Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 60 - Bertemu


__ADS_3

Dua atau tiga hari lagi.


Sejak kemarin-kemarin, Zavia masih terus menantikan hari yang Fabian maksudkan. Sabar sekali dia menunggu, setelah mendengar Giska sibuk luar biasa, Zavia hanya bisa menyesuaikan jadwal Giska.


Hari ini, Fabian mengabarinya tepat jam sepuluh pagi. Zavia bergegas meninggalkan rumah sakit dan menuju lokasi yang Fabian tentukan. Karena memang mereka terdesak jelas saja Renaga tidak ikut serta.


"Telat tidak ya?"


Faktanya benar, ketika cinta sudah merasuk dalam lingkup persahabatan, akhirnya akan sama. Besar atau kecil imbasnya jelas akan terasa, dan ini adalah kenyataan dalam asmara.


Masih sama seperti kemarin, cuaca tampaknya sedikit tidak bersahabat. Zavia bahkan berlari kecil ketika memasuki sebuah cafe yang biasa menjadi tempat mereka bertiga mengeluh dan saling bertukar beban hidup sewaktu kuliah.


Hanya demi menemui seorang Giska, jantung Zavia bahkan lebih gugup dibandingkan ketika bertemu dengan Renaga. Dia merindukan sosok Giska, sekeras apapun dia menampik tetap saja terasa jika Giska sedikit menjauh.


Memang alasannya karena kesibukan, akan tetapi Zavia tetap tidak mengerti kenapa Giska sampai sesibuk itu. Apa mungkin tanggung jawabnya memaksa Giska benar-benar bekerja dengan keras? Entahlah, hingga saat ini Zavia masih benar-benar tenggelam dalam lamunannya.


Mata Zavia mengelilingi tempat itu, tidak ada sosok Giska maupun Fabian yang menunggunya. Yah, seperti biasa kedua orang itu memang terbiasa datang paling akhir sekalipun mereka yang membuat janji.


Bukan masalah walau dia harus menunggu berjam-jam, Zavia hanya ingin mereka bisa bertemu hari ini. Wanita itu memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan, hal semacam itu adalah kebiasaan mereka bertiga karena tidak suka menjadi pusat perhatian.


Selang beberapa lama, mata Giska tertuju pada dua orang yang sejak tadi dia nanti. Layaknya seseorang yang sudah lama tidak bertemu, Zavia memekik hingga suaranya terdengar jelas di area parkir. Padahal, saat itu hujan mulai mengguyur ibu kota dan jelas saja tingkahnya membuat Fabian pura-pura tidak mengenalnya.


Ditambah lagi, Giska juga tidak ada bedanya dan melambaikan tangan layaknya supporter sepak bola. Teriakan Giska yang mengalahkan deraian air hujan membuat Fabian menoyor kepalanya agar sedikit lebih sadar.


"Apasih?"


"Jas hujanmu buka!!"


"Sabar dong, lagi pula kenapa tidak bawa mobil sih? Kan lebih aman," omel Giska benar-benar tidak habis pikir kenapa Fabian begitu betah dengan motornya.


"Males, macet soalnya."


Dia masih menunggu Giska melepas jas hujannya, hingga pria itu ditinggal begitu saja tanpa ucapan terima kasih. Kedua sahabatnya ini tampak sama, sama-sama tidak tahu diri. Sungguh, Fabian kini mengumpatnya dalam hati.


Fabian menghampiri keduanya yang kini tengah berpelukan cukup lama. Terharu? Sedikit, tapi lebih banyak jijiknya lantaran kedua wanita ini sudah persis pasangan dengan orientasi sek* yang menyimpang.


"Giska, I miss you so much ... kemana saja? Kamu kenapa ngilang gitu aja?"


"Aduh, Sayangku jangan menangis ... kakakmu ini cuma sibuk sedikit, maaf ya jika membuatmu khawatir."


Zavia mencebik dengan mata yang kini mengembun. Beberapa kali dia sempat meminta Renaga mendatangi kediaman Keny, tapi karena jam pulang Giska bahkan terkadang hampir pagi membuat Zavia berpikir jika Giska memang benar-benar tidak bisa diganggu, tepatnya tidak ingin.


"Sibuk apa? Kerja dimana sampai sesibuk itu?"

__ADS_1


"Kerja dong, kamu tahu, 'kan cita-citaku dari dulu apa?" Giska tertawa sumbang seakan tengah menunjukkan keberhasilannya di hadapan Zavia.


"Jangan terlalu keras kerjanya, demi siapa kamu begitu?" tanya Zavia seraya menyeka air mata di pelupuk matanya.


"Demi apa ya? Demi aku sendiri yang pasti, kamu sendiri yang bilang yang namanya kerjaan itu harus dijalani dengan sepenuh hati, jadi begitu deh."


"Kalian berdua akan terus di sana? Jangan menghalangi jalan, pamali." Fabian berkacak pinggang seraya menatap kedua orang ini.


"Pamali?"


"Iya, kata mbok Sartinem wanita hamil jangan berdiri atau duduk dipintu. Mau sebesar apapun pintunya nanti lahirnya susah," ucap Fabian asal bicara dan hal itu sukses membuat Zavia mendelik tak suka.


"Yang hamil siapa ngaco?"


"Lah ini," ujar Fabian tanpa malu menyentuh perut Zavia dan berakhir dengan pukulan tidak sengaja dari Giska.


"Kaget, Fabian apa-apaan?!!" teriak Giska masih mengelus dada lantaran terkejut dengan perbuatan lancang dari Fabian.


"Sakit gila."


"Ya kamu main pegang, keterlaluan."


Zavia juga terkejut sebenarnya, dia juga sempat berpikir akan melakukan hal yang sama, tapi Giska lebih dulu melakukannya.


.


.


Namun, apa hendak dikata jika masalahnya tidak sesederhana itu. Giska memilih menjauh karena tidak memiliki keberanian untuk medatangi kediaman Zavia lantaran khawatir Renaga masih marah padanya.


Tidak ada bedanya dengan Giska, Zavia juga sama. Khawatir jika Giska sebenarnya marah besar dan sengaja menghindarinya membuat Zavia tidak bisa memaksakan diri menunggunya setiap malam.


Hingga, ditengah hangatnya perbincangan mereka, ponsel Zavia berdering dan bisa dipastikan siapa yang kini menghubunginya. Fabian Melirik Zavia melalui ekor matanya, terlihat jelas keraguan wanita itu untuk menerima panggilannya.


"Angkat saja."


"Sebentar, maaf ya."


Zavia menerima panggiln video dari sang suami yang tampaknya memang duduk-duduk saja, seperti kata Mikhail.


"Sayang, desain rumah kita sudah selesai ... aku sudah kirim, kamu pasti suka," tutur Renaga dari seberang sana dan jelas saja terdengar oleh kedua sahabatnya yang lain.


"Oh iya? Coba kulihat."

__ADS_1


Pembicraan keduanya sejenak membuat Giska dan Fabian terdiam. Mereka tengah menyaksikan bagaimana pengantin baru yang baru saja memulai hidup bersama pasangannya.


"Bagaimana? Bagus, 'kan?"


"Iya, aku suka."


Kekhawatiran Giska akhirnya terjawab sudah. Setelah sempat khawatir Renaga akan membuang hasil jerih payahnya mentah-mentah, kini dia bisa merasakan sedikit lebih tenang.


"Kalau ada waktu aku ingin bertemu dengannya, Giska harus belajar dari dia."


Wajah Giska yang tadinya sudah tersenyum mendadak datar begitu mendengar ucapan Renaga. Lemon tea yang kini membasahi lidahnya mendadak berubah pahit. Di antara hal baik tentangnya, Renaga hanya mengetahui kekurangannya saja.


"Oh iya, kamu sudah bersama mereka?"


"Iya, su-sudah."


Zavia mendadak tidak enak hati akibat ucapan asal ceplos Renaga yang secara sengaja menyebut nama Giska seakan wanita itu benar-benar tidak bisa.


"Giska mana? Aku ingin bicara."


Seharusnya Giska senang, tapi hatinya tengah tertutup kekesalan usai mendengar ucapan Renaga tadi.


"Giska, masih hidup? Ya ampun ... kamu kenapa sekurus ini?"


"Jika hanya ingin menghinaku, lebih baik Kakak diam saja," ucap Giska untuk pertama kalinya terkesan berbeda bahkan Fabian saja menatap bingung ke arahnya.


"Menghina bagaimana? Aku hanya bertanya, kamu baik-baik saja, 'kan?"


Renaga sama sekali tidak menghina, tapi hatinya saja yang sedang sensitif hingga merasa tersinggung melihat reaksi Renaga barusan. Terlebih lagi, sebelum mereka berpisah cukup lama ini, Renaga masih dalam keadaan marah besar padanya.


"Baik, aku tidak sedang sakit atau apapun," jelas Giska sebelum Renaga bertanya lebih dalam padanya.


"Perhatikan makanmu, aku dengar dari papamu kamu bekerja terlalu keras ... biasa saja, tidak lucu jika sampai tidak sadar di meja kerja, Giska."


Tidak sia-sia Fabian merencanakan pertemuan ini. Tanpa dia duga, bukan hanya Zavia dan Giska yang kembali seperti dahulu, tapi Renaga juga. Yah walau pertanyaan asal Renaga cukup untuk membuat Giska tidak bernaffsu makan hingga esok hari.


.


.


- To Be Continue -


Eits, stop dulu😖 Vote dulu, Best agak capek up begini 🤣

__ADS_1


__ADS_2