah mendengar pembicaraan antara Giska dan Zavia tadi malam, Renaga berusaha untuk tutup mata dan telinga.


"Kak."


"Hm? Kenapa?"


"Aku mau bicara sesuatu," ucap Zavia membuat Renaga seketika was-was. Sejak tadi dia diam dan khawatir wanita ini bersuara, tiba-tiba dia mengutarakan kalimat pembuka yang Renaga yakini akan cukup penting.


"Bicaralah, aku dengar."


"Soal ... ehm pernikahan, aduh bukan maksudnya soal kita."


Zavia tidak ingin terlalu percaya diri karena memang belum pasti. Renaga baru mengutarakan niatnya saja, belum sampai ke tahap perencanaan tanggal pernikahan atau semacamnya.


"Kenapa? Ragu?"

__ADS_1


"Bukan itu, tadi malam Giska datang menemuiku ... melihatnya menangis aku jadi berpikir panjang, andai nanti kita bahagia di atas penderitaannya bagaimana?"


Sejak tadi Zavia memikirkan hal ini, julukan manusia labil dari Fabian tampaknya memang benar-benar terbukti karena hingga detik ini hati Zavia maju mundur dalam mengambil keputusannya.


"Lalu kamu maunya bagaimana? Mau Giska bergabung dalam rumah tangga kita? Memang siap dimadu?" tanya Renaga seraya menepikan mobilnya, ini adalah sebuah hal yang wajib dibahas hingga tuntas.


"Bukan begitu juga maksudnya."


Mata Zavia membulat sempurna mendengar pertanyaan Renaga yang sedikit membuat kaum hawa naik darah. Belum juga menikah, Renaga sudah menawarkan hal semacam itu.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, jika memang kamu khawatir Giska terluka ya sudah kita bertiga saja ... adil juga, 'kan? Lebih adil dibandingkan tidak sama sekali. Aku bisa belajar mencintai Giska, itu yang kamu mau, Zavia?"


"Kak?"


"Jawab, mau begitu?" desak Renaga mengeraskan rahangnya, jika saja bukan memandang orang tuanya sudah sejak awal Renaga membawanya secara paksa.


"Mau? Kalau mau aku akan bicara baik-baik pada orangtua kita. Bagaimana? Hm?" tanya Renaga sekali lagi dengan tatapan tajam disertai seringai yang menunjukkan sisi lain darinya.


Sesayang-sayangnya dia pada Giska, jelas tidak mau jika harus berbagi kasih di masa depan. Zavia menggeleng cepat dengan matanya yang kini mengembun, kebiasaan sekali jika sudah marah lebih menyeramkan dari Evan.


"Tidak mau," jawab Zavia meremmas jemarinya, seperti yang Zavia katakan sejak dahulu dia memang lebih takut pada Renaga dibandingkan Evan jika sudah marah.


"Tidak mau apa?"


"Tidak mau dimadu," jawab Zavia pelan hingga membuat Renaga tersenyum tipis. Sebenarnya dia tidak ingin memakai cara ini, tapi memang Zavia kerap membuat Renaga gemas sendiri.


Dia yang mendekat hingga menyisakan jarak beberapa centi benar-benar membuat jantung Zavia kembali diuji. Cepat-cepat dia mengatupkan bibirnya lantaran khawatir jika Renaga akan mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Good girl, aku tidak akan marah jika kamu penurut begini."


"Hm, awas ... dari luar kita kelihatan, Kak jangan buat malu," pinta Zavia sedikit risih dengan Renaga yang memang seakan bukan dirinya jika sedang berdua begini.


"Dia mengusirku? Dalam hitungan jam, aku bahkan berhak melakukan apapun padamu, Zavia."

__ADS_1


.


.


Setelah dibuat ketar-ketir di perjalanan, memasuki perumahan Zavia kembali dibuat bingung dengan keadaan rumahnya yang sedikit berbeda. Tidak biasanya kediaman pribadi keluarga Megantara banyak tamu begini, beberapa mobil terparkir rapi di halaman rumahnya.


Tidak hanya itu yang membuat Zavia bingung, Bastian yang menyambutnya dengan batik senada seperti Rahman yang berjaga di depan membuat Zavia celingukan. Mendadak hati Zavia tersayat lantaran keluarganya justru berpesta sementara dia tersiksa di rumah sakit.


"Bisa-bisanya mereka pesta tanpa menungguku, aku harus minta penjelasan pada Mama," gumam Zavia kemudian melangkah cepat meninggalkan Renaga yang hanya menghela napas lantaran ditinggal tanpa persetujuan.


"Kak Aga!! Cepat masuk," teriak Fabian yang tiba-tiba menghampiri Reaga dan mengambil alih tas kecil berisikan baju-baju yang dia gunakan di rumah sakit.


"Aku terlambat?"


"Sedikit, cepat mandi ... sebentar lagi magrib, Opa sudah menunggu sejak tadi."


"Kenapa cepat sekali? Bukannya selepas Isya?"


"Mana kutahu, penganggung jawabnya Om Zean bukan aku."


Keduanya melangkah dengan tergesa lewat pintu belakang menuju kamar Azkara. Dia yang sejak tadi menunggu kehadiran Renaga melemparkan handuk hingga menutupi wajah tampan Renaga yang tengah panik saat ini.


"Pakaianku sudah siap?"


"Aman, underwear hitam manis, 'kan?" tanya Fabian memastikan bagian paling penting untuk perlengkapan Renaga.


"Parfum_"


"Astaga!! Buruan, Kak ... hampir magrib ini, Opa minta kita semua ikut berjamaah dan Kakak jadi imamnya. Jadi tidak ada drama telat segala, sana!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2