
Bak merayakan pesta sungguhan, Giska terlambat keesokan harinya. Dia kembali melewatkan sarapan pagi ini, tidak hanya itu Giska bahkan melewati Keny yang kini sedang duduk manis dengan kopi hangatnya hingga membuat pria itu melontarkan kata-kata mutiara lantaran Giska menginjak kakinya.
"I,m sorry Papa!!"
"Sorry-sorry ... kamu belum pernah Papa lempar sepatu, Giska?"
"Maafin, Pa!! Salah sendiri duduk di situ." Teriakan Giska bahkan mulai terdengar samar kala dia menghilang di balik pintu utama.
Keny meringis sembari meratapi nasib jempol kakinya yang mungkin remuk akibat sepatu keras Giska. Kopi yang dia nikmati bahkan sedikit tumpah, sudah jelas dia harus mengganti pakaian setelah ini.
"Anak itu harusnya memang tidak kuberi nama Giska."
Seketika Keny menyesal lantaran menyematkan nama mantan kekasihnya untuk sang putri. Kini, dia terpaksa menikmati bagaimana menyebalkannya seorang Giska dewasa yang memang tidak berbeda jauh dari mantan kekasihnya.
"Iya, salah sendiri malah dikasih nama mantan," sahut Sonya yang melewati Keny dengan memberikan tatapan permusuhan dan seketika membuat Keny ciut.
"Bu-bukan nama mantan, Sayang ... Giska itu hewan peliharaanku dulu, jadi kuberi nama putri kita Giska untuk mengenang jasanya sebagai penghiburku semasa hidup."
Entah dari siapa Sonya mengetahui jika nama Giska adalah wanita di masa lalu Keny. Itu adalah hal yang juga Keny khawatirkan hingga saat ini. Kemungkinan besar yang memberitahukan hal itu adalah kedua sahabatnya, tapi siapa? Sungguh, Keny dibuat resah tiba-tiba.
"Anggap saja aku percaya, sudah sana kerja."
"Kejam sekali, bajuku kotor ... tolong cari gantinya, Onya."
"Cih, dia pikir aku akan luluh dipanggil begitu?"
__ADS_1
Sejak menikah Keny sama sekali tidak berubah. Sekalipun Giska sudah dewasa dia masih sama. Masih Keny yang selalu berbicara selembut itu padanya, jelas saja Sonya luluh kala pria itu mengecup bibirnya beberapa kali.
"Ini gelasnya, aku tunggu di kamar ... aku takut nanti lemarinya berantakan kalau ambil sendiri."
Hati Sonya yang tadinya menghangat mendadak dongkol kala Keny menyerahkan gelas kopi yang tinggal sedikit itu. Sejenak dia terpaku dan melongo menatap punggung Keny yang kian menjauh.
"Semoga Giska tidak mendapatkan penamping seperti makhluk itu!!"
Sonya menghentakkan kaki dan kembali ke dapur demi mengikuti perintah suaminya. Meski dia sangat mencintai Keny setelah menikah, tapi sejak dahulu Sonya selalu berharap Giska mendapatkan yang lebih baik dari Keny. Itulah kenapa Sonya benar-benar mengharapkan Renaga sebagai pendamping Giska dahulu, tapi memang tidak semua yang Sonya inginkan bisa terwujud dengan nyata.
Saat ini Sonya berada di titik pasrah, terutama setelah mengetahui Gavi tidak lagi ada untuk putrinya. Sonya juga tidak mengambil jalan untuk menjodohkan putrinya dengan siapapun, biarlah Giska ditemukan pria yang tepat untuknya nanti.
Tanpa Sonya sadari, saat ini mungkin harapannya sebagai ibu perlahan akan terkabul. Bersamaan dengan dirinya yang sakit kepala karena Keny, di luar sana putrinya juga tengah dibuat sakit kepala oleh seorang laki-laki.
"Ketiduran," jawab Giska kini bersedekap dada dan menghela napas panjang.
Pagi ini dia sedikit terburu-buru, tapi Christ justru sudah berada di depan rumahnya. Apa mungkin sekhawatir itu uangnya tidak dibayar? Giska sedikit kesal hari ini.
"Tidur? Tapi pesanku kau baca, tidur apanya?"
Christ masih berdiri dengan jarak yang tidak lebih dari satu meter di hadapannya. Pria itu ingin marah, dia kembali diabaikan, tapi bingung juga alasan untuknya marah kali ini apa.
"Kau datang hanya untuk menanyakan itu? Ayolah ... sudah kukatakan bulan depan, kenapa datang hari ini?" tanya Giska sedikit melemah, jujur untuk bertengkar dia merasa sedikit lemah.
"Kau benar-benar berpikir aku serendah itu? Andai aku memang pria bayaran sungguhan, kau jual rumah ini juga tidak akan sanggup membeliku untuk satu malam, Giska!!"
__ADS_1
"Hm tidak, aku datang untuk mengantarmu kerja hari ini ... bukankah kau kehabisan uang? Gajimu juga masih bulan depan, 'kan?"
Lain di mulut lain di hati, meski saat ini Christ mengumpat, pria itu tidak mengutarakannya secara terang-terangan. Biarlah Giska tenggelam dalam prasangkanya, karena memang itu adalah cara Christ bisa terus mendekatinya.
"Apa wajah miskinku kentara?"
"Jangan buang-buang waktu, Giska ... aku harus tidur hari ini, nanti malam kerja lagi."
Giska mengerjap pelan, Christ kembali mengutarakan hal yang membuat asumsinya semakin kuat saja. Khawatir jika dirinya terlambat, Giska memilih mengikuti Christ setelah pria itu menarik paksa pergelangan tangannya.
"Duh Giska, kenapa gampangan begini!!"
Baru sadar, Giska sampai lupa diri dan menurut begitu saja kala Christ menariknya. Belum selesai keterkejutannya, Giska kembali bungkam kala melihat mobil yang Christ gunakan hari ini. Usai makan siang kemarin Giska sudah merasakan diantar Christ ke kantornya dengan mobil yang berbeda, jadi wajar saja jika dia terkejut pagi ini.
"Masuklah."
Pintu sudah Christ bukakan, tapi Giska masih melongo dan tengah menghitung penghasilan Christ permalamnya. Senyum tipis pria itu sejenak mengalihkan dunia Giska hingga membatin seketika "Mungkin karena cakep ya jadi mahal."
"Jangan menatapku terlalu lama, nanti cinta."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1