Mahligai Impian

Mahligai Impian
Season Dua - BAB 16 - Lupakan?


__ADS_3

Jika ditanya apa yang paling cepat berubah, maka Giska akan menjawab mungkin suasana hati Christ. Beberapa saat lalu dia bahkan bercanda pada Alana yang ternyata adalah teman dekatnya sewaktu kuliah. Kini, Christ kembali bungkam sembari fokus dengan kemudinya.


Tidak mau kalah, Giska melakukan hal yang sama. Dia juga ikut bungkam, menikmati udara dingin malam ini. Sengaja membuka kaca jendela, Giska merasa suasana di dalam mobil tetap panas. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama karena kini Christ menutup paksa kaca jendela hingga Giska berdecak sebal.


"Dingin, kau ingin membuatku mati kedinginan atau bagaimana?"


Sama, satu hal yang mmebuat Giska sedikit banyak merasa tidak asing. Ada beberapa bagian dari hidup Christ yang mengingatkannya pada Renaga, pria yang menjadi cinta pertama. Tepatnya sosok kakak yang tentu sangat dia sayangi untuk saat ini, sikap Christ yang justru membuat rindunya akan sosok itu terobati sejenak.


"Duduk yang benar, aku tidak tertarik dengan punggungmu."


Giska mencebik, kenapa dia jadi secerewet itu. Padahal sudah minta maaf berkali-kali. Lagi pula, bukankah ciuman adalah hal yang wajar dilakukan oang-orang di sini? Sungguh Giska tidak habis pikir dengan sikap culas Christ yang mendadak keluar semua.


"Begini?" tanya Giska yang sepertinya benar-benar cari perkara.


Christ sedang tidak ingin bercanda, dia bahkan hancur setelah Giska mempermainkannya. Tapi anehnya, Giska justru seakan tidak memiliki masalah apa-apa. Christ menepi sesaat, dia menatap tajam Giska yang kini sedang duduk menghadap ke arahnya.


"Giska, apa wajahku sedang mengajak bercanda sekarang?"


"Aku juga tidak bercanda, aku sudah merubah posisiku apa salahnya?"

__ADS_1


"Menghadap ke depan, atau kau ingin mengulangi ciuman kita sebelumnya?" Christ bertanya penuh ancaman yang kemudian berhasil membuat Giska memperbaiki posisi duduknya.


Selang beberapa lama, keduanya tiba di depan rumah Giska. Hunian yang tampak hangat andai Christ diizinkan masuk ke dalamnya. Namun, sepertinya itu hanya mimpi belaka karena biasanya wanita ini mengajak masuk ke halaman rumahnya saja tidak.


"Christ, aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi ... aku tidak bermaksud mempermainkanmu, sungguh."


Sebelum permintaan maafnya Christ terima, mungkin wanita itu akan terus mengucapkannya. Sejak tadi sudah diizinkan pergi, tapi Giska belum beranjak juga. Dia merasa bersalah, hal itu lebih fatal dibandingkan salah menduga terkait pekerjaan Christ.


"Jangan dibahas ... apapun alasanmu, kau tetap mempermainkanku."


"Aku tidak akan turun sebelum kau menerima maafku, kesalahanku banyak sekali. Terkhusus yang tadi aku mohon lupakan dan anggap tidak pern_"


Tanpa Giska duga, Christ justru melakukan hal gila yang membuatnya tidak mampu berkutik. Pria itu tiba-tiba menghimpit tubuh Giska yang kini dia buat berbaring di kursi samping kemudi, teramat sempit sekalipun mobilnya sangatlah mewah.


"Kita lihat apa mungkin kau akan mampu melupakan yang satu ini," bisik Christ seraya menelusuri leher Giska dengan kecupan kasar, tapi penuh perasaan.


Giska berontak, tapi kala Christ menggunakan tenaganya wanita itu memang tidak berdaya. Tangannya terkunci, Christ memang memiliki seribu cara melumpuhkan wanita jika memang dirinya sudah berkehendak.


Mulut Giska terhalang tangan kekarnya untuk berteriak. Giska tidak ingin berakhir begini, dia takut dan pikirannya sudah sejahat itu. Terlebih lagi kala Christ merobek gaunnya hingga memperlihatkan tubuh polos bagian atasnya.

__ADS_1


Christ tidak bercanda, seperti yang dia duga pria ini memang berbahaya. Tangisan Giska justru membuatnya semakin tertantang, dia tidak sesabar itu mendapatkan wanita. Jika dengan cara ini tidak berhasil juga, maka bisa dipastikan ada sesuatu yang salah dalam diri Giska.


Tatapan penuh harap Giska sama sekali tidak membuat Christ kasihan. Dia hanya tersenyum tipis seraya menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat. Christ hanya tidak suka kala Giska mengatakan akan melupakan ciuman itu. Padahal, selama ini tidak ada satu wanita pun yang berhasil melupakannya.


"Berteriaklah, kau bebas sekarang ... tapi apa kau siap ditemukan dalam keadaan begini? Kau sudah tahu siapa keluargaku bukan? Sekalipun aku bersalah tidak ada hukum yang bisa menjeratku, tapi kau dan juga seisi rumah itu yang sudah siap menanggung malu?"


Licik sekali, Giska sesenggukan mendengar ancaman Dari Christ yang bahkan sengaja menyeret orang tuanya untuk membuat Giska lemah. Hal itu berhasil membuat Giska benar-benar bungkam sekalipun Christ tidak lagi menutup mulutnya.


Masih dengan tatapan penuh damba, Christ tersenyum tipis sebelum kemudian mengecup bibir tipis Giska. Dia melakukannya sangat berbeda, andai Giska tahu bagaimana cara Christ memperlakukan wanita sebelum ini mungkin dia akan bersyukur setiap kali.


Tangan Christ semakin tak terkendali, hingga Giska benar-benar berteriak kala Christ menelusupkan tangan ke bagian intinya. Dia menggeleng cepat dan meminta Christ berhenti sebelum terlalu jauh.


"Christ ... No ... jangan lakukan!! Aah Papa!!"


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2