Mahligai Impian

Mahligai Impian
BAB 37 - Pulang


__ADS_3

"Aku memintamu untuk pulang, kenapa justru pergi tak tentu arah begini? Kau tahu dimana kakimu berpijak saat ini? Bisa-bisanya ... sudah kukatakan jangan membuat hidupmu semakin menyedihkan, ayolah buka matamu."


Baru saja masuk ke mobil, Gavi sudah membuat telinga Giska sedikit panas. Pria itu tengah meluapkan amarahnya, Giska memang benar-benar tidak dapat dipercaya. Jelas sekali dia pamit pulang pada Gavi, dia sendiri yang menolak untuk diantar dan ternyata Giska jsutru berbohong dan pergi tak tentu arah begini.


"Bodoh jangan keterlaluan, wajar saja Renaga tidak bisa menyukaimu ... lihat Zavia, dari hal itu saja kau bisa menyimpulkan apa sebabnya."


Dia tidak mengenal wanita ini secara personal, dia bahkan tidak tahu siapa nama lengkap dan bagaimana kehidupannya. Akan tetapi, melihat Giska yang menyedihkan begini, entah kenapa Gavi geram sendiri.


"Jangan dipertegas bisa, Dok? Saya juga lagi sedih loh."


Bertahun-tahun hidup Gavi sedikit tenang tanpa peduli dengan perasaan orang lain, kini justru hadir beban hidup tanpa dia duga sebelumnya. Giska yang kini tidak masih tersedu membuat mata Gavi sedikit sakit, sudah berapa lembar tisue dia habiskan saat ini.


"Tahu, mataku tidak buta dan bisa berhenti menangis, Giska? Kau persis balita sumpah."


Gavi memaksa berhenti, Giska mengangguk setelah menghela napas kasar. Pria itu menatap iba wajah sembab Giska yang kini membengkak, bibir pucat akibat dingin dan besar kemungkinan perutnya lapar saat ini.


"Tenangkan dirimu, biar kuantar setelah ini."


Giska mendadak diam, dia tidak ingin pulang malam ini. Sama sekali tidak, sekalipun dia pulang juga mungkin hanya sebatas pintu gerbang.


"Aku tidak mau pulang, Papa masih marah ... jadi antar saja ke minimarket yang bukanya 24 jam."


Gavi sontak mengerutkan dahi, mau apa wanita aneh ini menjadikan minimarket sebagai tempatnya pulang sementara kamar Giska bahkan lebih nyaman.


"Mau apa kau di sana?" selidik Gavi menatapnya curiga seakan Giska akan melakukan hal di luar batasnya.


"Ya an_"

__ADS_1


"Bajumu basah dan dengan penampilanmu yang begini kau mungkin akan berakhir jadi pasien rumah sakit jiwa karena dihamili pria tidak dikenal ... mau?"


Giska yang tadinya sedih bertambah tak karuan begitu mendengar ucapan Gavi. Sejak pertama bertemu memang pria ini kerap mengutarakan hal-hal yang sedikit mengoyak jiwa raganya.


"Maksud Anda apa ya?"


"Ya Tuhan, tidak perlu kujelaskan kau mengerti dengan sendirinya."


"Intinya aku tidak mau pulang, kepalaku sakit Papa marah terus menerus seperti kemarin ... bawa aku kemanapun, asal jangan rumah."


"Ck, anak ini, orang tuamu khawatir bagaimana?" tanya Gavi tak habis pikir kenapa Giska justru semakin menghkhawatirkan begini.


"Tidak akan, mereka tidak peduli denganku sama sekali."


Baiklah, pria itu tidak punya pilihan. Mata Giska benar-benar menunjukkan jika batinnya tertekan andai memang harus pulang. Dia melaju dengan kecepatan sedang tanpa persetujuan Giska hendak kemana. Tidak ada opsi dari Giska yang Gavi jadikan tujuan. Sekalipun dia mengizinkan Giska pulang, itu hanya ke rumah, bukan tempat lainnya,


Selama perjalanan, hanya ada kesunyian di antara keduanya. Hingga, Giska tersadar tujuannya telah selesai kala mereka berada di sebuah lingkungan yang dia ketahui sebagai tempat tinggal orang kaya.


"Kita dimana? Ada minimarket yang buka 24 jam di sini?"


Gavi menghela napas kasar, otak wanita ini memang sedikit berbeda sepertinya. Keputusan untuk membawanya pulang ke Apartemen adalah pilihan paling tepat. Gavi khawatir saja jika wanita ini berkeliaran akan ada berita keesokan hari yang membuat dia menyesal seumur hidup nantinya.


"Dia marah? Aku kan cuma tanya?"


Giska bermonolog sembari mengekor di belakang punggung Gavi. Pria itu melangkah panjang hingga membuat kaki Giska sedikit kesulitan untuk mengimbanginya. Layaknya kucing yang baru ditemukan di tepian jalan, Giska menurut saja kemana arah Gavi.


Sama sekali tidak ada ketakutan dalam diri Giska kala memasuki tempat tinggal pria asing ini. Dia benar-benar mengekor dan menuruti apa kata Gavi. Langkah Giska malam ini membawanya ke sebuah unit apartemen yang cukup mewah dan sangat amat luas untuk dihuni satu orang.

__ADS_1


"Kau bisa tidur di kamarku, ini bajumu ... entah pas atau tidak, tapi aku hanya punya itu."


Atas dasar kemanusiaan, Gavi merelakan kamar utamanya untuk seorang wanita yang dia kenal tanpa sengaja ini. Pria itu juga menyerahkan satu set piyama wanita untuk Giska yang dia ambil dari lemari paling bawah.


"Baju dokter ya? T-tapi kenapa begini, Dok?" tanya Giska seraya mengerutkan dahi, dia khawatir akan menjadi biang masalah lagi.


"Bukan, pakai saja ... orangnya tidak akan marah."


"Ehm pacarnya ya, Dok? Kalau benar punya pacarnya jangan, Dok nanti retak hubungannya."


"Hahahah bukan, pakai saja, Giska ... aku akan siapkan makan malam, lapar, 'kan?" Sebenarnya tanpa dijawab juga Gavi sangat paham wanita itu pasti lapar.


"Iya, saya memang lapar, Dok," jawab Giska jujur tanpa sedikitpun khawatir dinilai tidak tahu malu ataupun sebagaimana di hadapan Gavi.


"Hm, aku tahu itu."


Jawaban Giska sejenak membuat Gavi tersenyum tipis, pria itu menemukan kejujuran dibalik mata indah Giska. Yah, kepolosan anak ini adalah alasan kenapa Gavi tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


"Dok sebentar!!"


"Apa?" tanya Gavi sebelum benar-benar berlalu keluar,


"Terima kasih, besok saya pulang."


"Kemana? Minimarket 24 jam? Atau taman rumah sakit?" tanya Gavi menebak tujuan pulang Giska. Sejak awal melihat wanita itu menjadi sasaran amarah Renaga, Gavi merasa iba. Sebatas iba? Mungkin, tapi entahlah dia bahkan tidak memahami dirinya sendiri.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2