Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 05 -Dibalik Tirai


__ADS_3

"Ini malam apa ya? Jum'at sih ... tapi bukan kliwon."


Giska menelan salivanya pahit, turun dari taksi kakinya justru mendadak lemas. Dia memang tidak memiliki keberanian untuk melihat ke belakang, tapi Giska seyakin itu dia diikuti sesuatu dari belakang.


Jika di tempat tinggalnya dahulu, mungkin Giska kerap terbiasa dengan mitos terkait jin di malam jum'at kliwon. Hanya saja, saat ini dia tidak sedang berada di tanah kelahirannya. Jelas saja dunia ghaibnya juga ikut berbeda.


"Tenang, Giska ... tidak ada pocong di sini!! Pocong hanya ada di Indonesia tercinta!! Tidak di sini!!"


Lagi dan lagi teriakan Giska disertai pintu yang sengaja dibanting membuat seisi rumah terkejut. Meski sudah terbiasa mendengar teriakan putrinya seakan korban penculikan, Sonya tetap saja khawatir.


"Ada apa, Giska?"


"Hah? Tidak ada apa-apa, Ma ... tidurlah, aku hanya takut," jawab Giska berusaha untuk tenang walau hatinya kacau balau membayangkan sosok makhluk astral yang mungkin saja masih menunggu di luar sana.


"Kamu dari mana?"


"Beli pembalut, yang kemarin habis ... mama pakai ya?"


"Sembarangan, kamu pikir wanita di rumah ini hanya kita saja?"


Perdebatan kecil semacam itu sudah biasa. Kehidupan mereka justru aneh jika tidak ada yang berteriak dari salah satu wanita ini. Jika tidak Giska, maka Sonya. Seperti biasa, keduanya baru berhenti jika Keny sudah ikut campur dan meminta Giska untuk ke kamar segera.

__ADS_1


"Tidur sana, jangan terlalu lama begadang, ingat kata dokter, Giska."


Dokter? Malas sekali jika harus diingat. Sejak putus dari Gavi, tidak ada hal baik yang tertanam dalam diri Giska tentang mereka. Memang tidak seharusnya, tapi jujur saja dia mendadak muak lantaran dahulu Gavi dengan sejuta kelembutan dan merawatnya hingga sembuh hanya omong kosong belaka.


"Iya."


Hanya itu yang Giska utarakan sebagai jawaban. Dia sedikit malas jika Keny kembali membahas tentang penyakitnya. Akan lebih baik jika dia tidak terlalu diperhatikan hanya karena itu, anggap saja Giska enggan terlihat lemah.


Kamar adalah pelarian terbaik Giska, setelah menjalani hari yang cukup melelahkan wanita itu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Kembali menatap langit kamar dengan pikiran yang tak pasti, apa yang sebenarnya dia cari hingga sejauh ini.


Hingga cukup lama, lampu kamarnya masih menyala. Dia yang tidak bisa tidur lebih cepat akhir-akhir ini terbiasa menggerakkan tubuhnya dengan berbagai cara. Sengaja menghidupkan musik demi mengiringi gerakannya.


Tanpa dia sadari, jika dari jarak beberapa meter di bawah sana pemilik mata tajam dengan rahang tegas itu tengah memantaunya. Semua yang Giska lakukan tertangkap matanya meski terhalang tirai.


Pertanyaan semacam itu muncul begitu saja. Christ yakin betul jika wanita itu tengah menghibur dirinya. Semudah itu suasana hatinya berubah, beberapa saat lalu Giska bahkan berlari kecil lantaran mengkhawatirkan sesuatu.


Beberapa kali Christ tersenyum tipis, kemarin Elden sempat menawarkan jasa psikiater untuk mengetahui apa ada yang salah dengan kejiwaannya. Christ menolak, dia enggan dan marah disebut gangguan mental.


Namun, dia yang kini justru betah menjadi penguntit bahkan ikut bergerak di mobil mengiringi gerakan Giska di sana sepertinya membuktikan bahwa dia gila sungguhan.


"Everybody hand's up!!"

__ADS_1


Seakan menemukan dunianya, Christ terbawa suasana. Hingga, dia tersadar kala bayangan Giska menghilang di jendela kamarnya setelah cukup lama. Musik juga tidak lagi terdengar, semua berganti dengan kesunyian hingga Christ mengerutkan dahi.


"Segitu saja? Dia lelah atau sadar aku di sini?" tanya Christ menatap ke arah jendela kamar yang memang masih terihat terang itu.


Khawatir dia akan tersandung masalah, Christ segera berlalu dari tempat itu. Pencariannya cukup sampai di sini, dia sudah mengetahui tempat tinggal wanita yang dia cari. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk modal Christ mendapatkannya.


.


.


Jika Christ menduga aksi Giska berhenti karena menyadari keberadaannya. Yang sebenarnya terjadi justru berbeda, saat ini Giska tengah bersembunyi dibawah selimut lantaran kelakukannya meresahkan sang mama.


"Kamu kira kita hidup di mana? Giska ... coba kamu dengar, tetangga kita apa ada yang dangdutan jam segini? Tidak, 'kan?!" teriak Sonya dengan membawa sapu di tangan kanannya.


Hidup di Jerman tidak membuat jiwa Sonya berubah. Sejak kecil dia dibesarkan di ibu kota dengan didikan keras ayahnya, jelas saja ketika punya anak sikap itu masih dia bawa-bawa.


"Tidur!!"


"Salah terus, padahal cuma dangdutan apa salahnya."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2