Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 45 - Mengulang


__ADS_3

Puncak, Giska tersenyum getir mengingat kebohongannya pada Keny. Dia bahkan meminjam ponsel kasir minimarket tempatnya berdiam diri sejak tadi siang demi menghubungi Keny. Hanya memastikan, dia tidak ingin dianggap beban. Khawatir juga jika Renaga kena getahnya untuk kali ini.


Dia bahkan sudah menghabiskan satu lusin susu kesukaannya. Ya, Giska baru sadar jika sudah menghabiskan sebanyak itu hingga malam ini. Nelangsa, Giska hancur perkara pria. Miris memang, tapi mau bagaimana dia tidak memiliki kekuatan semudah itu untuk melupakan seperti keinginannya.


Terlebih lagi, ketika dia mendengar pembicaraan Justin ketika dia menghubungi Keny. Malam ini, Renaga menemukan surganya. Impian Zavia terlaksana, sementara cita-citanya pupus diambang batas.


Malam kian larut, tapi jalanan masih cukup ramai. Remaja yang dia perkirakan masih SMA melintas di jalan raya dengan motor kesayangan mereka. Senyumnya mengembang seketika kala salah satu di antara mereka menunduk seakan memberikan salam pada Giska.


"Mirip, hanya saja dia dulu tidak sekurus itu."


Dia bergumam pelan dan baru sadar jika mereka sudah berlalu dari hadapan Giska. Cukup mudah membuatnya mengingat sosok itu, malam ini Giska ingin kembali ke masa remaja walau hanya satu jam saja.


Masa dimana renaga belum menjadi milik Zavia, walau memang bukan miliknya juga. Tapi setidaknya, kala itu dia bisa memeluk Renaga dengan jemari mungilnya.


"Dasar pembohong ... katamu pulang, kenapa justru tetap di sini?"


Giska mengalihkan pandangan kala mendengar suara pria yang cukup familiar di telinganya. Pria yang saat ini menerima Giska layaknya wanita terlantar, dia lah Gavi.


"Uangku habis, tidak punya uang buat pulang."


Dia tengah menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Uang yang Gavi berikan justru dia gunakan untuk memperbaiki suasana hatinya sengan susu kesukaannya.


"Salahmu kenapa pulang, sudah kukatakan tunggu sampai besok," ucap Gavi menghela napas panjang.


Keputusan Giska yang mendadak ingin pulang tadi siang membuat Gavi tidak bisa melarangnya. Meski sudah dia katakan tunggu tas yang kemarin masih tertinggal di rumah sakit, Giska tetap pada pendiriannya.


Namun, di luar dugaan gavi wanita ini justru lebih bahagia menyendiri di sebuah minimarekt semacam ini. Menatap susu yang kini sudah kosong, hati Gavi terhenyak.

__ADS_1


"Kau yang menghabiskan itu semua?" tanya Gavi sedikit tidak percaya, sebanyak itu harusnya dihabiskan oleh tujuh atau delapan kepala, entah kenapa Giska justru sendirian.


"Iya," jawabnya polos kemudian tanpa sengaja bersendawa kecil hingga membuat Gavi tertawa sumbang.


"Tidak perlu dibuktikan juga, mulutmu bau, Giska."


"Tidak sengaja, aku kekenyangan mungkin," ucapnya mencebik lantaran ucapan Gavi sedikit menyinggung walau mungkin saja hanya candaan belaka.


"Dari kapan? Susu sebanyak itu, apa tidak mual perutmu?" Gavi yang membayangkan lambungnya saja mendadak mual seketika.


"Belum sih, Dok ... soalnya itu aku minum dari siang, bukan sekali minum."


Ada saja jawabannya, beban pikiran Gavi tampaknya akan bertambah sebentar lagi. Dia ingin marah, tapi mana mungkin Gavi tega menghantam wanita dengan mental yang kini tengah hancur tak berbentuk ini.


"Ayo naik."


"Seingatmu, kau melamun sejak tadi."


Gavi kembali menggeleng pelan setiap menatap wajah bingung Giska setiap mendengar ucapannya. Pria itu memberikan helm yang kemudian disambut baik oleh Giska. Maniknya berbinar seakan tidak pernah, padahal sudah biasa.


"Kita mau kemana, Dok?" tanya Giska benar-benar merasa tengah mendapatkan jackpot tak terduga malam ini.


"Terserah, aku masih punya waktu satu jam di luar," ucap gavi sembari menatap pergelangan tangan kirinya.


"Dokter mau ajak aku jalan-jalan?" Penuh harap Gavi akan menjawab iya, sungguh kepala Giska seakan ingin pecah saat ini.


"Hm, anggap saja begitu ... mau?" tawar Gavi yang kemudian mendapat respon lebih baik dari segalanya.

__ADS_1


"Mau, kenapa tidak dari semalam."


Lagi dan lagi ucapan Giska membuat Gavi menggeleng pelan. Entah apa yang Gavi pikirkan sampai mencari Giska dengan motor yang sudah lama tidak dia gunakan ini. Yang jelas, dia ingin wanita itu tidak merasa sendirian.


"Sudah?"


"Iya sudah, Dok," jawab Giska yang kemudian melipat tangannya di depan dada.


"Pegangan, aku tidak tanggung jawab sampai kau jatuh nanti."


Menyeramkan sekali, Giska perlahan menjadikan pundak Gavi sebagai tumpuannya. Sedikit menyiksa sebenarnya motor begini, dia bahkan merasa sebagai penguasa jalanan di belakang Gavi.


Gavi melaju memecah jalanan ibu kota. Pemandangan malam memang tidak pernah salah, Mata Gavi sesekali menatap pantulan wajah Giska yang terlihat masih sama datarnya.


"Dasar gila," umpat Gavi kala menyadari perubahan wajah Giska yang secepat itu berubah, dia tersenyum bahkan menggeleng seakan tengah menemukan hal yang lucu.


Padahal, yang terjadi sesungguhnya berbeda. Jauh dari perkiraan Gavi, saat ini Giska tengah tenggelam dalam lamunannya tujuh tahun lalu.


Tiga hari sebelum Renaga berangkat ke luar negeri, Giska meminta hadiah perpisahan dan Renaga menyanggupinya. Keduanya menyusuri jalanan ibu kota di malam hari, tanpa Renaga yang marah-marah karena dia peluk tentu saja.


"Eits Kakak sudah janji tidak akan marah ya," ucapnya enggan melonggarkan pelukannya walau sedetik saja, sungguh dia benar-benar seakan tidak rela.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2