
Belum apa-apa mata Zavia sudah mengembun. Dia tersentuh, hatinya seakan menghangat begitu menatap isi kotak itu. Selain sebuah boneka pinguin untuk Aruni, terdapat pula surat dan tumpukan kenangan yang Giska tata sejak lama. Ya, Zavia yakin itu adalah beberapa tentang Renaga yang dahulu dia jaga dan masih tersisa.
Giska mengembalikan semua hal tentang Renaga yang dia kumpulkan sejak remaja. Foto-foto Renaga yang dahulu sempat dia kumpulkan setiap harinya, kamera dan juga ponsel juga benar-benar dia berikan.
Bak membuka album semasa hidup sebelum pergi ke luar negeri. Renaga seakan kembali pada masa itu. Masa dimana dia yang kerap mengalihkan pandangan dan menepis ponsel Giska lantaran gadis tengil itu selalu mencuri kesempatan untuk mengambil fotonya.
"Dasar bodoh, dia kurang kerjaan atau bagaimana sampai sebanyak ini."
Renaga menggeleng pelan begitu melihat berpuluh lembar fotonya di lapangan. Sudah lama dia tidak bertarung di lapangan hingga keringat membasahi bajunya begitu.
Tidak hanya foto Renaga sendiri, foto mereka berempat juga ada di sana. Mereka yang masih begitu manis, tidak pernah terpikirkan sama sekali jika ada satu hati yang hancur tak berbentuk setelah dewasa.
Usai dengan foto, Renaga mulai membuka surat dari Giska. Surat yang nyatanya dia tulis tepat di satu hari setelah Zavia dan Renaga menikah. Dari tanggalnya memang benar demikian, Zavia meminta Renaga membacanya sedikit keras.
Hai, Zavia ... selamat atas pernikahanmu. Kita selalu bersama sejak kecil, memiliki banyak kesamaan. Bahkan, kita mencintai orang yang sama. Lucu ya, Via? Aku terlalu egois dan tutup mata saat kamu juga mencintai kak Aga. Sakit awalnya, tapi aku sadar diri bahwa yang Aga inginkan adalah kamu, bukan aku.
Hanya cuitan singkat, selamat, Via ... kamu wanita terpilih yang akan mendampinginya. Terima kasih atas kebaikanmu, ketulusanmu dan kasih sayangmu sebagai sahabatku. Aku sangat bahagia, penantianmu selesai. Segera dihadirkan momongan, Zavia ... aku ingin jadi aunty segera. - Jakarta, Rabu 12 Februari 20:45 WIB ~ Giska Anamary
"Kak?"
Renaga menatap mata sang istri yang kini sudah membasah. Tulisan itu membuat Zavia seakan dihantam ribuan anak panah. Dia bersedih karena Giska seakan tidak peduli di hari pernikahannya, nyatanya Giska menulis dalam kesendirian dan bisa dipastikan dia menangis untuk menyelesaikan secarik kertas itu.
__ADS_1
"Jangan menangis, nanti Aruni ikut menangis, Via."
Tidak, Zavia tidak akan mampu menahan tangisnya. Hanya surat dia sudah begini. Melihat Zavia yang menyedihkan itu, segera Renaga mengambil alih bayinya. Benar saja, ketika tidak lagi memeluk Aruna, Zavia menyeka air mata yang turun lebih brutal dari sebelumnya.
"Lanjut baca lagi? Kalau tidak kuat, tutup saja kado ini."
"Lan-lanjut," jawab Zavia bahkan sesenggukan saat ini, hidungnya bahkan seakan penuh dan kini mendadak flu.
Renaga sedih juga sebenarnya, tapi bukan berarti semudah itu akan meneteskan air mata. Renaga meghela napas panjang, dia membuka amplop satunya. Kelihatan berbeda, dan tulisan tangannya bukan milik Giska.
Hai ... Fabian di sini. Rumit sekali kalian bertiga, aku bahkan sampai panas tinggi melihat semua ini. Jujur, aku bingung sekali dengan semua ini. Beberapa bulan lalu, sebelum Giska pamit ke Zurich, dia menyerahkan kotak hadiah ini padaku. Dia berpesan, andai nanti Zavia melahirkan, maka aku harus memberikannya pada kalian. Kenapa tidak dari dahulu? Hm, jawabannya karena dia ingin mengucapkan sesuatu untuk kalian jika saat itu sudah tiba, dan semalam dia mengirimnya. Aku sudah simpan di flashdisk yang ada di amplop warna pink. Silahkan dibuka, dan selamat melepas rindu. Kalian mungkin terkejut melihat Giska, sama aku juga. - Fabian Alexander.
Sudah Renaga duga, jika Fabian adalah pemegang rahasia terbesar di antara mereka. Pria itu hanya menggeleng pelan usai membaca surat dari Fabian yang dia perkirakan ditulis tadi malam.
"Siap?"
"Siap, Kak," jawab Zavia yang kini kian mendekat hingga menempelkan wajahnya ke bahu Renaga.
Hening sesaat, sembari menunggu video itu dimulai jantung Zavia sudah berdegub tak karu-karuan. Zavia menarik sudut bibirnya begitu tipis kala wajah Giska dia lihat begitu jelasnya.
"Haaa Giska."
__ADS_1
Jangan ditanya bagaimana kerinduan Zavia. Tentu sangat rindu sekali, terakhir Zavia berkomunikasi ialah beberapa hari setelah pamit ke Zurich, setelah itu tidak lagi. Kini, Giska semakin terlihat cantik dengan rambut pendek yang sangat berbeda dengan dirinya dahulu.
"Hai ... Zavia!! Cukup lama aku tidak menghubungimu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja layaknya aku di sini. Aku dengar dari Bian, kamu sudah punya baby ... aku benar-benar jadi aunty. Sedikit drama, semoga kamu tidak membenciku."
"Aku memberikan beberapa hadiah, kenangan itu kamu saja yang simpan, Zav. Anggap sebagai hadiah pernikahan, selain itu memang hanya kamu yang berhak memilikinya."
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, keluargaku dan juga sahabatku. Bahagia selalu, Zavia ... titip salam untuk kak Aga. Bye, Zavia ... sampai jumpa di titik terbaik menurut takdir, sarangbeo!! Jangan nangis, aku tahu kamu pasti nangis lihat video ini."
Jangan menangis, tapi terlambat karena saat Zavia menangis tersedu-sedu menonton video singkat dari Giska. Air matanya tumpah, hidung Zavia benar-benar dibuat sulit bernapas akibat wanita tengil itu.
"It's okay. Jangan menangis, dia baik-baik saja ... kita harusnya besyukur bukan?" Renaga kini mengusap puncaknya perlahan.
Syukurlah, Giska terlihat lebih baik. Sangat baik sekali, Renaga juga bersyukur dia berada di titik itu. Setidaknya apa yang dia lakukan tidak sia-sia. Renaga mengecup kening Zavia begitu dalam, berkali-kali sembari sabar menunggu istrinya tenang.
"Jangan menangis, nanti kita akan bertemu dengannya, Sayang."
"Kakak tahu dari mana?"
"Bukankah Giska sendiri yang berjanji? Sampai jumpa di titik terbaik menurut takdir, kita tunggu saja saat itu. Sama seperti saat Tuhan menyatukan kita berdua, bisa percaya padaku, Azkayra Zavia Qirany?"
"Hm, bisa ... aku sangat percaya padamu, Renaga Anderson."
__ADS_1
...Season Satu Tamat...