
Mungkin bagi Christ malam ini adalah sebuah keberuntungan, tapi bagi Giska malam ini tidak lebih dari bencana. Tubuhnya meringkuk dalam selimut lantaran menahan dingin yang menusuk kulit. Padahal, selimut ini sudah cukup tebal untuk membuatnya hangat.
Penghangat ruangan di sini mungkin bermasalah, ditambah lagi dirinya yang mandi hampir satu jam lantaran merasa kotor beberapa waktu membuatnya semakin tersiksa. Dalam keadaan begini, Giska merindukan kehangatan masakan sang mama.
Dia lapar, sungguh. Saat ini Giska benar-benar butuh sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya. Sesaat dia menoleh ke pintu kamar yang sempat dia halangi dengan meja agar Christ tidak bisa menyelinap masuk sesukanya.
"Dasar jahat, jadi begitu caranya menjamu tamu?"
Kesal sekali rasanya, Giska menekan perut demi menahan rasa lapar. Entah sampai kapan dia mampu menahan, perutnya tidak terbiasa dibiarkan dalam keadaan kosong begini.
"Tapi kalau keluar nanti ketemu si cabbul itu," gumam Giska mencoba memejamkan matanya.
Namun, tampaknya perut dan tubuh Giska berontak untuk bertahan lebih lama hingga memilih menepis ketakutan itu segera. Berjuang antara hidup dan mati, Giska mengendap-ngendap keluar kamar dan menyusuri apartemen Christ yang kini tampak remang.
"Memang dasar pelit sepertinya, semua lampu dia matikan begini."
Giska mencoba mengalihkan perhatian agar tidak terlalu gugup, meski jujur saja saat ini pikiran buruk tentang Christ yang akan menculiknya ke dalam kamar masih tetap ada. Bermodalkan kemampuan mengendap-ngendap yang dia latih sejak remaja, Giska berhasil tiba di dapur dengan selamat meski lututnya terasa lemas.
Dia yang berpikir jika keadaan aman-aman saja, perlahan beraksi demi memastikan apa ada yang bisa dia nikmati malam ini. Matanya sejenak berbinar kala melihat susu dan roti yang tertata di sana, ada beberapa telur dan bahan lainnya yang menjadi penyelamat untuk Giska malam ini.
Awalnya semua aman-aman saja, hingga tiba saat tangan mendarat halus di pundaknya Giska menjerit sejadi-jadinya. Semua yang ada di tangannya bahkan jatuh ke lantai, susu, roti dan juga telur yang berceceran di lantai.
__ADS_1
"Kau lapar?"
Sesantai itu dia bertanya usai menghidupkan lampu, Giska yang kini pucat pasi membuat Christ terkekeh pelan. Sejak tadi dia ikuti, niat hati Christ sama sekali bukan untuk membuatnya terkejut, tapi hanya ingin menawarkan bantuan semata.
"Duduklah," titah Christ yang kemudian membuat Giska bingung sesaat.
Tanpa menunggu lama dia bahkan segera membersihkan lantai lebih dulu. Meminta Giska untuk menunggu sementara dia menyiapkan makanan. Bibir Giska menunjukkan jika memang dia kedinginan, Christ baru menyadari jika dia lupa menjamu Giska dengan makanan malam ini.
Giska sama sekali tidak banyak bicara, dia memang sedang membutuhkan makanan dan ingin menghangatkan tubuhnya. Meski memilih diam, dia tidak melepaskan Christ dari pandangannya.
Seperti yang sejak awal Giska katakan, Christ memang baik. Namun, dia yang kerap tidak tertebak begitu membuat Giska takut. Ditambah lagi, kenangan pahit tentang baiknya seorang pria membuat Giska trauma dan membenci manisnya pria di awal pertemuan.
"Makanlah, sepertinya kau kedinginan ... benar begitu, Giska?" tanya Christ kemudian duduk di sisinya.
Tanpa Giska sadari saat ini Christ tengah menarik sudut bibir usai memandangi caranya makan. Pria itu bahkan bertopang dagu demi memastikan Giska benar-benar tidak lepas dari pandangannya.
Hingga dia selesai hanya itu yang Christ lakukan, benar-benar sekadar memandangi Giska makan tanpa niat untuk mengusiknya. Pria itu terkekeh kemudian kala Giska tidak sengaja bersendawa tepat di hadapannya.
"Kenapa tidak memanggilku kalau lapar?" tanya Christ setelah beberapa lama mereka tidak saling bicara.
"Aku tidak ingin mengganggumu," jawab Giska yang jelas-jelas berbohong, kedatangan Christ adalah yang sangat dia takuti, mana mungkin dia sampai sengaja mengetuk pintu kamar pria itu dan mengadu jika tengah lapar, pikirnya.
__ADS_1
"Penghangat di ruangan itu memang rusak sebenarnya," ucap Christ santai yang membuat Giska melayangkan tatapan permusuhan padanya.
"Rusak? Lalu kenapa kau biarkan aku tidur di sana?"
Memang benar-benar jahat, Giska tidak habis pikir dengan pria ini. Senyum tipis Christ seketika membuat Giska ingin mendaratkan pukulan di wajahnya, seakan sudah menduga hal semacam ini akan terjadi.
"Kau sudah kuberi pilihan, dan kau sendiri yang memilih kamar tamu ya sudah salahku dimana?"
Benar, memang benar Giska yang memilih. Akan tetapi, alangkah tidak beretikanya manusia ini membiarkan dirinya terperangkap di dalam ruangan itu, pikir Giska lagi-lagi ingin menangis.
Giska tidak ingin berdebat, dia memilih mengabaikan masalah itu. Hanya sampai besok pagi, beberapa jam lagi dan jelas saja dia mampu lewati nanti. Tidak ingin berlama-lama, Giska hendak beranjak ke kamar.
"Ke kamarku saja, kau bisa mati kedinginan, Giska." Giska terenyuh mendengar ucapan Christ, seketika pikiran tentang otak cabbul pria itu terhenti sejenak.
"Lalu kau bagaimana?"
"Aku? Aku tidak masalah, Giska."
"Ya Tuhan, dia bisa waras juga ternyata."
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -