
Christ tengah membara, terbakar gelora yang malam itu sempat dia rasakan kala berusaha mencium Giska walau akhirnya gagal juga. Di saat bersamaan, ada jiwa yang sama terbakarnya kala menyaksikan adegan panas dari jarak beberapa meter di sana.
"Dia punya pasangan sekarang?"
Tujuan Giska memang berhasil, Gavi dibuat tak fokus dan terus menatap ke sana. Pria itu melonggarkan dasi kala merasa dadanya sedikit sesak, ada sesuatu yang membuatnya sedikit tidak rela. Pria itu mengepalkan tangannya, rahang Gavi mengeras dan sialnya mata itu tidak dapat berhenti untuk terus menatap ke arah sana.
"Badjingan, sengaja mencari tempat sepi untuk bercumbu?"
Sepertinya hidup Christ akan selalu penuh tuduhan dan tuduhan. Setelah Giska, kini kembali Gavi yang menuduhnya menjebak Giska. Tanpa sadar, dia mulai hendak berlalu meninggalkan Alana, sang istri yang baru saja dia nikahi satu minggu lalu.
"Mau kemana?"
"Hah? Ti-tidak, Sayang aku tetap di sini."
Sejenak, Gavi mengabaikan kedua insan yang tampaknya sudah mengakhiri adegan panas itu. Menyebalkan memang, tapi kenapa pertemuan mereka harus seburuk itu setelah satu tahun perpisahan, pikirnya.
Jauh dari apa yang Gavi pikirkan, yang mereka lakukan bukan bercumbu, melainkan hanya cara Giska menyambut Gavi dalam pertemuan mereka setelah satu tahun perpisahan. Karena saat ini ada Christ yang dibuat bingung dengan sikap Giska yang kembali dingin setelah keduanya saling bertukar saliva itu.
"Maaf."
Hanya itu yang Giska ucapkan sebelum pergi meninggalkannya, Christ mengerutkan dahi dan sedikit tidak suka dengan permintaan maaf Giska. Dia merasa tengah dipermainkan wanita ini, setelah membawanya terbang beberapa saat Giska menghempaskannya hingga ke dasar jurang.
Christ marah? Iya, kecewa tentu saja. Walau sebenarnya dia juga terbiasa mencium seorang wanita tanpa perasaan dan mengakhiri semaunya. Namun, hal aneh terjadi ketika Giska seakan membalaskan dendam wanita-wanita yang pernah Christ permainkan.
"Kau mempermainkanku, Giska?" tanya Christ menarik pergelangan tangannya sedikit kasar.
Giska mendongak, mereka bahkan pulang lebih cepat lantaran Giska yang tiba-tiba pergi beberapa saat usai ciuman itu berakhir. Mata Christ bahkan panas, seumur hidup baru kali ini dia merasakan tidak berarti di mata wanita.
__ADS_1
"Maaf, a-aku tidak sengaja."
Semakin marah lagi, Christ sampai bungkam ketika melihat gurat penyesalan di wajah Giska. Kakinya bahkan lemas, tapi tetap menggenggam pergelangan tangan Giska begitu erat.
"Tidak sengaja? Hei ... tidak sengaja bagaimana? Kau menciumku dan yang kita lakukan di dalam bukan hanya kecupan."
"Iya aku tahu!! Untuk itu aku minta maaf, aku tidak sengaja ... hanya kau laki-laki yang ada di dekatku," ucapnya yang semakin membuat Christ murka bahkan ingin memilikinya secara paksa.
Sejak lama, Christ selalu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan, tubuh wanita yang dia sukai ketika memandangnya saja bisa Christ dapatkan dalam hitungan hari. Namun, hal itu tidak berlaku pada Giska karena buktinya tatapan tulus saja sulit Christ dapatkan.
Giska merutuki kesalahannya yang memang sefatal itu. Tidak seharusnya Giska menunjukkan kebahagiaannya pada Gavi dengan cara itu. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
"Christ."
Panggilan seorang wanita sejenak menjadi penengah di antara mereka. Christ menoleh, sementara Giska kini menunduk begitu menyadari siapa wanita yang datang padanya.
"Alana?"
Mereka saling mengenal, benar-benar mimpi buruk. Mana mungkin seumur hidup dia akan bergantung pada Christ demi membuat Gavi tahu dia bahagia juga? Lagi-lagi Giska mengutuk dirinya sendiri.
"Alana, kau datang? Bukankah seharusnya kalian bulan madu?" tanya Christ yang kemudian membuat Alana terbahak, tapi tidak dengan Gavi yang justru menatap sendu Giska di hadapannya.
"Demi Max, aku menundanya sebentar."
"Jadi sengaja dari Berlin demi otak udang itu?" tanya Christ yang kini sudah berubah secepat itu, Giska bingung sendiri kenapa bisa pria itu berubah semudah itu.
"Hahaha tentu saja, nanti demi kau juga aku akan melakukan hal yang sama ... jangan terlalu lama, aku akan ikut suamiku beberapa bulan lagi."
__ADS_1
"Secepatnya, tunggu dia siap saja," jawab Christ yang kemudian merangkul pundak Giska, tanpa Christ maupun Alana sadari jika hal itu berhasil membuat Gavi mengepalkan tangannya.
"Wow ... akhirnya, setelah sekian lama ternyata putra tuan Wilbert waras juga. Jangan gila setelah nanti menikah, aku lihat-lihat dia gadis yang manis jangan sampai kau sakiti, Christ."
"Tentu, tanpa kau perintahkan aku juga akan begitu, Na."
"Hm, dia berbeda dari wanitamu sebelumnya ... jika sampai menyakitinya, kau akan menjadi pria paling keji di dunia, Christ. Benar, 'kan, Sayang?"
Gavi pastikan Alana tidak mengenal Giska sama sekali. Wanita itu tidak tahu perihal hubungannya dengan Giska walau cukup lama. Ucapan Alana berhasil membuat Gavi terhenyak seketika. Andai Alana tahu, dia adalah pria paling keji dalam hidup Giska.
"Hm benar," jawab Gavi bergetar dan mencuri pandang tatapan datar Giska pada keduanya.
Tatapan yang dahulu selalu manja dan lembut, kini tidak ada lagi. Dia bukan Giska yang kerap minta ditemani menyusuri jalanan kota seraya memeluknya dari belakang. Bukan juga Giska yang banyak bicara dan cerewet jika dia terlambat makan malam, bukan. Gavi kehilangan, tepatnya tanpa sadar membuang sosok itu. Sosok kekanak-kanakan yang ternyata tidak dia temui dalam diri Alana yang terlalu dewasa dalam menjalin hubungan.
"Akulah laki-laki keji itu, Al."
"Tunggu, aku belum mengenalnya ... siapa namamu?" tanya Alana mengulas senyum hangatnya pada Giska.
"Gis_" Ucapan Giska bahkan terhenti kala Christ justru mengenalkannya lebih dulu pada Alana.
"Giska Anamary ... namanya memang cantik, jangan dipuji karena calon istriku ini pantang dipuj_ aaawwh."
Belum selesai kalimat Christ, pria itu dibuat meringis kala Giska menginjak kakinya kuat-kuat. Selain suka mencium tiba-tiba, tampaknya Giska memang kebiasaan menyakiti fisiknya.
"Kau? Awas saja ... aku akan membalasmu Giska!!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -