Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 32 - Mahligai Impian (Giska End)


__ADS_3

Giska telah menyerahkan diri sepenuhnya, seutuhnya untuk Christ. Pria yang awalnya sempat Giska ragukan, perlahan membuat matanya terbuka bahwa seorang Christ sama sekali tidak main-main. Terbukti dengan caranya menyapa Giska di pagi hari, suara lembut dan senyum yang Christ berikan terkadang membuat hati Giska melemah.


Beberapa waktu pasca menikah, Christ membuat aturan agar Giska tidak bisa keluar dari rumah untuk alasan bekerja. Selain karena dia yang kaya, Christ khawatir jika nanti Giska terlalu lelah. Terdengar berlebihan, tapi tujuan Christ sesungguhnya ialah demi kelancaran impian memiliki keturunan.


Tidak hanya sekadar ungkapan, Christ bahkan merencanakan bulan madu demi bisa benar-benar memupuk perasaan dalam hati Giska. Sebagai orang baru dia sadar betul jika Giska cukup sulit menerima, apalagi mencintainya.


Untuk itu, Christ tanpa pikir panjang membawa sang istri ke sebuah pulau pribadi yang dibeli papanya sejak Christ remaja. Tidak hanya Giska yang menikmati kekayaan Christ, orangtua dan kedua adiknya turut merasakan dampak baik.


Tidak selesai di sana, Christ bahkan membangun rumah baru yang lebih luas dan megah untuk hunian di masa tua Keny dan juga Sonya bersama adik iparnya. Semua benar-benar Christ pedulikan, bahkan hingga hal kecil tidak dia lupakan.


"Kau terlalu baik, Christ."


Keny mungkin terima-terima saja, tapi tidak dengan Giska. Setiap hari, ada saja hal yang membuat Giska tertampar dan merasa malu, terlebih lagi dahulu dia sempat menduga Christ sebagai pria bayaran, kini hidup Giska bahkan bisa dia beli dengan mudah.


"Kewajiban ... mereka orang tuaku juga jadi apa salahnya," ucap Christ yang selalu sama setiap kali selesai memberikan kebahagiaan pada mertuanya.


"Apa Mommy tahu kau boros begini demi orang tuaku?" tanya Giska mendongak.


Pria tengil yang terbiasa membuat Giska naik darah kini menjelma sebagai pria hangat yang selalu merengkuh tubuhnya. Seakan tidak puas dan sama sekali tidak terbatas, Christ tetap memeluk Giska sekalipun di hadapan mertuanya.


"Aku tidak boros, tujuannya jelas, Sayang ... berhenti membahas harta, Giska, apa yang kupunya itu adalah milikmu juga," tegas Christ sekali lagi lantaran memang sejak kemarin-kemarin ucapan Giska selalu sama.


"Tapi tetap saj_"

__ADS_1


"Shut, sampai kapan kau begini? Hm? Berhenti terus merasa tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan, Gis ... aku seperti orang asing jika kau terus begini," ucap Christ menghela napas panjang seraya menepikan anak rambut sang istri.


"Bukan begitu, kau adalah suamiku jadi mana mungkin aku berpikir bahwa kau orang asing, Christ ... tapi maksudku, apa yang kau lakukan memang berlebihan. Tidak semua keinginan Papa harus kau turuti, paham?"


Giska sama sekali tidak merasa begitu, hanya saja dia khawatir kebaikan Christ justru membuat keluarganya tidak suka. Terlebih lagi, dalam satu bulan terakhir Christ telah mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi membelikan mobil baru untuk Keny dan juga Anya.


Sama sekali tidak diminta, Christ bahkan hanya menebak keinginan siapapun yang ada di dekatnya. Mereka cukup mudah tertebak, tapi untuk istrinya dia tetap bingung apa yang benar-benar Giska inginkan.


Christ hanya mengangguk usai mendengar ocehan panjang lebar dari Giska. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Christ berhenti karena ketika Sonya mengatakan ingin memiliki kolam renang, tanpa pikir panjang Christ menuntas kekurangan dari rumah yang dia sediakan untuk mertuanya.


Giska kira agenda Christ hanya membuat orang tuanya yang sampai menganga. Nyatanya wanita itu salah karena beberapa minggu setelahnya Giska dibuat bingung dengan Christ yang tiba-tiba mengajaknya pergi keluar kota tanpa menyebutkan alasannya dengan jelas.


"Kita mau bertemu siapa?"


"Aku pernah bermimpi hidup di tempat seperti ini ...."


"Bersama Gavi?"


Christ tersenyum tipis, tidak butuh waktu begitu lama untuk seorang Christ mengetahui seluk beluk Giska. Melalui sebuah diary Giska yang dia temukan di lemari pakaian paling bawah, pria itu mengetahui begitu banyak hal tentang Giska.


Tentang mimpi dan cinta yang dia utarakan dengan goresan pena, dan juga luka yang mungkin saja dia tulis dengan tetesan air mata. Semua tertangkap jelas oleh Christ tanpa dia perlu bertanya, terlalu banyak mimpi yang sang istri kubur lantaran dipatahkan oleh takdir.


Kini, Christ sama sekali tidak peduli siapa yang Giska jadikan acuan untuk menjadi teman mewujudkannya, Christ tahu memang bukan dia. Namun, sejak awal Christ sudah tegaskan dia yang akan mewujudkan semua mimpi Giska.

__ADS_1


"Maksudmu? Tahu dari mana?"


"Lupakan, yang jelas aku wujudkan ... semua untukmu, Giska."


Tatapan Christ begitu dalam, menelisik bola mata indah Giska yang kini perlahan membasah. Giska kini terpaku dengan air mata yang mengalir di wajahnya, secepat mungkin jemari Christ menyeka air matanya.


"Don't Cry, Honey ... aku tidak mengajakmu menangis." Bukannya berhenti, Giska semakin menangis usai mendengar suara lembut sang suami.


Tanpa Giska ketahui, Christ memahami dirinya lebih dari dia sendiri. Bagaimana bisa Giska tidak meneteskan air mata dikala memiliki pria yang memerlihatkan jika dia cinta secinta-cintanya setelah kemarin terbuang begitu saja.


"Kita akan menghabiskan waktu di sini ... bersama anak-anak kita nanti."


Ingin rasanya Giska meminta agar Christ berhenti bicara karena dia akan terus menangis setelah ini. Akan tetapi, agaknya Christ mengabaikan hal itu dan kembali membuat Giska tenggelam dalam genangan air matanya sendiri.


"Giska Anamary ... bersediakah kau menjadi teman hidupku dan menua bersama di tempat ini?" tanya Christ seraya menggenggam erat jemari Giska.


"Hm, aku bersedia," jawab Giska setelah beberapa saat terdiam lantaran tak kuasa menahan sesak kala menyadari pria ini benar-benar berusaha membalut lukanya.


"Terima kasih atas kesediaannya, masih sama seperti kemarin I love you, Giska Anamary."


"I love you too, Immanuel Christ Wilbert," balas Giska yang berhasil membuat mata Christ kini membola.


...- Tamat - ...

__ADS_1


__ADS_2