Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 22 - Mine


__ADS_3

Fakta laki-laki yang sepertinya memang melekat dalam diri mereka adalah tidak tertebak. Usai melamar Giska hari itu, Christ kembali pergi dengan tujuan yang sama seperti sebelumnya, yaitu Berlin. Namun, untuk kali ini alasannya jelas, Christ pergi ke Berlin lantaran tuan Wilbert tiba-tiba masuk rumah sakit.


Mereka juga tetap saling berhubungan meski tidak bertemu, Christ masih tetap menghubungi Giska lewat panggilan video meski tidak mendapat respon positif dari Giska. Bahkan, dia tetap akan mengulanginya lagi meski Giska sengaja memutuskan sambungan telepon di saat Christ sedang bicara.


Bukan karena jual mahal atau bagaimana, tapi keraguan Giska akan kehadiran laki-laki masih sekuat itu. Penyebab utama jelas karena luka, Giska tidak ingin sakit untuk kesekian kali. Dia belum benar-benar berdamai dengan masa lalu karena luka itu terlampau membekas hingga merusak jalan pikiran Giska.


"Huft, apa dia tidak lelah?"


Dia baru saja keluar dari sebuah restaurant cepat saji malam itu, Giska hanya bisa menghela napas panjang kala membaca pesan singkat Christ yang memberikan ucapan selamat tidur padanya hingga berkali-kali.


Lima hari Christ pergi, tidak ada satupun pesan Christ yang dia balas. Anehnya, pria itu terlihat biasa saja dan masih bersikap sama. Malam ini Giska sedikit tersentuh, tapi egonya telampau tinggi hingga dia mmeilih memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.


Seorang Giska tetaplah Giska, dia masih suka menyendiri menyususri jalanan ibu kota tanpa arah. Baginya, malam lebih jujur dibandingkan siang hari. Cukup lama Giska menyusuri jalanan kota, hingga tubuhnya yang dingin kembali dibuat membeku kala seseorang memeluknya begitu erat dari belakang.


Jantung Giska bergemuruh tak karu-karuan. Dari cara pria itu memeluknya, bisa dipastikan bukan penjahat. Lalu siapa? Giska menerka-nerka siapa yang tiba-tiba memeluknya, apa mungkin Christ? Ya, kemungkinan besar Christ dan tanpa sadar Giska tersenyum tipis.


"Christ?"


Giska berbalik, secepat itu juga senyumnya pudar kala menyadari siapa pria yang telah lancang memeluknya. Pikirannya terlalu picik sampai menuduh pria cabul itu memeluknya, kini dada yang tadinya berdegup tak karuan justru berubah memanas seakan hendak terbakar.


"Apa kabar, Gisk_"


"Lancang!!"


Belum selesai pria itu menyapa, satu tamparan mendarat di wajahnya. Giska mengepalkan tangan, tatapan tajam kini tertuju pada sosok pria di masa lalu yang kini berstatus suami orang itu, Gavi.

__ADS_1


"Giska?"


Gavi yang merasakan panas luar biasa di wajahnya hanya meneguk saliva susah payah. Sama sekali tidak dia duga jika kerinduannya ini akan membawa petaka, Giska benar-benar menamparnya dengan penuh amarah.


"Tidak punya etika, sopan kah kau bersikap seperti ini pada orang asing?" tanya Giska tersenyum tipis, berusaha menunjukkan wajah tegar padahal mata tenang Gavi selalu berhasil membuat hatinya sakit.


"Orang asing?"


"Iya, aku masih menggunakan bahasa manusia ... seharusnya kau mengerti."


Pertemuan itu hanya membuat luka Giska semakin menganga. Bagaimana Gavi yang mengakhiri hubungan kala Giska telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya membuat batin Giska benar-benar tersiksa.


"Maafkan aku, Giska."


Setelah sekian lama, kata maaf itu terucap dengan nada lemahnya. Lagi dan lagi Gavi menahan pergelangan tangan Giska kala wanita itu hendak berlalu, Gavi yang begini hanya membuat Giska benar-benar semakin kacau.


Gavi terdiam, sejak bertemu Giska malam itu hatinya benar-benar tidak tenang. Sungguh, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Sifat Giska yang kekanak-kanakan selalu dan sedikit cerewet tidak bisa dia temukan dalam diri Alana.


Setelah pesta pertunangan Max itu, Gavi bahkan meminta sang istri untuk tetap di Munich dengan alasan ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama, padahal niat sesungguhnya ialah mencari keberadaan Giska.


Giska mencoba berontak, sementara genggaman tangan Gavi semakin erat saja. Pria itu memang gila sepertinya, dia bahkan berani bersikap kasar dan menarik paksa Giska dalam pelukannya.


Keduanya persis bak pasangan yang terlibat pertengkaran hebat. Gavi sama sekali tidak melepaskan Giska sebelum kemudian seseorang menyerang Gavi secara tiba-tiba. Pukulan menghantam wajah dan dada Gavi berkali-kali, bertubi-tubi dan hal itu Giska saksikan sendiri.


"Jadi begini kelakuanmu di belakang Alana? Hah?!!"

__ADS_1


Sama sekali tidak Giska duga, kini Christ hadir dengan wajah penuh amarah. Dia juga mengumpat sembari terus menyerang Christ hingga pria itu benar-benar jatuh lemas.


"Kau dengar, Badjingan ... dia milikku, dan Alana adalah sahabatku. Ada baiknya jangan menyakiti dua wanita ini jika masih sayang nyawamu."


Sebelum lemas, Christ belum berhenti. Tidak peduli meski Giska memintanya berhenti, sama sekali dia tidak peduli. Hingga, Christ beranjak dan menarik Giska untuk segera ikut dengannya. Sudah Christ ingatkan jangan keluar malam tetap saja, calon istrinya ini memang pembangkang ternyata.


.


.


"Sudah kukatakan jangan keluar malam, kenapa masih?"


"Ingin makan ayam," jawabnya yang kini menunduk seraya meremmas jemarinya.


Christ emosi luar biasa, sementara dia tampak biasa saja. Bukan main murkanya, hingga beberapa saat Christ meraih dagunya dan memperlihatkan wajah Giska yang kini membasah, dia menangis dan menepis tangan Christ segera.


"Dia menangis."


Kali kedua melihat Giska seperti ini, Christ yakin seratus persen jika memang Gavi menyebab lukanya. Beberapa saat dia biarkan, Christ hanya menatap air mata Giska yang semakon lama semakin bercucuran.


Hingga, tangis itu benar-benar pecah dan meraung seketika. Tanpa Christ duga, Giska menghambur ke pelukannya. Jelas Christ tidak keberatan, pria itu merengkuh tubuhnya erat-erat. Giska yang kemarin luar biasa keras kini melemah juga, dan dia benar-benar suka.


"Menangislah, Giska ... secepatnya, aku akan menghapus pria itu dari ingatanmu."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2