
"KAMU KERJA, GISKA!!" teriak Fabian sembari menahan tengkuk leher Giska hingga wanita itu merasakan bagaimana penyiksaan yang sungguh luar biasa.
"Fabian tidak ada otak!! Telingaku sakit badjingan!!"
"Makanya jangan tuli, ditanya apa jawabnya apa," ucap Fabian tanpa dosa, seakan sama sekali tidak ada masalah setelah membuat gendang telinga Giska bergetar.
"Ditanya ulang kan bisa, tidak perlu TERIAK!!" pekik Giska di akhir hingga keduanya sama-sama tersiksa.
"Iyaiyaiya ... kamu kerja?" tanya Fabian tetap mengulangi pertanyaannya meski sebelum ini sudah sempat membuat Giska stres.
"IYA!! AKU KERJA!! HARI INI HARI PERTAMA!! PUAS?!!"
"GISKA!!!" teriakan yang tak kalah menggema terdengar dari lantai dua, sepertinya sang mama merasa terganggu dengan teriakan Fabian dan Giska yang hampir sebesar sangkakala.
"Hahahaha rasakan, kualat, 'kan?" Fabian terbahak mendengar teriakan Sonya yang tidak mau kalah malam ini.
"Ck, kamu yang mulai, Bi ... coba kalau dari tadi bicaranya baik-baik, pasti tidak akan begini," ketus Giska yang kini beralih pada sate padang di depannya.
"Suara tante Sonya melengking juga, ubun-ubunku sampai panas."
"Mama lagi sakit gigi," ucap Giska yang kemudian membuat Fabian mengatupkan bibirnya. Demi Tuhan dia tengah menyesali perbuatannya yang berteriak tanpa berpikir panjang seperti tadi.
"What? Sakit gigi? Kenapa tidak bilang?"
"Mana aku tahu kalau kamu bakal teriak-teriak seperti tadi."
Tidak ingin masalah mereka kian panjang, Giska memilih untuk mengisi perutnya saja. Oleh-oleh Fabian malam ini cukup membuatnya bahagia walau sudah biasa, tapi permintaan maaf Fabian membuat Giska merasa dirinya sedikit berharga dan tidak melulu bersalah.
"Kamu kabur kemana sebenarnya, Gis? Aku cari kamu sampai ke kolong jembatan itu loh, tapi ternyata tidak ada."
__ADS_1
"Sembarangan, dipikir aku apa sampai dicari di sana?"
"Siapa tahu saja, dugaanku begitu dulu ... tapi sepertinya tidak, syukurlah jika begitu."
Giska mengangguk pelan, selam aini dia memang baik-baik saja. Bahkan Gavi sangat memperlakukannya dengan baik. Tapi, untuk bercerita terlalu detail Giska belum mau, tepatnya belum waktunya.
"Aku tinggal di apartemen dokter Gavi, Bi."
"Hm? Dokter yang kemarin ikutan ke rumahmu?"
"Iya, dia yang menyelamatkanku malam itu ... kalau tidak ada dia, mungkin kamu tidak akan pernah bertemu denganku lagi, Bi," tutur Giska menatapnya sembari terus mengunyah lontong yang begitu nikmat di mulutnya.
"Wah, sepertinya aku harus berterima kasih pada dokter Gavi ... karena berkat beliau, sahabatku ini pulang dalam keadaan utuh."
Giska hanya tersenyum tipis, entah hendak bagaimana dia menjawab candaan Fabian kali ini. Akan tetapi kalimat Fabian membuatnya ingin menangis, padahal hanya candaan.
"Oh iya, pernikahan Zavia kemarin gimana?"
"Belum, aku juga tidak tanya."
Keny sama sekali tidak membahas Zavia, begitun Giska. Malam ini justru dia memberanikan diri untuk bertanya ada Fabian walau sebenarnya ini sama halnya dengan cari penyakit.
"Aku tidak simpan fotonya, lain kali aku kaish lihat ya, Gis," tutur Fabian yang sebenarnya tengah berbohong, dia tengah berusaha menjaga hati Giska, itu saja.
"Hm boleh deh."
"Oh iya, bahas mereka aku jadi ingat kerjaanku."
"Kenapa memangnya?" tanya Fabian menatap Giska serius.
__ADS_1
"Client kami meminta banyak hal untuk rancangan rumahnya, sepertinya mereka pengantin baru dan suaminya cinta banget sama istrinya," jelas Giska kembali mengingat beberapa poin yang dia diminta.
"Tahu dari mana? Dia minta patung istrinya sekalian atau bagaimana?"
"Bukan begitu, tapi beberapa hal yang dia minta itu selalu dengan alasan istrinya, misal minta ada lift supaya nanti istrinya hamil tidak sulit gitu-gitu."
"Ah itu mungkin karena lagi baru-barunya, pengantin baru memang begitu, Gis ... sepuluh tahun menikah belum tentu, kamu tahu gimana Papa sama Mamaku, 'kan?"
"He'em tahu, suka teriak-teriak seperti kita barusan, 'kan?" tanya Giska sembari mengingat bagaimana tekanan batin jika mereka kebetulan di rumah Fabian dan kedua orang tuanya sedang kumat.
"Hm .... Padahal tante Agatha bilang pas muda papaku bodoh banget sampai hampir gila karena Mama dan juga sebaliknya. Eh sekarang lihat saja, Mama jadi galak Papa juga. Perkara handuk taro di tempat tidur saja bisa ngomel seharian, pokoknya begitu ... pernikahan tidak seindah awalnya menurutku, kecuali jika memang dalam darah mereka mengalir darah dewa amor mungkin iya."
"Tapi om Evan sama tante Khay akur sampai sekarang, hayo?"
"Itu salah-satunya, tapi belum tentu juga ... intinya rumah tangga itu tidak ada yang benar-benar sempurna, pasti ada kurangnya walau seujung kuku."
"Hm, aku tahu itu, tapi semoga mereka berdua tetap hangat sampai akhir."
"Mereka? Mereka siapa?"
"Renaga dan Zavia."
"Iya, semoga ... sampai Renaga dingin sedikit saja, aku yang ambil alih menghangatkan Zavia!!" teriak Fabian lagi seakan lupa jika beberapa saat lalu sudah mendapat serangan dari penghuni lantai atas.
"Dasar sarap, niatmu baik sekali, Fabian."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -