
Renaga Anderson
Dalam keadaan apapun, Tuhan seakan menguji Giska secara terang-terangan. Satu bulan penuh, dia mengorbankan waktu istirahatnya demi melanjutkan tanggung jawab. Bukan hanya karena profesional, melainkan demi nama seseorang yang akan menempati hunian yang dia rancang itu.
Sama sekali dia tidak menduga jika sosok pria yang dia kagumi lantaran begitu mencintai istrinya adalah Renaga. Sementara wanita yang sangat beruntung itu adalah Zavia, sejak dahulu dia ketahui bahwa Zavia memang wanita paling beruntung menurutnya.
Tapi tidak masalah, anggap saja kado terakhir yang mampu dia berikan. Selama mereka menikah, Giska sama sekali belum pernah memberikan ucapan selamat. Padahal, bukankah sebagai sahabat dia harus memberikan kado istimewa untuk sahabatnya itu.
"Kamu pucat sekali, jangan terlalu dipaksa, Giska."
"Kenapa masih dijemput, sudah kukatakan tidak perlu, Bian," ucap Giska menatap Fabian yang benar-benar keras kepala dan masih terus menjemputnya walau sudah ia tolak.
"Sekalian, kebetulan aku lewat sini," tutur Fabian tanpa peduli bagaimana kesalnya Giska saat ini.
Tampaknya dia memang tidak dapat menghindar lagi, Giska menerima helm yang Fabian berikan padanya. Rasa bersalah Fabian adalah alasan kenapa pria itu kembali peduli padanya seperti dahulu.
Keduanya menikmati perjalanan malam hari dengan pikiran yang sama-sama melayang ke arah berbeda. Giska menatap nanar jalanan luas tanpa arah, kepalanya yang mendadak sakit membuat Giska bersandar di bahu Fabian.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Fabian yang kemudian hanya Giska jawab dengan gelengan kepala.
"Woi, Giska dengar tidak?" pekik Fabian kemudian menggoyangkan bahunya hingga membuat Giska memperbaiki duduknya seketika. Benar-benar pria yang tidak dapat diandalkan pikirannya.
"Kenapa sih? Cuma pinjem sebentar juga," kesal Giska yang kemudian menepuk pundak sahabat kecilnya.
__ADS_1
"Jangan tidur makanya, kalau nanti jatuh gimana?" tanya Fabian setengah berteriak sebelum kemudian mengurangi kecepatan agar bisa mendengar dengan jelas ucapan Giska di belakangnya.
"Berisik, kalau gini mending aku minta jemput papa saja," pungkas Giska yang merasa Fabian sama sekali tidak membantunya.
"Jangan tidur pokoknya, mending kamu cerita hari ini gimana."
"Malas, kamu tanya saja, Bian nanti aku jawab."
"Design kemarin gimana? Sudah selesai belum?" tanya Fabian penasaran kenapa bisa Giska menyelesaikannya cukup lama padahal rancangannya tidak mendapat perbaikan atau hal lain.
"Namanya juga proses tidak bisa secepat itu dong, lagi pula kali ini sedikit rumit jadi aku harus teliti dan jangan sampai ada yang tertinggal satupun."
Giska tengah mengeluhkan resikonya bekerja untuk kali ini. Fabian hanya terbahak mendengar keluhan Giska tang sepertinya sangat amat lelah.
"Ada, dokter Gavi baik-baik saja kenapa? Kamu sakit?" Giska balik bertanya dan hal itu benar-benar membuat Fabian menyesal bertanya.
"Bukan begitu, Giska."
"Hahaha iya tahu, tidak ada yang begitu ... hubungan kami biasa-biasa saja, Bian."
"Masa?"
"Sumpah, kalau tidak percaya blokir saja nomor papaku," canda Giska yang lagi-lagi membuat membuat Fabian ingin menguburnya hidup-hidup.
__ADS_1
Cukup lama mereka menghabiskan malam di jalanan. Seperti kebiasaan Giska dan Fabian sewaktu remaja memang kerap kali mencari jalan lebih jauh agar waktu mereka lebih banyak untuk bersama.
"Masuklah, aku mau langsung pulang," ucap Fabian ketika Giska baru saja turun dari motornya.
"Siapa juga yang mengajakmu masuk," balas Giska santai sebelum kemudian benar-benar berlalu ke dalam rumahnya.
"Giska tunggu!!"
"Apa?"
"Beberapa hari lalu aku bertemu Zavia, dia ingin bertemu denganmu jika ada waktu." Sebenarnya tidak persis begitu ucapan Zavia, hanya saja Fabian yang mengetahui inti dari permasalahannya mengambil kesimpulan bahwa Zavia ingin bertemu Giska dalam waktu dekat.
"Nanti sajalah, aku masih sibuk sekarang, " jawab Giska yang sebenarnya memiliki keinginan sama, tapi tidak butuh beberapa saat untuknya mampu berucap.
"Kapan tidak sibuknya?" tanya Fabian memastikan dan dia ingin mengatakan hal itu pada Zavia nantinya.
"Dua atau tiga hari lagi mungkin."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1