
Cintai pasangan seolah dia akan mati esok hari.
Begitulah cara Zavia mencintainya, pun dengan Renaga. Kisah mereka terlampau rumit, sulit dan juga mengorbankan satu hati yang sakit. Berada di titik ini adalah hal yang dia harapkan sejak lama.
Meski harus terpisah, Giska memutuskan pergi setelahnya. Tidak masalah, Zavia tidak bisa memaksakan semua harus terlihat baik-baik di matanya. Antara cinta dan persahabatan, pada akhirnya memang tidak bisa menyatu secara bersamaan.
Tidak banyak yang Zavia impikan saat ini, cukup berada di sisi Renaga hingga akhir. Dalam keadaan suka maupun duka, Zavia hanya ingin bersamanya.
Penantian panjang keduanya menanti titik temu tidak sia-sia. Renaga benar-benar menjadikan Zavia sebagai wanita sempurna, wanita yang kini berjuang, bertaruh nyawa demi benih Renaga yang kini sudah mendobrak pintu dunia.
Setelah perjuangan panjang, bermandikan peluh dan air mata Zavia memberikan hadiah terbaik untuk Renaga tepat di hari ulang tahunnya yang ke-26. Masih sangat muda jika dibandingkan Keyvan dulu, tapi percayalah sikap Renaga tetap lebih dewasa dibandingkan pendahulunya.
Tidak ada Renaga yang memaksa dimanja ataupun meminta jatah saat istrinya tengah hamil. Jika Zavia tidak meminta atau menawarkan diri, Renaga akan memilih menahan lantaran khawatir istrinya terlalu lelah.
Masih tidak menyangka, setelah perjuangan panjang. Bidadari kecil dengan bobot 3,1 kilogram menyambut dunia dengan tangisnya untuk pertama kali tepat pukul 03:30 pagi.
Didampingi Renaga yang tidak melepaskan genggaman tangan selama proses melahirkan buah hatinya. Zavia bahkan sempat pingsan setelahnya, bukan main khawatirnya Renaga, dia yang selalu mengatakan baik-baik saja pada akhirnya meraung juga.
Tidak hanya Renaga yang berada di rumah sakit sejak kemarin, tapi dua keluarga itu juga demikian. Baik Justin maupun keyvan rela mengorbankan waktu mereka demi kelahiran cucu pertama.
Tidak hanya mereka berdua yang bahagia, Keny juga demikian. Begitu menerima kabar jika putri sahabatnya ke rumah sakit, Keny memastikan setiap satu jam sekali apa bayi Zavia sudah baik-baik saja.
"Cucu pertama kita ... kau lihat, menggemaskan bukan?"
Justin menunjukkan cucunya pada Keny yang kini menganga. Mungkin sudah lama tidak melihat bayi baru lahir hingga dia takjub tanpa henti. Melihat bagaimana putri Zavia, jujur saja Keny ingin segera terbang ke Indonesia.
"Iya, menurut mata batinku cucu kita yang pertama ini akan mewarisi gen playboy seperti Justin dan pemarah seperti Evan."
Mulai, Keny dengan segala teori gila yang dia buat-buat sendiri asal ceplos bicara hingga membuat Zavia mungkin membatin amit-amit seketika.
"Dasar gila, asal sekali bibirmu."
__ADS_1
"Aku serius, Justin ... biasanya prediksiku tidak pernah salah."
"Kali ini kau salah, dia perempuan. Sembarangan kalau bicara," tandas Evan tidak terima dengan ucapan Keny.
Meski keduanya sudah saling menerima, baik Keyvan maupun Justin tetap memiliki ketakutan tersendiri jika keturunan mereka justru mewarisi sifat masing-masing. Padahal, orangtua bayi itu sama sekali tidak berpikir ke sana, yang ada dalam benak mereka hanya kebahagiaan tiada ternilai, itu saja.
"Aih aku yang salah ternyata."
"Iya, sangat-sangat salah," jawab Justin kesal dan sedikit menyesal kenapa juga dia menerima panggilan video dari pria gila semacam Keny.
"Kalian berdua sadar tidak?" tanya Keny seolah sengaja menggantung pertanyaannya.
"Sadar apa?"
"Kita sudah tua, sudah punya cucu ... benar-benar tidak terasa."
Sebuah fakta yang cukup memberatkan seorang Keyvan dan Justin. Kenapa harus dipertegas jika memang sudah tua. "Itu karena Zavia menikah muda, jadi cepat ... belum tua sebenarnya, jika kita pergi ke club malam pasti masih banyak wanita yang suka."
Pembelaan diri yang berhasil membuat Justin mendapat teguran secara langsung dari istrinya. Dia yang menolak tua, berakhir dengan kekesalan sang istri hingga membuat pria itu harus berlari hingga ke koridor rumah sakit.
Renaga hanya tertawa sumbang begitu menyadari jika perang dunia kedua orang tuanya sudah dimulai sejak tadi. Dia yang hanya fokus dengan buah hatinya tidak memikirkan hal lain, termasuk percakapan mereka bertiga.
.
.
Selang beberapa lama, tepat tengah hari Fabian didampingi Azkara baru datang dengan membawa bunga mawar putih yang membuat kening Renaga mengerut. Mau apa manusia itu memberikan hadiah romantis pada istrinya, pikir Renaga.
"Selamat atas kelahiran bayimu, Zavia ... maaf baru datang, aku baru pulang dari Malang."
Fabian memeluknya tanpa permisi, tadi malam pria itu sempat kecelakaan ketika Azkara menghubunginya bahwa Zavia di rumah sakit. Bukan karena dia masih memiliki perasaan, tapi memang dia begitu menyayangi sahabatnya ini.
__ADS_1
"Aku pikir tidak datang, kamu ke Malang ngapain?"
"Ada urusan, biasa laki-laki."
Tanpa dia sadari jika kini Renaga seakan hendak menelannya bulat-bulat. Tampaknya Fabian memang belum jera jika belum Renaga hantam dengan bogem mentah.
Renaga berdehem dan membuatnya sontak menjauh, tapi tetap saja bunga yang sempat dia beli itu diserahkan pada Zavia.
"Untuk putrimu, bukan kamu."
"Halah, bisa saja kau, Bian. Padahal sebenarnya untuk Zavia, 'kan?" tuduh Renaga sama sekali tidak bisa berprasangka baik pada Fabian, sungguh.
"Astaga, demi Tuhan memang untuknya ... ah lucu sekali, kenapa kamu harus perempuan. Nanti kalau mirip Mommy-mu siap-siap jadi jodoh Uncle ya, Sayang."
Zavia hanya tertawa pelan mendengar celotehan Fabian yang seakan tidak peduli dengan tatapan mata Renaga. Bukannya minta maaf, dia justru kembali cari perkara dan hal itu jelas saja berhasil membuatnya mendapat pukulan di pundaknya.
"Aaargghh sakit!!" Fabian meringis, padahal tidak sekeras itu Renaga memukulnya.
"Kau bicara apa?"
"Kakak dengar sendiri aku bicara apa? Perlu kuulangi?" tanya Fabian santai dan memang sudah terbiasa menghadapi amarah Renaga yang tidak terduga itu.
"Jangan harap, aku tidak akan pernah merestuimu jadi jodoh putriku, Bian."
"Aih, tidak masalah dong ... Kakak sudah dapat Mommy-nya, putrinya untukku masa tidak boleh. Benarkan, Azkara?"
"Terserah kalian saja lah, seakan tidak ada perempuan lain ... berkembang sedikit apa salahnya, cari jodoh di situ-situ saja, payah."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -