Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 53 - Beruntungnya Dia


__ADS_3

"Hadiah terbaik adalah apa yang kita miliki dan takdir terbaik adalah apa yang sedang kita jalani."


Sudah sekian kali dia mengulangi kata-kata itu. Kata mutiara? Entahlah, yang jelas kalimat itu dia dengar dari seseorang yang sejenak menjadi pahlawan dalam hidupnya. Atas bantuan Gavi juga Giska dapat masuk perusahaan Dito yang tidak lain adalah paman Gavi sendiri.


Meski Dito sempat ragu lantaran Giska masih benar-benar baru, tapi atas permintaan pria itu Giska diterima walau memang belum pantas. Dia belum menjadi seorang arsitektur sesungguhnya, berkat Gavi dan juga kemampuan yang dia perlihatkan, Dito memilih berbaik hati.


Setelah merasa cukup menenangkan diri dengan caranya, Giska kembali ke rumah dan jelas membuat Keny dan Sonya seakan benar-benar hidup. Kepergiannya berhari-hari sungguh mengacaukan hati kedua orang tuanya, tapi memang kemarin tidak ada kemarahan sama sekali yang lolos dari bibir Sonya.


Giska kembali sebagai wanita biasa, seseorang yang akan melukiskan karyanya untuk kemudian diabadikan menjadi sebuah bagunan megah. Yah, mungkin tujuan Giska saat ini harus berubah.


"Giska, ini adalah karya pertamamu ... pastikan keputusanku menerimamu tidak menyesal, okay?"


"Siap, pak Dito!! Dijamin client Anda akan suka bahkan pasti membayar lebih ... Anda jangan khawatir," ucap Giska yakin sekali dengan pekerjaannya ini.


Bagi Giska, melakukan segala sesuatu yang disukai adalah suatu hal yang cukup membahagiakan. Sedari kecil dia selalu berusaha menyukai sesuatu sekalipun sulit agar nantinya dia mampu melakukannya.


"Baiklah, beberapa hari lalu saya bertemu dengan client kita. Karena beliau memang sibuk dan istrinya juga tidak punya waktu untuk bertemu secara langsung, dia hanya menjelaskan bagaimana keinginan mereka, kamu ikuti saja karena sudah cukup jelas."


Semakin mudah,Giska mengangguk cepat dan dia yakin betul tugas pertamanya akan benar-benar berjalan lancar. Apalagi, jika client sudah menjelaskan bagaimana kemauannya dengan sangat lengkap.


"Sudah saya rangkum di sini, supaya matamu tidak terlalu sakit ... jangan sampai terlewatkan satupun, bisa dimengerti?"


"Bisa, Pak."


Raut wajah Giska masih baik-baik saja awalnya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian matanya membola begitu melihat penjelasan dari client yang Dito maksudkan. Susah payah Giska meneguk salivanya, kenapa harus begini? Sungguh Giska benar-benar tidak habis pikir.


"Kenapa? Apa ada yang kurang jelas, Giska?" tanya Dito tanpa melepaskannya dari tatapan.


"Ah ... je-jelas, tapi serius sebanyak ini, Pak?"


Giska mengerutkan dahi dan masih sedikit kaget dengan permintaan client yang benar-benar sebanyak itu. Wajar saja mereka tidak ingin bertemu, jika dijelaskan secara langsung mungkin butuh waktu enam jam, pikir Giska.


"Hm, beliau khawatir terjadi kesalahan ... maka dari itu diperjelas, jika ada kesulitan tanya saja pada saya atau boleh minta bantuan Rifky nanti."

__ADS_1


"Baik, Pak."


Tidak ada yang perlu Giska keluhkan. Bisa berada di sini saja dia sudah bahagia, beberapa waktu lalu dia bahkan enggan untuk mencari pekerjaan lantaran merasa cita-citanya sudah tidak berguna.


Cita-cita untuk membangun mahligai impian bersama sang pangeran dengan goresan tangannya sudah benar-benar pupus tanpa sisa. Maka, tentu Giska menjalani pekerjaan kali ini hanya demi karir lantaran sudah telanjur masuk ke dalamnya.


"Detail sekali ...."


Giska menghela napas perlahan, jika dilihat dari susunan kalimatnya, Dito sama sekali tidak merangkum, melainkan hanya menulis ulang perkataan client-nya. Semakin Giska perhatikan, hati Giska semakin hangat entah apa alasannya.


Saya ingin tersedia lift di dalamnya agar istri saya tidak kelelahan jika suatu saat dia hamil.


Tolong sediakan sedikit ruang di halaman belakang untuk menata bunga-bunga karena istri saya sangat menyukainya.


Beberapa kali menemukan poin yang tercatat di sana selalu mengatasnamakan istri. Sebagai seorang wanita Giska benar-benar mengagumi ketulusan pria itu pada istrinya. Lagi dan lagi Giska menemukan wanita yang amat beruntung dan jauh berbeda dengannya.


"Beruntungnya dia," ucap Giska tersenyum getir, sosok pria dalam mimpinya terpampang jelas di depan nyata. Sayang, pria itu bukan miliknya.


Dia terlalu fokus membaca butir-butir kemauan client-nya hingga sama sekali tidak membaca nama sosok suami yang sejak tadi dia kagumi. Yang dia ketahui hanya segera melakukan tanggung jawabnya, Giska tentu harus memberikan yang terbaik karena memang Dito menjanjikan gaji yang cukup besar untuknya.


.


.


"Oh ya Tuhan cari uang melelahkan ternyata." Giska sedang mengeluh, dia menggerakkan lehernya seraya terpejam sebelum kemudian menguap begitu lebarnya.


Bulan pertama bekerja dan Giska sudah dihajar dengan jam kerja yang memang sudah dia duga akan begini. Demi hasil yang maksimal karena karena memang waktunya singkat dan permintaan client cukup banyak tentu Giska harus mengorbankan waktu tidurnya untuk ini.


Dia benar-benar tidak peduli sudah jam berapa saat ini, hingga dering teleponnya sejenak menghentikan fokus Giska. Jemari lemah Giska meraih ponselnya kemudian tersenyum simpul begitu melihat panggilan dari Kenny, sang papa.


"Halo, Pa!!"


"Papa di depan, cepat pulang ... kamu bisa lanjutkan besok pagi, Giska," tutur Keny begitu lembut yang seketika membuat Giska benar-benar merasa diperhatikan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang dia mengakhiri pekerjaannya malam ini, baru Giska sadari jika sudah benar-benar larut. Wajar saja Keny sampai turun tangan, pikirnya. Hari ini Giska berhasil melewati waktu sebagaimana mestinya, dengan senyum yang tak pudar Giska menghampiri Keny yang rela menjemputnya malam-malam begini.


"Papa kok cuma pakai piyama?" tanya Giska mengerucutkan bibir.


"Kenapa memangnya? Ini kan memang sudah malam. Papa harusnya sudah tidur, tapi kamu belum pulang juga. Ya sudah Papa jemput," Jelas Keny seraya memintanya untuk segera masuk ke mobil.


"Tapi setidaknya pakai jaket atau sepatu gitu, Pa," ucap Giska sedikit sebal karena penampilan Kenny begitu berbeda dengan Gavi jika menjemputnya.


"Sudah bisa protes sekarang ya? Dasar anak nakal," tutur Keny seraya mengacak rambutnya pelan sebelum kemudian melaju dengan kecepatan sedang.


Keputusan putrinya yang tiba-tiba bekerja dengan seseorang yang tidak dia kenal secara personal cukup membuat Keny terkejut. Padahal, dengan apa yang Keny miliki sebenarnya Giska tidak bekerja juga tidak masalah.


Dia sudah cukup kaya, Keny juga memiliki beberapa usaha di bidang kuliner sejak lima tahun terakhir. Sekalipun ingin bekerja tentu Keny tidak akan mengizinkan putrinya bekerja sekeras ini.


"Kamu kerja untuk apa sebenarnya? Apa uang papa kurang?" tanya Keny memecah keheningan.


Giska hanya terdiam sesaat sebelum kemudian dia menatap raut wajah Kenny, dapat Giska lihat jika sang papa sedikit keberatan dengan keputusannya.


"Suka saja, Pa," jawab Giska pelan seraya mengulas senyum hangat pada sang papa.


"Suka? Tapi seharusnya tidak perlu bekerja seperti ini, kamu masih bisa menyalurkan hobimu dengan cara yang lain tanpa harus lembur Giska."


"Tidak masalah, Pa ... kalau di rumah terus kepalaku bisa pusing papa kan tahu sendiri aku suka pergi-pergi," ucap Giska setengah bercanda walau mengerti jika Kenny saat ini benar-benar serius.


"Keras kepala sekali putriku ini, didikan siapa sebenarnya? Hm?"


"Hahaha selain keras kepala, aku juga keras hati, Pa," jawab Giska kembali bercanda dan gelak tawanya mendadak tidak Keny suka.


"Giska!! Ada apa denganmu?"


"Hm? Tidak, Pa ... lucu saja, hati keras bagaimana bentuknya ya? Kalau bengkak, iya Giska tahu."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2