
Gita dan Sisil menggandeng tangan Firda dari kiri dan kanan, tingkah laku keduanya justru membuat seakan Firda seorang narapidana yang selalu dipepet agar jangan sampai kabur. Firda tersenyum jengah diperlakukan seperti itu.
"Kalian ini kenapa sih? Lepaskan tanganku! Aku mau ke kantin, mau makan lapar tau nggak?" ucap Firda judes menghempaskan kedua tangannya dari pegangan Gita dan Sisil, dia berjalan cepat mendahului mendahului kedua temannya.
"Maaf, Fir! Kami nggak tahu kalau kejadiannya seperti itu, pantesan ayang Bagas terlihat jutek gitu waktu kami datang pagi tadi." ucap Sisil lebay.
Sisil dan Gita mengambil tempat duduk di depan Firda, membiarkan Firda duduk seperti seorang ratu. Mereka berdua juga yang sibuk memesankan sepiring mie goreng instan dengan telur ceplok diatasnya, ditambah sedikit potongan rawit. Juga memesan minuman segar agar bisa mendinginkan kemarahan Firda.
Karena apapun makanannya, minumnya tentu saja minuman sejuta umat, teh manis es.
Firda tersenyum sinis dilayani oleh kedua temannya, nggak salah dia tadi pura-pura judes. Padahal dinikahi oleh Bujang juga nggak buruk, enak malah.
Setiap tangannya menadah minta uang, langsung dikasih walaupun tetap saja ada pesannya supaya jangan boros.
Mau bobok malam, ada yang ngajak ngobrol. Anget lagi, jiaaa...Apa nggak enak tuh.
Memang sih usia bang Bujang sudah kematangan untuk Firda, tapi kan ganteng-ganteng macho, bukan ganteng-ganteng serigala. Kalau itu mah, Firda ogah.
Badan bang Bujang juga oke. Apalagi kalau sudah berdua saja di dalam kamar, rasanya gimana gitu...Tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, walaupun belum diapa-apain.
Selama ini Firda kan belum pernah berdua-duaan sama pria di tempat gelap dan sepi, nah...Tiga malam ini dia sudah rasa tuh, bagaimana berduaan di tempat yang gelap dan sepi. Nggak pakai ada jantung yang berdetak kencang karena takut di grebek warga, anteng aja. Asooyy....
"Jadi, yang dimaksud Raka kau menginap di istana negara itu di rumah bang Bujang?" Gita mulai kepo.
"Memang Raka bilang gitu?"
"He-eh."
"Iya, sudah dua malam aku tidur di rumah pondok mertua indah."
"Terus, kau diapain sama si Bujang lapuk itu?"
Sisil nggak ada akhlak. Sudah tahu sekarang Bujang jadi suami temannya, masa' masih dibilang Bujang lapuk.
"Dia nggak lapuk lagi, kan sudah nikah, lupa kalau aku istrinya?" ucap Firda masih sewot.
Sisil dan Gita saling bersenggolan memberikan isyarat agar siapa diantara mereka berdua yang berani menanyakan sesuatu yang ada dikepala mereka masing-masing.
"Apa orang tuamu dan orang tua bang Bujang nggak tahu kalau kemarin itu cuma ngeprank?"
Sisil bertanya sembari nyengir, dia ingat bahwa itu adalah ide dari dirinya.
"Tahu lah, memangnya Abah percaya anaknya bakalan melakukan perbuatan dosa kaya' gitu?"
__ADS_1
"Orang tuamu sendiri?" Sisil bertanya lagi, Gita masih setia sebagai pendengar.
"Semula percaya, wong bang Bujang meyakinkan dengan serius kalau aku sedang mengandung anaknya. Ya sudah, malam itu kami langsung dinikahkan."
"Enteng bener kau bicara seperti nggak ada beban, memang nggak takut kau sama bang Bujang? Nanti kalau kau diajak main dokter-dokteran gimana? Bisa hamil beneran lho." Gita merinding membayangkan jika dia yang digerayangi, sampai bulu-bulu halus di seluruh permukaan kulitnya meremang.
Firda acuh saja, dia makan dengan lahap. Kan gratis, Sisil dan Gita yang bayarin sebagai permintaan maaf
"Pantesan banyak ibu-ibu yang ngobrol kalau bang Bujang juga nikah hari itu, nggak mau kalah dia dengan Mawar yang back to mantan suami. Rupanya dia menikahi dirimu, gimana rasanya?" bisik Sisil, kuatir seisi kantin mendengar obrolan aneh mereka.
"Gurih, enak seperti biasa."
Gita dan Sisil sampai lupa mengunyah mie yang ada didalam mulutnya mendengar dua kata gurih dan enak, mie yang sudah berada di dalam mulut dengan pasrah kembali jatuh ke piring.
"Kau nggak takut?" Sisil semakin penasaran.
"Ngapain takut?" Firda tetap cuek menjawab.
"Nggak sakit? Kata orang-orang kan kalau pertama di gitukan sakit sekali sampai nggak bisa berdiri, memang seperti itu, Fir?"
Firda mendongakkan wajahnya menatap Sisil dan Gita secara bergantian, karena dari tadi pandangannya terus tertuju pada mie goreng di piringnya.
"Kalian ini sebenarnya tanya apa? Rasa mie goreng ini kan?" tunjuk Firda pada piringnya yang sudah kosong, Sisil menepuk jidatnya. Gita memutar bola matanya malas.
Sisil kalau ngomong memang gampang ya?
"Enak sekali kau bicara? Kau kira aku dan bang Bujang nggak punya orang tua dan keluarga? Tinggal batalkan pernikahan karena aku nggak hamil? Ckckck." Firda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berarti kau sudah di gitukan ya? Gimana rasanya?" Gita jadi ikut penasaran.
Firda menatap wajah kedua temannya dengan seksama, muncul ide usil di kepalanya.
"Rasanya...Ajiiipp. Kalau tidak memikirkan mau ke kampus, aku nggak mau keluar dari kamar. Kekepan terus, hangat-hangat empuk sih." ucap Firda terkekeh sambil cepat-cepat menutup mulutnya, kuatir dia akan tertawa ngakak dan ketahuan kalau dia berbohong.
Hangat sih iya, kalau empuk...Kasur ya Fir?
Gita dan Sisil sampai menelan salivanya, kelihatan kalau keduanya jadi kepengen. Tapi entah kepengen apa.
"Fir,"
"Sudah, kalian tidak perlu banyak bertanya! Percuma juga aku cerita, kalian tidak akan bisa membayangkannya. Kecuali kalian punya suami juga, ayok balik ke kelas!" Firda menggeser kursi, berjalan duluan meninggalkan Sisil dan Gita yang jiwanya masih belum terkumpul di karenakan pikiran keduanya masih melanglang buana memikirkan ucapan Firda barusan.
...*****...
__ADS_1
Sampai di rumah Abah, rumah dalam keadaan sepi karena Abah dan Umi sedang sangat sibuk untuk mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan resepsi yang akan diadakan dua Minggu lagi.
Abah, Umi, Ibu dan Ayah sudah bertemu dan berbicara, termasuk Bujang. Hanya Firda saja yang tidak di ajak berembuk karena dia dikampus, lagipula Firda hanya terima bersih tidak mau ikut repot.
Firda tinggal duduk manis setelah didandani, sudah seperti boneka pajangan saja. Lagi pula percuma juga dia diajak bermusyawarah, palingan nanti buntut-buntutnya dia minta ponsel yang sudah di jual oleh Bujang.
"Fir, Umi tadi menitipkan kunci rumah!" ujar tetangga sebelah rumah datang menyodorkan kunci rumah ketika melihat Firda yang celingak-celinguk nggak tahu mau bertanya pada siapa.
"Eh, iya, Tan, terimakasih." Firda tersenyum ramah sembari mengambil kunci rumah.
"Gimana jadi istri Bujang, enak nggak?"
Pertanyaannya aneh?
Firda cuma tersenyum manis lalu mengangguk.
Sebelum ada pertanyaan susulan yang membuat Firda semakin tidak mengerti dan susah menjawabnya, Firda buru-buru membuka pintu rumah.
Bujang biasanya akan pulang menjelang senja, jadi Firda memutuskan untuk tidur saja mumpung masih siang. Keadaan rumah yang sepi membuat Firda langsung jatuh ke alam mimpi.
Dengan matanya yang terus terpejam, bibir Firda senyam-senyum sendiri.
Di dalam mimpinya, Bujang mencium lembut kedua kelopak matanya, lalu pindah ke kedua pipinya, setelah itu merambat ke hidung. Firda jadi nggak sabar menunggu Bujang mendaratkan bibirnya yang suka bawel menasehati dirinya itu mendarat di bibirnya sendiri, seperti drama-drama romantis yang pernah ditontonnya.
Firda sudah mengerucutkan bibirnya siap mendapatkan ciuman pertamanya, tapi bibir Bujang nggak juga sampai. Yang ada justru dia merasakan bibirnya sedikit perih karena di gigit bukan karena di cium mesra, Firda sontak terbangun.
"Abang?" pekik Firda terkejut langsung terduduk, Bujang juga memperbaiki posisi badannya duduk dengan baik.
"Kenapa pintu nggak di kunci? Nggak takut kalau ada orang yang masuk? Apalagi kalau kamu tidur itu sudah seperti mayat?"
"Ya elah, Bang, hobi bener ngomel. Perasaan tadi sudah aku kunci." bela Firda sambil mengusap-usap bibirnya yang masih menyisakan rasa sakit.
"Itu cuma perasaan kamu, tapi nyatanya nggak. Alhamdulillah Abang cepat pulang, firasat nggak enak saja memikirkan kamu sendiri di rumah. Sudah sholat belum?" tanya bujang sembari melihat petunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dia yakin Firda belum sholat ashar.
"Ini masih masu sholat." sahut Firda sambil bangun.
"Tadi itu mimpi atau beneran ya? Tapi kok sakitnya beneran sih?" gumam Firda sambil berjalan masuk ke kamar mandi, jemari tangannya mengusap bibirnya sendiri.
Bujang yang mendengarkan gumaman Firda tertawa tanpa suara.
...****************...
__ADS_1